Ada apa dengan Euro?

Jika pecinta film Indonesia bulan-bulan terakhir ini diharu biru dengan film garapan ‘Ada apa dengan Cinta?’ Namun satu hal yang menarik  bagi masyarakat Jerman paling tidak dua minggu ini adalah disibukkan berondongan email berantai, entah dari siapa awalnya, yang diposting dengan judul Euro ist Teuro. (-red. Euro adalah Teuro;  teur = mahal) atau Euro-Boykott am 1. Juli 02. Satu fenomena betapa tancapan Euro dalam kurang lebih enam bulan ini membuat kelimpungan masyarakat Jerman. Nilai Euro yang menjadi sebab musabab berkurangnya daya beli mereka. Dari posting email yang banyak diforward tersebut mangambil contoh harga Es cream (Kugel Eis) yang sewaktu masih menggunakan DM (Deutsch Mark) hanya berharga 1,2 DM, namun sekarang dijual hampir  € 1 (kurang lebih 1,9553 DM). Menyimak illustrasi diatas maka sepertinya banyak hal yang patut mendapat perhatian dari kehebatan Euro yang seakan tanpa membawa ‘korban’. Beberapa catatan perjalanan Euro menuju enam bulan menarik untuk dicermati. Minimal mencari jawaban atas pertanyaan:  ada apa dengan Euro?

Euro ist  (kein) Teuro: ujian bagi Euro?

Seperti yang diprediksi oleh banyak pengamat bahwa Euro sebagai produk uni moneter dari  12 negara Eropa, dengan sendirinya kehadirannya mempunyai beberapa implikasi logis terhadap tumbuh kembangnya pasar uang dunia maupun pasar uang lokal.  Namun sayang kehadiran Euro yang diharapkan menjadi ‚pesaing’ $ US yang masih menjadi ‘the currency of anchor’ dunia masih terus mengalami ujian di dalam euro zone, minimal kegelisahan masyarakat Jerman mewakili perkembangan euro selanjutnya.

Fenomena mahalnya barang disebabkan oleh mata uang baru Euro ini menjadi headline majalah terkemuka Jerman ‘Der Speigel’ edisi Mei 2002 dengan tajuk ‘Drastischer Preisanstieg bei Alltagsgütern’. Bahkan ada dalam edisi Spigel-TV juga menyajikan judul ‘Volksaufstand gegen den Euro’ yang menggambarkan satu spot clip bagaimana harga karcis parkir naik 56%.  Namun demikian Kantor Statistik Federasi Jerman  (Statistische Bundesamt) menyangkal bahwa kenaikkan barang-barang disebabkan oleh mata uang baru. Kenaikkan pada sayur mayur dan buah-buahan terjadi karena jeleknya musim sehingga mempengaruhi produk pertanian dan juga kenaikkan pajak terutama produk rokok menjadi biang keladi itu semua. Selain Der Spigel,  tabloid kuning ‘Bild’ juga turut membuat heboh dengan menjaring opini publik dengan melakukan investigasi yang dilakukan oleh ‘Teuro Sheriff’. Investigasi yang dilakukan per telepon dengan serius ini memberi kesimpulan akhir bahwa memang setelah menggunakan Euro terasa barang menjadi mahal.

Sepertinya disamping faktor objektif diatas, kemungkinan lain adalah faktor psikologis masyarakat dari pergantian uang itu sendiri. Hal ini sangat beralasan mengingkat nominalisasi mata uang telah berubah, padahal banyak masyarakat yang masih berpikir dengan standar mata uang lama Mark (red: DM). Begitu artikel/stiekers harga barang dirubah menjadi Euro secara psikologis mempengaruh preferensi masyarakat dalam bertransaksi. Secara gampangnya mereka akan mengalikan dengan dua. Disamping itu, tidak sedikit toko-toko yang memanfaatkan ketidakcermatan konsumen dengan hanya menganti label DM menjadi € tanpa koreksi harganya. Meskipun masih ada satu barang yang hingga akhir bulan ini yang masih berartikel DM meskipun harus juga dibayar dengan Euro yaitu Perangko. Perangko yang bertuliskan satuan DM masih berlaku hingga 31 Juni 2002.

Wacana yang masih sering mengemuka di masyarakat adalah seringnya membandingkan mata uang Deutsch Mark (atau biasa disebuat Mark) dengan Euro. Secara historis Mark mempunyai ikatan psikologis yang tidak dapat dilupakan begitu saja. Mark sering dipersamakan dengan “Wirtschaftswunder” (Keajaiban Ekonomi) Jerman setelah perang dunia ke II. Selain itu menjadi Saksi dan Simbol Persatuan bagi bersatunya Jerman Timur dan Jerman Barat 1989. Juga gambar-gambar yang  terdapat di mata uang Mark yang mengambil bangunan kota Goetinggen dimana menjadi kebanggaan masyarakat setempat tidak lagi dapat dilihat.  Akan tetapi dibalik wajah muram Euro masih menyimpan wajah positif yaitu masyarakat tidak kebinggungan untuk menukar uang kalau bepergian ke sesama pengguna Euro atau dikenal dengan istilah euro zone (12 negara pengguna  Euro).

Misteri Inflasi

Bagaimanapun masyarakat merasakan kenaikkan harga terutama disektor retail/makanan dan jasa. Sayangnya pihak pemerintah sangat lambat dalam merespon keberatan masyarakat atas turunnya daya beli mereka karena mata uang baru Euro. Hal ini bisa dimaklumi karena protes masyarakat itu tidak tercermin dari bergejolaknya angka inflasi. Inflasi masih termanage pada angka 1,2 % pada bulan Mei bahkan merupakan angka inflasi terendah sejak tiga tahun terakhir. Inflasi yang dihitung berdasarkan 750 items barang dan jasa itu menunjukkan arah yang menurun secara signifikan versi pemerintah,  menjadi semakin memperuncing permasalah masyarakat dan pemerintah. Seperti sebuah misteri inflasi.

Berkaitan dengan misteri inflasi ini adalah  krisis di bisnis retail yang menjadi  sorotan tajam oleh masyarakat. Sampai-sampai Menteri Consumer Affairs Renate Kuenast menyerukan untuk kembali ke harga yang fair (a return to fair prices)  kepada pebisnis retail dan trade groups.  Namun demikian Carel Mohn dari the Federal Consumers Association dengan lantang menyalahkan kebijakan pemerintah yang menerapkan  “hands-off” approach sebagai biang keladi kenaikkan harga retail di Jerman. Memang masih sulit membuktikan antara kenyataan dilapangan dengan hitungan diatas kertas. amun satu sinyalemen yang kurang diulas adalah bahwa ‘bantalan’ kehidupan ekonomi kapitalis yang biasa terukur dalam sektor-sektor/institusi-institusi formal (ekonomi skala besar) dan mengabaikan ekonomi kecil menjadi andil kemungkinan terjadinya misteri inflasi ini. Selain faktor psikologis konsumen atau moral hazard yang dilakukan pedagang dan produsen bisa jadi fluktuasi harga disebabkan oleh aktivitas pasar bawah tanah yang tidak temasuk dalam items basket inflasi. Pasar bawah tanah katakanlah seperti ‘Floh Markt’ (secondhand market = pasar rombengan) yang di Jerman sangat populer dan mempunyai omset cukup besar tidak masuk hitungan. Konsumen merasakan para pedagang mematok harga yang jauh lebih tinggi dari pada sewaktu mata uang Mark pada pasar yang hidup sabtu-minggu ini. Memang mungkin sangat naif menghubungan pasar-pasar bawah tanah dengan fenomena ‘euro ist teuro’, namun dalam ekonomi apapun mungkin menjadi pemicu.

Lebih jauh dapat dicermati bahwa informasi pemerintah masih bertentangan dengan apa yang dirasakan masyarakat. Naiknya harga karena mata uang baru ditakutkan akan menurunkan iklim persaingan dan usaha. Jika kondisi ini terjadi maka akan lebih memperberat pemulihan krisis ekonomi yang melanda Jerman. Banyak pengamat ekonomi memprediksikan pertumbuhan ekonomi tertekan dengan perilaku konsumen yang enggan untuk menabung. Otak-atiknya masih berkisar pada  kinerja ekspor dan investasi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Artinya krisis ekonomi akan masih lama tinggal di Jerman.

Pekerjaan Rumah yang tersisa

Terkait dengan keresahan masyarakat Jerman ini maka menyimak kembali urgensi integrasi Eropa menjadi semakin perlu. Secara historis integrasi Eropa memang diyakini menjadi sesuatu yang penting dan sekaligus dianggap sebagai proyek yang ambisius. Namun dengan masih melemahknya daya beli masyarakat dengan mengambing hitamkan kenaikkan harga  karena Euro menjadi agenda yang tersisa dari perjalanan European Monetary Union (EMU) cq. The European Central Bank  (ECB). Tidak salah kalau masyarakat umum masih memiliki banyak pertanyaan. Benarkah EMU dengan euro mampu menjadi  ‘price stability’ seperti yang dimandatkan Maastricht Treaty. Benarkah euro akan mampu menjadi ‘eliminating exchange rate instability’ dikawasan eurozone. Bisakah Euro menjadi senjata untuk ‘short and long term interest rates’,  karena dengan ini juga diyakini dapat meredam liarnya inflasi dan resiko devaluasi dengan sensitivitas tinggi. Mau tidak mau pertanyaan diatas menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi ECB yang berdiri megah di tengah  kota Frankfurt. Bagaimana perjalanan Euro selanjutnya? Mari kita sama-sama menunggu €uro berbisik./Marburg 20 Juni 2002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s