Catatan Akhir Tahun 2005

2005 akan berlalu. Bagi bangsa Indonesia, tepat kiranya kalau kita sebut sebagai ‘Jahr der Katastrophen’. Bencana silih berganti singgah di singgasana Indonesia. Mulai dari Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh dan Nias dengan 8,9 skala Ricthernya pun diikuti dengan gelombang raksasa memulai awal nestapanya bangsa Indonesia. Flu burung telah menjadi ketakutan nasional, 11 nyawapun melayang karenanya. Fenomena berdiasporanya kemiskinan di dalam spektrum yang luas dan lebih jelas makin terlihat. Yang sungguh memilukan kemiskinan purba masih saja terjadi di Indonesia, kelaparan berujung kematian di belahan bumi nan indah di Papua sangat patut kita sayangkan. Juga tunas bangsa yang terpaksa hidup menderita kerena kurang gizi, busung lapar dan penyakit endemik lainnya.

2005, regim pemerintah yang mendapat legitimasi rakyatpun belum mampu membawa amanat rakyat secara sempurna, belum hadap masalah. Kebijakan demi kebijakan belum terasa benar manfaatnya. Terlebih memilukan adalah wakil rakyatpun seakan-akan melupakan konstituennya. Kebijakan pencabutan subsidi BBM menjadi titik balik kepercayaan rakyat kepada tuannya. Walhasil kemiskinanpun bertambah seiring dengan merosotnya daya beli rakyat. Kebijakan yang patut kita telaah ulang ke depan, karena terlihat eksplanasi argumentatif pemerintah masih saja bercelah. Meski demikian berharap ’rumah reformasi’ kita tidak roboh oleh tikus-tikus yang mengkorupsi bangunan rumah kita. Berharap banyak pemerintah mampu memperbaiki dan merenovasi sebagai sikap yang lebih tepat dari pada merobohkan, sebelum tergerus oleh wabah ’korupsi’ yang sudah menuju daerah fondasi ’rumah reformasi’ kita.

2005 bencanapun masih belum berakhir. Trust, saling percaya diantara elemen bangsapun sebagai modal sosial untuk bangkit dari keterpuruakn ekonomi rupanya juga meluncur pada titik terendah. Cermati tragedi bom Tentena, penembakan misterius di Palu, tragedi kelompok Mahdi dan jemaah Ahmadiyah, kelompok Lia Eden. Masih juga ditambah dengan aksi teroris Bom Bali 2005 dimana nyasar ke sejumlah kafe-yakni Cafe Nyoman, Cafe Menega itu. Berharap banyak dengan kematian biang terorist Dr Azahari semangat memperbaiki modal sosial yang terberai- terlantakkan dapat kembali disusun rapi.

2005, proyek Indonesia Bangkit ternyata tidak bisa jadi pengungkit yang kuat. Olahragawan kita ikut-ikutan tidak berkutik laksana orang yang berpenyakit, terkapar di peringkat lima perolehan medali pada SEA Games XXIII Manila, November-Desember lalu.

Kiranya benar kalau Indonesia 2005 adalah laksana acara TV di premium time, semua orang ingin melihat, semua orang ingin menonton, dan semua orang berharap atas akhir cerita. Meski ternyata jalannya cerita jauh meleset dari ‘resensi cerita yang dibuat’. Cermati APBN yang harus direvisi. Bak film Ghost cinta itu tercerai. Bulan madupun berlalu. Bulan madu antara pemerintah dan rakyatnya. Akankah bulan madu kedua terencanakan?

2005, bagi kita di Jerman adalah masa ‘perjuangan’, masa bertapa, masa sengsara, masa meniti kedewasaan. Meski bagi orang Jerman  mungkin adalah tahun ‘Vom Kanzler zur Kanzlerin’ yang ditunggu dengan segala kejutan-kejutan di era kepemimpinan baru ini. Meski masa yang pendek, semoga kita mampu belajar banyak dari negeri dimana sekarang kita tinggal. ‘Memilih dan Memilah’ adalah laku kita yang bijak, dengan membuang yang kita pandang tidak baik, tidak cocok bagi nilai-nilai kepatutan kita dan mengadopsi nilai-nilai yang baik, positif, modern sebagai penyelaras dalam bergaulan berbangsa dan bernegara juga dalam pergaulan global. Semoga kita mampu menjadi insan akademia yang asketis yang militan dibidangnya dan melek realitas.

Beberapa saat lagi kita menyambut datangnya sinar mentari baru – Matahari 2006. Happy New Year! Frohes neues Jahr! Selamat Tahun Baru 2006, Semoga rejeki, kesehatan dan keberhasilan selalu menyertai kita semua. Berpanjat syukur kepadaNya lebih khusuk, bergandeng tangan mesra menjalin silaturahmi lebih tulus, berempati lebih ikhlas, berpikir positif nan konkrit mungkin yang harus kita usahakan untuk menuju asa kita semua. Indonesia menjovial, Indonesia mondial, Indonesia yang bangkit tak pelak adalah tugas yang menjadi beban kita kedepan.

Insyaallah kita akan bertemu di tahun yang baru dengan spirit dan nuansa yang lebih ceria. Semoga! Goettingen, 31 Desember 2005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s