Gedung Bersejarah

Pagi itu melangkahku mendekat gedung bersahaja ini setelah menapak melewati deretan cherries blossom bunga dari genus Prunus serrulata ungu-kemerahan itu mengembang bersama suasana hatiku. Seolah tak ingin mengalah, tulip warna-warni bagai gelas pun ikut tersenyum menyapaku. Bunga bergenus Tulipa ini konon memiliki variasi 109 spesies. Gedung yang bagiku ikut andil merubah garis demarkasi hidupku. Musim spring di Bonn tahun ini melangkahku sedepa kesana. Entah hitungan spring season keberapa aku pernah ikuti dalam hidupku. Tapi rentang cukup panjang aku tidak merasakan suasana Jerman selepas 2006 lalu. Gedung itu memang tidak memberi sejumput pengetahuan ataupun selembar ilmu, tapi bak segudang gunung ikut andil mewujudkan mimpiku. Syahdan berangkat dari selembar surat sakti keluar dari gedung itu, menerawang ke 2003 silam selembar surat undangan penerimaan beasiswa DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst – German Academic Exchange Service)  Jerman mengetarkan sanubariku. Satu dari deretan nama yang diterima adalah namaku. Menuju jenjang bangku terakhir pendidikan doktoral di bagian negeri Gauss (baca: Johann Carl Friedrich Gauss adalah matematikawan dunia dari Goettingen-Jerman dan juga ahli fisika yang memberi kontribusi keilmuan secara signifikan dalam banyak bidang seperti  number theory, algebra, statistics analysis, differential geometry) nan molek ”Goettingen” di George-August University. Beasiswa DAAD bagiku spesial meski sewaktu pendidikan masterku di Uni. Philipps, Marburg,  aku juga mendapat beasiswa dari Landes Regierung Hessen, betapa tidak spesial, saringan yang begitu ketat dan langsung diseleksi oleh profesor dari Jerman;  zero nepotism dan objective. Campur aduk antara untaian kegirangan dan rangkaian penatnya otot dan otak menerawang menjelang kehidupan kedepan.  Betapa aku masuk ke ruang kampus 34 penerima hadiah Nobel yang berdiri kokoh sejak tahun 1734. Tetapi kaki harus melangkah, kehidupan harus dimulai. Pasti rintangan dan penderitaan pun kegirangan mendayu-dayu kehidupanku. Beratnya prosentase derita dengan bertapa dan puasa untuk keluar dari lorong derita menjadi sahabat karib di ruang dan masa itu.  Terinspirasi para Mahasidha (manusia terpilih untuk melakoni hidup nan  agung karena melewati derita dan nestapa seperti  Mahatma Gandhi, Jalalludin Rumi, Bunda Theresa, Milarepa),  tokoh yang sempurna mengartikulasi dahsyatnya lorong gelap  kehidupan, yang menjadi sempurna karena keikhlasannya. Akupun harus melangkah mendekat serupa mereka. Terlalu berlebihan memang membandingkan sejengkal langkahku dengan sejuta langkah mereka. Tapi, entah apa yang akan terjadi didepan. Tantanganku memang beda dengan mereka. Tapi aku yakin ada esensi serupa sebangun dengannya. Bermodalkan  ketekunan, perhatian,  keseriusan, tanggung jawab dan kesabaran disertai doa maka yakinku  rintangan dan penderitaan berubah menjadi obat anti miskin bagi batin, dan kebal penderitaan pun memperkaya lebarnya pikiran,  panjangnya langkah. Alih-alih frustasi, yang hadir malah senyum nyunging mengembang menyambut datangnya duka dan suka.

Gedung itu tidak megah untuk ukuran Jerman, tapi modern, kaku dan rapi. Hanya empat tingkat keatas.  Dan 2 lantai kebawah untuk parkir mobil dan ruang non office.  Paduan warna pastel putih, biru dan abu-abu dengan detail baja stainless dan kaca menambah gagah dan bersahaja. Beralamat di Kennedyalle 50 Bonn. Memang jalan ini didedikasikan untuk Presiden Amerika ke 35 yang alumnus Harvard University  dan mati muda tertembak bersama Gubernur Texas. Benar! Ia adalah Presiden John Fitzgerald “Jack” Kennedy, yang patungnya dipajang di ujung jalan ini. Tugas dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam program SAME (Scheme for Academic Mobility and Exchange)-Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi telah membawaku melangkah ke Gedung itu. Seruas-sebuku pekerjaan ASEM Education Secretariat (AES) menghantarku menekuni program-program peningkatan tali-silaturahmi pendidikan tinggi 49 negara Asia-Eropa, ASEAN Secretariat dan European Commission, serta diikuti oleh beberapa organisasi internasional lainnya seperti Asia-Europe Foundation (ASEF), European University Association (EUA). Aku masuk ke Unit 605 yang satu kantor dengan berbagai program internasional lainnya, semisal Bologna Process, Europa macht Schule, Program Erasmus Mundus dan masih banyak lagi.

Ini hari pertamaku menjalankan tugas. Pertengahan April tahun ini. Tepat pukul 08:00 pagi aku dorong pintu putar itu. Tidak ada satpam berdiri di depan kantor, hanya sederatan sepeda ontel dan satu mobil terlihat di halaman depan, namun begitu aku masuk, ibu petugas paruh baya penjaga pintu masuk/resepsionis dengan raut yang terlihat masih ayu dan tampil chick menyapaku.

W: Morgen!?

A: Morgen, Ich mochte gerne mit Frau Bettina Onyango treffen, bitte!.

W: Ach so, Moment. I will call her. Could you wait at the moment, please?

A: Ok, thank you.

Ach! aku coba pakai bahasa Jerman, dia menyapa dengan bahasa Inggris, mungkin bahasa jermanku masih agak aneh terdengar baginya pagi ini. Sudah begitu lama aku tidak praktek bahasa Jerman mungkin.

Suasana kantor bersih bak hotel menawan hatiku. Khas jerman terlihat, satu papan tertempel kertas-kertas pengumuman, yang menawarkan kamar kosong, yang menawarkan mebelair dan sebaliknya. Satu TV untuk pengumuman resmi, dan satu bangku baja stainless serta rak kecil tempat brosur-brosur dipajang. Kesan Jerman memang begitu mengoda. Simpel, rapi dan kecerdasan  seni penataan ruang yang membuat nyaman sejurus mata memandang.

Sistem administrasi rapi tertata, kedisiplinan dan tanggung jawab manusianya melumpuhkan kecuekanku selama ini. Gedung DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst – German Academic Exchange Service), menjadi pos ASEM Education Secretariat selama 4 tahun terakhir. Berbagai projek dan program tertata rapi bersama sistem dan manusianya. Silih berganti orang hilir mudik dari berbagai belahan Jerman dan luar Jerman dengan berbagai kepentingan. Arsitektur modern gedung tidak saja tampak dari luar tetapi begitu didalam kebersihan dan kerapian khas Jerman. Aku mulai belajar sistem mereka kerja. Sedikit berbeda dengan waktu aku kerja di Universitas sebagai doktoran dulu. Disini kerja profesional, kerja dengan sistem dan manajemen yang tertata rapi.  Satu ruangan, meja kerja lengkap dengan komputer printer dan telepon dengan nomer ektension sendiri, kartu check clock, email resmi wardhono@xxxx.de. Dan tidak lupa kartu nama. Jam kantor jelas, bilangan kerja 39.15 per minggu. Di ruang sudut selasar gedung penuh dengan mesin fotocopy, fax, mesin cetak lengkap semua ada. Silahkan gunakan untuk keperluan kantor, tanpa terlupakan pantry dan social room. Demikian penjelasan rekan kerjaku. Jelas semua sistem sudah terjadi begitu seketika aku  datang dihari pertama. Semua diinstal dan langsung kerja. Menakjubkan.

Disamping gedung DAAD berdiri megah gedung Deutsche Forschungsgemeinschaft –DFG (German Research Council). Tiap pagi aku turun di Halte DFG ini. Untuk melangkah barang  40 meter menuju gedung DAAD.  Teringatku kembali pada perjalanan akademikku lalu. Sepenggal perjalanan penulisan disertasiku didanai selain DAAD adalah dari DFG ini.  Aku beruntung dalam penulisan disertasi mengikuti Proyek STORMA (The Stability Rainforest Margin) yang dibiayai DFG berlabel SFB 522merupakan proyek 2 negara 4 universitas dan 2 lembaga riset nasional (Jerman-Indonesia – Georg-August-University Goettingen, Uni Kassel, Institut Pertanian Bogor, Universitas Tadulako, Deutsche Forschungsgemeinschaft dan Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang melibatkan hampir peneliti dari 12 negara. Betapa kolaboratif riset yang jarang aku temukan di tanah air. Lembaga Riset bergengsi Jerman ini turut andil dalam perjalanan akademikku.  Mau tidak mau gedung sebelah gedung DAAD ini juga turut berjasa mengikat batinku dalam pelukan kerinduan.

Gedung-gedung menyimpan sejuta rindu, sejuta kenangan. Mereka tidak bernyawa, tetapi memberi makna hidup bagi yang melewatinya, mengenang masa lalu dan mempelajarinya untuk dapat menjangkau masa depan dengan melihat hari ini. Aku beruntung singgah di Bonn dalam dekapan spring season kali ini untuk sedikit merenung, yang aku mulai dari melihat gedung-gedung yang bagiku bersejarah. Benar kata filosuf Aguste Comte dengan ”Savoir Pour Prevoir”, yang bermakna mempelajari masa lalu, melihat masa kini, untuk menentukan masa depan. Prima!

Bonn, 16 April 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s