Gowes di Bonn

Banyak pegawai mungkin suka dengan fasilitas kantor, biar mentereng dimana menunjukkan status sosial di kantor, bawa pulang mobil kantor artinya pasti posisinya tidak main-main di kantor tersebut. Ya begitulah budaya kita, masih suka dengan fasiltas ini dan itu dari negara. Begitu juga bagiku, aku juga dapat fasiltas kantor, maaf jangan disimpulkan didepan. Baca dulu sampai selesai ya.

Spring di Bonn yang masih dingin dan sering hujan, tiap pagi dan sore aku harus ke kantor DAAD untuk kerja. Dua minggu pertama aku lewatkan dengan naik Bus nomer 631 dari halte Markusplatz sampai Halte DFG, ada 16 halte aku hitung, dan bilangan 16 menit dari titik berangkat dan akhir. Tapi hidup biar penuh warna, aku coba bersepeda dan kadang jalan ke kantor, tidak begitu jauh hanya 4,2 km. Meski ini bukan barang baru aku lakukan, di Goettingen silam hampir penuh waktu aku gunakan sepeda untuk memindahkan badanku dari satu tempat ke tempat lain. Dan bahkan tambahan uang dari bersepeda menjadi loper koran di sana. Lumayan tapi menyenangkan.

Mengenai fasilitas, kali ini di Bonn aku juga dapat jatah (baca: diperbolehkan) memakai fasiltas kantor, sebuah sepeda ontel, sepeda dinas. Jadi teringat sepeda pak pos di Indonesia. Mungkin satu-satunya kantor pemerintahan yang memiliki inventaris kendaran dinas berupa sepeda, tinggal Kantor Pos. Jumlah sepeda ontel kantor konon ada 10 buah, tapi beberapa hilang entah di ambil siapa. Kesepuluh sepeda semua sama, dirangka sepeda besar-besar striker tertulis DAAD dibelakang didepan dan ditengah. Tidak lupa angka 1-10 yang terpajang di kerangka depan sepeda. Dan semua di kunci dengan kode yang sama, kode nomer unik mengingatkan pada nama parfum. Keputusan bersepeda menjadi pilihan alternatif yang unik, aku melihatnya bagian dari keseimbangan kerja, keseimbangan jiwa dan raga. Bayangkan saja duduk di kantor, di depan komputer lebih dari 8-10 jam per hari. Sungguh betapa menjemukan, dan melelahkan.

Sebenarnya sepeda-sepeda kantor ini hanya untuk kebutuhan antar kantor saja. Semua pegawai tahu nomer kunci sepeda ini. Kantor DAAD disepanjang jalan Kennedy (Kennedyalle) ada 3 gedung kantor yang saling berjauhan satu sama lain. Seringkali pegawai memanfaatkan untuk hilir mudik antar kantor. Tapi kali ini petugas bagian perlengkapan mengijinkan aku menggunakan sepeda untuk dibawa pulang dengan 2 syarat, yaitu: 1. Jika dibawa pulang harus dimasukkan ke dalam rumah, jangan ditaruh di pinggr jalan. 2. Jika diparkir di kantor, setiap pegawai bisa menggunakan, dan silahkan cari dimana sepeda itu terakhir diparkir. Syarat kedua ini yang kadang bikin pusing, kadang aku harus cari ke kantor DAAD Gedung 2 dan 3 yang jaraknya lumayan 200 meter dari gedung DAAD 1 dimana aku ngantor.

Gowes bagi warga Jerman adalah sebuah kelumrahan. Kelumrahan ini bukan perkara sepele karena berbagai fasilitas dan regulasi yang mendukung. Meski kadang agak geli juga membaca harga mobil bekas dengan harga sepeda baru, hanya 11-12 bedanya. Bersepeda di Bonn kali ini sungguh menyenangkan, lingkungan yang mendukung dan iklim yang sungguh asyik menikmati gowes di sini. Tidak heran mulai anak-anak masuk sekolah hingga pria-wanita dewasa berpakaian formal kantor, pakai jas gowes ke kantor. Jadi teringat aku sering mengusili sepeda profesorku yang usang warna hijau muda di Goettingen lalu dengan menempel tulisan „di jual murah“. Padahal biasanya kantor memfasiltasi penggunakan fasilitas angkutan umum dengan biaya yang sangat murah. Namanya Job-Ticket, untuk karyawan DAAD hanya 50 Euro per bulan bisa kemana-mana seantero Bonn naik trem dan bus berapakalipun dalam sehari. Bandingkan dengan jika kita naik sekali jalan harus bayar 2,79 euro atau kalo berlangganan sebulan sekitar 83 euro. Tidak dapat dipungkiri, transporasi publik Jerman memang handal, mulai dari sistem yang termanage jelas juga perilaku manusianya benar-benar menghargai public transportation. Trem dan bus pasti tepat waktu, jadwal masuk halte dan berangkat, bersih dan manusiawi. Bus akan dimiringkan jika penyandang cacat (dissabled person) dengan kursi rodanya ingin masuk ke bus, atau kursi depan khusus para tunanetra. Emm..kadang sempat terbayang kapan seperti ini bisa aku lihat di tanah air. Dan setiap orang dengan pasti memiliki tiket meskipun tidak ada kondektur yang mengontrol. Ada perasan memiliki dan malu jika terjaring rasia kontrol tiket yang biasanya random dilakukan.

Kembali ke gowes. Konon yang mempopulerkan sepeda pertama kali adalah orang Perancis di awal abad ke-18 mengenalkan alat transportasi roda dua yang dinamai velocipede. Sedangkan cikal bakal di Jerman dikenalkan oleh Baron Karls Drais von Sauerbronn yang dengan ide inovasinya untuk memperlancar kerja sebagai pengawas hutan Baden membuat model sepeda tapi mirip kereta kuda sehingga dikenal dengan dandy horse di tahun 1818. Kebiasan bersepeda di Jerman agak terasa unik, rata-rata pekerja yang gowes ke kantor jarang yang bergerombol dan pasti menggunakan helm pengaman. Dan tidak pernah terlihat berboncengan, meski ada boncengan sepeda di belakang. Yang jelas sepeda-sepeda Jerman seringkali ada ditambahi keranjang baik di depan atau dibelakang. Fasilitas pesepeda cukup memiliki arti, biasanya berada di bahu jalan utama, track sepeda ini juga terpisah dari jalan untuk kursi roda dissabled person maupun pejalan kaki. Tambahan lagi track ini juga punya traffic light sendiri. Ini menghindari terjadinya tabrakan, meski di samping kita yang sedang gowes berselieran mobil, bus, bahkan trem. Sejak dini masyarakat Jerman didik untuk memahami peraturan lalu lintas dan bagaimana bersepeda yang benar. Biasanya pelajaran bersepeda diberikan oleh guru sekolah bersama polisi memberikan pengetahuannya untuk bersepeda dengan benar. Kelengkapan dan tatakrama bersepeda benar-benar diterapkan, semisal lampu penerang, membiasakan memakai helm dan jaket berwarna memancar menjadi keharusan dalam bersepeda sehat di Jerman.

Meski masyarakat yang gowes terlihat dimana-mana tapi yang unik di Jerman mengenai masalah gowes adalah rencana ambisius, Menteri Transportasi Jerman, Peter Ramsauer. Ia ingin meningkatkan jumlah pengendara sepeda di jalanan 15 persen hingga tahun 2020. Saat ini sekitar sepuluh persen moda lalu lintas diisi sepeda. Artinya, jika kini di setiap sepuluh kilometer jalanan Jerman ada satu pengguna sepeda , delapan tahun lagi jadi di setiap tujuh kilometer. Kira-kira di Indonesia ada data statistik mengenai pengendara sepeda ngak ya? Coba kita lihat bersama-sama di website BPS tercinta kita.

Rencana ‚Agenda 2020 Bersepeda‘ ini menjadi rencana yang serius. Jumlah kilometer yang dilalui sepeda, dihitung dari total jumlah kilometer jalanan yang dilalui semua kendaraan dalam setahun di Jerman. Itu termasuk ruas jalan raya bebas hambatan atau Autobahn. Agar kontribusi sepeda dalam lalu lintas meningkat, perilaku berkendara untuk jarak pendek dalam kota harus diubah. Dalam kondisi lalu lintas kota yang padat, pengguna mobil di Jerman harus meninggalkan mobilnya di rumah dan lebih baik bersepeda. Itu berita yang aku tangkap disini seputar bersepeda. Nah, bagaimana dengan di tanah air. Pada titik ini fakta masih berbicara bahwa di Indonesia meskipun menujukkan tren gowes meningkat tetapi masih belum menjadi tradisi. Lalu lintas yang semrawut, kedisiplinan yang rendah, moda transportasi publik yang belum pro rakyat, fasilitas khusus gowes belum ada. Menjadi miris bersepeda di Indonesia. Atau masyarakat kita masih gengsi bersepeda. Entahlah! Tapi bagiku fasilitas kantor kali ini benar-benar menyehatkan, sehat jiwa dan raga dan yang pasti sehat di kantong! Yuk gowes yuk!

Bonn, 2 Juni 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s