Ibu

Tiap kali aku kayuhkan sepedaku untuk berangkat ‘kerja’ ke Institut pagi-pagi pasti melewati Kindergarten (taman kanak-kanak) yang terletak bersebelahan dengan taman dan sekalian kuburan kono, karena itu jarak terpendek untuk menuju ke Institut, dari pada memutar melewati Innenstad Goettingen (tengah kota). Kuburan plus taman itu namanya Albanifriedhof. Memang tampak bukan seperti kuburan di Indonesia layaknya. Entah dulu mana antara kuburan kuno dan taman itu. Tapi jelasnya taman kota dan kuburan menyatu. Berdampingan pula dengan taman mungil untuk anak-anak. Tidak ada rasa takut atau angker. Meski nisan besar itu mensyaratkan pesan bahwa suatu saat kita pasti kembali. Sekarang disebelahku sedang tumbuh berkembangnya kehidupan, namun jelas nan pasti terkubur suatu saat nanti. Begitu kira-kira isyarat nisan itu berdialog dengan celoteh anak balita bermain ayunan. Itulah rahasia Tuhan: lahir, tumbuh dan mati.

Dulu sulit aku bisa menerima ajaran surga ada ditapak kaki ibu. Pernah bahkan suatu hari aku angkat kaki ibuku untuk aku amati telapak kakinya. Kiasan itu sulit aku pahami waktu kecil dulu. Tumbuh dewasapun kadang masih sulit untuk bisa menerima kiasan itu. Di media massa aku baca seorang ibu yang mantan Ibu Negera seperti Imelda Marcos suka membalut telapak kakinya dengan fancy shoes yang jumlahnya konon ribuan pasang itu sementara diluar istananya banyak rakyat Filipina yang sulit makan. Mana mungkin surga ada ditelapak kakinya, apa tidak mungkin malah neraka yang diciptakannya. Aku coba kritisi kiasan itu lagi.

Lanjut pikir yang dimaksud surga adalah bukan ibu sebagai jabatan melainkan ibu sebagai peran, yaitu totalitas seorang wanita yang  tulus ikhlas dan welas asih mengayomi kehidupan sesama manusia dari mungil dan tak berdaya hingga dewasa. Sepertinya baru jelas makna kiasan itu. Memang surga menampakkan bentuknya. Minimal mudah teraba dan terlihat perbuatan-perbuatan surgawi, yakni suatu tindakan total unselfishness, senantiasa memberi tanpa mengharap kembali. Seringkali pula aku lihat ibu-ibu muda mendorong Kinderwagen (gerobak bayi) dengan tas dipunggung penuh belanjaan menuju Haltestelle menunggu Bus Kota. Dengan keikhlasan menerima ‘rewelan’ balitanya yang tidak puas dengan es creamnya. Melihat adegan itu, teringat betapa  kekagumanku pada ibuku, meski capai dengan segala rutinitas seharian baik di kantor dan di rumah, masih bersedia mengurai cerita dan diimbuhi dendang segala untuk mengantarkan tidurku, kenangku waktu kecil dulu.

Apa yang dicari oleh ibu yang susah payah berdendang kepada seorang balita yang papa dan tidak bisa apa-apa. Ibu juga senantiasa hanya menjadi keranjang sampah. Tapi ibu sejati tidak pernah mengeluh. Karena dia tidak dalam kapasitas ibu pejabat. Tapi ‘peran’ ibu sangat penuh makna, cinta dan cita. Bak sinetron tidak saja sebagai pemain bahkan sekaligus merangkap sebagai sutradara dan kameramen. Yang meneropong adegan panjang buah hatinya dari yang papa hingga mungkin telah dijuluki ‘Papa’.

Pamrih apa yang ibunda inginkan? Sudut pandang kaum sinis pasti akan menjawab, itu kan sudah biasa, lumrah. Mereka kan hanya berinvestasi. Ingin ‘asuransi’ dihari tua. Ingin memutar waktu, bahwa balitanya kelak yang akan melindunginya. Ini tidak benar. Das ist total falsch. Ingatku, mesti aku sudah sudah bekerja, melanglang ke negeri orang dan punya duit. Ibuku selalu bertanya, apakah kamu perlu uang, nak? Jelas aku malu. Tapi itulah ibu. Penampakan jelas ciri ibu adalah senantiasa ingin memberi tanpa mengharap kembali, tak perduli seberapapun yang beliau punya.

Misteri terdalam kehidupan paling tidak tercitrakan dari peran seorang ibu yang didalam setiap gerak dan langkahnya teraba dan tercium aspek-aspek surgawi yang sulit dikalkulasi dengan metodologi empiris duniawi. Bisa jadi para ibu adalah representasi dari malaikat yang diturunkan ke bumi hanya untuk ‘mampir ngombe’ dan setelah perannya selesai bergegas terbang kembali ke sorga. Bahkan ucapan ibu adalah doa yang mustajabah. Sungguh tak terkira peran seorang ibu. Entah apapun julukannya, mama, umi, muti, ibu, bunda, embok. Ibu tetap tidak peduli dengan pro kontra  tentang stereotipe perempuan yang terus didengung-dengungkan dan dilanggengkan dengan perayaan Hari Ibu. Dia pasti berjalan dengan ‘perannya’ yang tulus.…kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagaikan surya menyinari dunia….

Kagem ‘Ibuku’ yang untuk kali pertama dan selamanya pada lebaran 2003 ini aku tidak bisa sungkem dan menciummu, karena kau telah kembali ke sang Khalik. Semoga dikau tenang dengan-Nya, bunda..!

 Adhitya, Goettingen Desember 2003

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s