Investasi Sumberdaya Padat Otak di Era Otoda

Membaca Radar Jember-Jawa Pos beberapa hari lalu tersiar bahwa masih banyak siswa putus sekolah di Kabupaten Jember –terutama siswa Sekolah Dasar – sungguh fenomena yang sangat memprihatikan. Sementara dilain pihak gelora otonomi daerah kian  tidak dapat dibendung.

Melihat kondisi inilah sangatlah mendesak untuk mencermati prioritas yang mungkin tidak populer bagi pengambil keputusan di daerah. Layaknya prioritas pembangunan, tentulah penerimaan dan investasi pembangunan jangka pendek menjadi primadona, seperti meningkatkan PAD dan sejenisnya. Namun demikian sungguh suatu ironi jika ada ‘generasi yang hilang’ di tengah maraknya dan melimpahnya sumber ekonomi menjadi kenyataan. Kualitas SDM yang rendah tidak saja membahayakan tetapi juga kontra produktif bagi pembangunan itu sendiri. Keprihatinan akan ‘generasi yang hilang’ ditengah maraknya diskusi otonomi daerah inilah, tulisan ini saya buat.

Tulisan ini sebenarnya merupakan sebagian dan sedikit perubahan dari support paper saya pada Seminar dan Lokakarya ISTECS Chapter Eropa bertajukOtonomi daerah dalam negara kesatuan: Mencari format politik hukum hubungan pusat dan daerah di Indonesia” di  Frankfurt, Jerman-10 Nopember 2001 kemarin.

Kita sepakat bahwa otonomi harus terus berjalan. Namun kita juga harus sangat jeli menyikapi bergulirnya otonomi daerah ini. Pelaksanaan otonomi daerah merupakan pekerjaan besar dan harus berhasil dengan baik. Melihat keragaman kemampuan maka pelaksanaannya harus didasarkan pada sequencing yang jelas dan penerapan bertahap menurut kemampuan daerah. Untuk itu pemerintah daerah harus mampu untuk melakukan pembangunannya dengan kebijakan dan rumusan yang jelas. Fenomena rendahnya Sumber Daya Manusia sangat begitu kontras ditengah bersemangatnya membangun daerah secara lebih demokratis dengan konsep Otodanya. Bagaimanapun bagai  sayur tanpa garam. Apa untungnya SDA melimpah, pendapatan daerah melimpah, tapi rakyat masih dalam kepapaan? Saya yakin bapak Bupati dan jajarannya sungguh tidak nyaman memiliki rakyat yang masih ‘kurang pandai’. Seorang manajer sungguh sangat pusing memiliki karyawannya sulit diatur. Seorang RW/RT akan sangat jengkel dengan warganya yang sulit diatur. Atau bapak Polisi yang geram dengan rusaknya banyak rambu lalu lintas dan rendahnya disiplin pemakai jalan. Semua itu berpulang pada rendahnya kualitas sumber daya manusia yang dimiliki.

Untuk itu mungkin kita perlu untuk menyimak buah pikir ekonom Friedrich List yang mengemukakan konsep Pendekatan Tenaga Produktif. Rekomendasinya adalah kemakmuran suatu daerah (bangsa) bukan disebabkan oleh akumulasi harta dan kekayaan, melainkan dengan cara membangun lebih banyak tenaga yang produktif.  Dengan pendekatan ini akan terjadi kekuatan swadaya setempat yang mampu menunjang kemakmuran  ekonomi suatu daerah (bangsa). Dalam konteks ini, untuk mencapai kemakmuran daerah dalam Otoda, kekayaan  berupa sumber daya alam yang terkalkukasi diatas kertas bukan mutlak adanya.  Dan mungkin yang juga harus diperhatikan dalam rekomendasi Friedrich List ini adalah mengejawantahkan  Tenaga Produktif sebagai karya kreatif inovatif,  pemahaman kekuasan politik dan hukum, hak dan kewajiban masyarakat, efektivitas penyelengaraan  pemerintahan, ilmu dan kebudayaan, dan sikap terhadap hak asasi manusia, serta mentaati norma agama.

Berangkat dari pendekatan diatas maka pertanyaan yang muncul adalah  implikasi apa yang dapat diambil dari peryataaan tersebut? Esensi dari pernyataan tersebut kalau kita artikulasikan dalam kenyataan sekarang adalah mendesaknya mempersiapkan sumber daya manuasia yang berkualitas. Saya cenderung mengunakan istilah sumber daya padat otak untuk mengantikan istilah sumber daya manusia. Pengelolaan sumber daya padat otak mutlak  diprioritaskan. Sudah terlalu banyak kasus yang menunjukkan dengan mengelola potensi sumberdaya padat otak inilah kesejahteraan masyarakat daerah ternyata lebih terjamin. Ambil contoh negara Jepang, Singapura, Hongkong mampu untuk maju secara ekonomi, tanpa didukung SDA yang berlimpah. Mungkin kita tidak perlu membayangkan yang terlampau tinggi untuk konsep sumber daya padat otak. Dalam tulisan ini kita bisa mendefinisikan agak lebih lunak menjadi dua dimensi yaitu dimensi pertama dimana sumber daya manusia yang terdidik cukup baik secara formal maupun non formal yang nantinya memberikan kontribusi produktif berupa daya nalar pikir berupa karya kreativ inovatif. Dan dimensi kedua adalah pendidikan budi pekerti dan moral agama, artinya paham sebagai warga masyarakat akan hak dan kewajibannya sehingga taat atas hukum dan peraturan yang berlaku. Mengingat pendidikan formal bukan satu-satunya faktor penentu kualitas sumberdaya manusia atau keberhasilan pembangunan daerah. Pendidikan budi pekerti dan moral agama lebih memberikan arahan bagi terwujudnya  integritas pribadi dan etika kerja, serta disiplin kerja yang sulit diukur tetapi hampir dapat dipastikan tidak kalah pentingnya, sehingga juga harus dipertimbangkan.

Sumber daya padat otak tentunya berangkat dari ketersediaan sumber daya manusia yang dicoba untuk mendapat perhatian optimal. Caranya adalah melalui pendidikan rakyat, apapun sistem dan bentuknya. Namun kendala yang terasa dalam proses menuju sumber daya padat otak adalah kesungguhan dan rendahnya anggaran untuk mengoptimalkan problem ini. Dari aspek ekonomi telah jelas bahwa dana untuk  pendidikan dan peningkatan ketrampilan menyiapkan sumber daya manusia sangatlah rendah. Sehingga propaganda di sektor investasi sumberdaya manusia sangat tidak optimal. Apalagi sifat dari investasi sumber daya manusia ini adalah jangka panjang dan memerlukan konsistensi serta hasilnya tidak segera terlihat. Semoga hal ini sudah terpikirkan oleh jajaran pemerintah daerah dengan instansi terkait. Karena dengan mempersiapkan sumber daya manusia padat otak dengan pendidikan formal ataupun non formal, akan jelas efek pengganda yang akan diperoleh. Ada satu keyakinan yang cukup menarik untuk di cermati yaitu “dengan pendidikan akan membuat orang mudah dipimpin tapi tak bisa dipaksa. Pendidikan juga akan menghasilkan orang-orang yang mudah diperintah tapi tak bisa diperbudak”.

Lebih jauh, sebenarnya dengan penerapan otonomi daerah, terbuka peluang untuk memperluas akses kesempatan dan ruang berkreativitas, baik secara nasional maupun internasional dalam rangka pembangunan daerah. Sekaligus juga memberikan konsekuensi menjawab tantangan standarisasi internasional. Hal ini berarti perlu didukung oleh SDM yang mempunyai daya saing global, baik yang menyangkut kinerja, profesionaliatas, manajerial dan sebagainya. Dalam konteks global, mengandalkan kelebihan hanya pada kekuatan komparatif berupa SDA yang melimpah tidak pada tempatnya lagi dipertahankan. Negara-negara maju yang menjadi motor penggerak dunia lebih mengandalkan kekuatannya kepada kelebihan kompetitif yang sifatnya mengandalkan kemampuan SDM yang unggul, cerdas dan berpendidikan tinggi.

Mungkin tidak berlebihan memaparkan data statistik ujung tombak suksesnya penerapan otoda ditingkat bawah, yaitu Kepala Desa. Dari data yang diambil dari Survey Potensi Desa 1999 yang dilakukan oleh BPS. Secara nasional, 5 persen dari kepala desa tidak menyelesaikan pendidikan dasar mereka, 17 persen hanya lulusan SD, 28 persen lulusan SMP, 39 persen memegang ijazah SMA, dan 11 persen lulusan perguruan tinggi. Catatan penting lain adalah ketidak sepadanan antara potensi SDA yang dimiliki dengan kemampuan SDM yang tersedia pada suatu daerah. Dua dari empat propinsi kaya SDA di Indonesia ternyata memegang peringkat terendah ditinjau dari tingkat pendidikan kepala desanya. Secara nasional propinsi Papua berada di urutan terendah, sementara Aceh di urutan ke 20. Riau yang juga merupakan propinsi kaya sumber daya alam berada pada urutan ke 9, atau peringkat tertinggi diantara propinsi-propinsi kaya sumber daya alam. Melihat kondisi ini tentunya sangatlah memprihatikan kalau tidak segera ada sikap tegas terhadap prioritas pembangunan SDM.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia sudah tidak dapat ditawar lagi. Episode ‘kebo nyusu gudel’ seperti halnya dulu Malaysia di era 70-an berbondong-bondong ke Indonesia untuk  menuntut ilmu.  Dan sekarang kondisinya menjadi terbalik, dimana diawal era 90-an hingga kini banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri jiran Malaysia. Ironisnya kondisi ini hanya dalam kurun waktu 15-20 tahun. Catatan lain adalah Malaysia bahkan berani mengalokasikan 60% dalam APBNnya untuk Human Investment, maka tidak aneh jika dari 1 juta orang Malaysia terdapat 8.000 orang Doktor. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 65 orang yang bergelar Doktor dari 1 juta orang. Suatu rasio yang sangat memprihatinkan. Jadi sungguh layak hasil survey tempo hari bahwa pendidikan Indonesia menempati posisi terendah dari jumlah sampel.

Untuk itu dalam penerapan otoda ini yang jelas terlihat adalah adanya perubahan manajemen sumber daya ekonomi dan perubahan perspektif masyarakat tentang pembangunan dan paradigmanya. Hal ini memerlukan konsepsi baru untuk mewujudkan pembangunan daerah dengan melihat potensi daerah secara spesifik, juga keberanian untuk menerapkan konsepsi tersebut. Namun penerapan suatu konsepsi permasalahan yang muncul pertama adalah, bagaimana caranya mengamati proses perubahan dalam masyarakat tersebut.  Persoalan berikutnya adalah bagaimana cara tepat untuk mengabungkan antara perubahan ekonomi dan perubahan masyarakat. Untuk itu perlu adanya perencanaan terintegrasi dalam memanfaatkan potensi sumber daya yang ada. Dan tentunya prioritas peningkatan SDM tidak lagi basa-basi semata. APBD harus dialokasikan dengan cermat untuk peningkatan SDM daerah. Kelalaian kita hanya mengeruk SDA tidak dapat berlarut-larut kita lakukan. Terlebih biaya eksploitasi yang kian mahal dan semakin menipisnya kuantitas SDA yang ada. Belum lagi fenomena dikota besar ekspatriat menempati posisi white color job sedang bangsa kita tetap saja dengan blue color job. Satu ketakutan jika ini terjadi di daerah sebagai konsekuensi dari otonomi daerah akan muncul iklan tenaga kerja: Dicari! SDM yang berkualitas. Segera, gaji memuaskan tanpa pelantara.Ironis!!/Marburg, 11 .November 2001

* Tulisan ini di muat pada Radar Jember Jawa Pos, Kamis15 Nopember 2001

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s