Kado untuk Ibu di Muttertag (Hari Ibu)

Mother, how are you today?  Satu penggal bait nyanyian terkenal di era 1980-an dari dua bersaudara Maywood yang tergabung dalam sebuah group pop dari Belanda itu begitu terasa pada saat ini. Betapa tidak, hari ibu pada tahun ini jatuh tanggal 12 Mei. Hari ibu ini memang tidak begitu banyak dikenal dibelahan dunia lain. Bagi negara Jerman dan Swiss, minggu kedua bulan Mei biasanya diperingati sebagai hari ibu. Toko-toko ramai menawarkan pernik-pernik menarik seputar hadiah pas untuk muti. Toko bunga memajang bunga warna-warni terbaiknya. TV memamerkan iklan penuh buaian dan rayuan kado untuk muti.  Konon berawal dari keprihatinan seorang ibu yang bernama Julia Ward Howe pada tahun 1870 memiliki inisiatif tinggi mengenai Hari Cinta Damai Ibu, memulai perayaan hari penting bagi kaum ibu ini.  Satu misi  utama yang ingin didengungkan adalah menyudahi lebih banyak korban perang lagi. Perang pada waktu itu  telah  banyak merenggut nyawa termasuk anak-anak mereka. Tiada satu pun ibu di dunia ini yang rela membiarkan anak laki-lakinya tersungkur mati di medan perang. Mungkin sedikit berbeda latar belakang sejarah yang di Indonesia biasanya dirayakan pada 22 Desember sebagai penanda gerakan wanita 1928 di Yogjakarta.

Belahan Jerman kali ini. Dalam rengkuhan musim Spring yang damai dengan desiran sepoi angin membawa pada momen tak terlupakan. Seketika banyak anak-anak dengan antusias mencari hadiah untuk mutinya. Untuk ibunya, emaknya, bundanya, uminya,  mamihnya atau sebutan lainnya. Sama maknanya. Banyak anak-anak sibuk dengan kado tercantik untuk mamanya. Yang besar, yang kecil, kadang mahal dan kadang sederhana, dibungkus kertas berwarna-warni penuh ungkapan terima kasih untuk muti. Respek, keiklasan, ketulusan. Sungguh mengharukan.

Aku hanya tertunduk. Aku hanya teringat ibuku yang memberi kasih sayang maha luas. Berapa banyak kanvas tergores lukisan kasih sayangmu tanpa kumampu menuntaskan ketulusan dan kasih sayangmu padaku. Aku cukup mengenang dan berdoa. Ibu adalah inspirasiku, ibu ada roh yang mengerakan langkahku. Kasihmu Ibu, takkan lekang walau diterjang badai sekalipun.

Mataku terkaca-kaca ketika dialog anak-anak kecil di bus memamerkan kado terindah untuk mutinya. Dengan ceria dan penuh harap bahwa kadonya mendapat penerimaan tertinggi. Aku menerawang bagaimana ibu selalu menjadi peneduh setiap keluh dan jenuh menghinggapiku. Ibu menjadi penyemangat setiap geliat obsesiku.

Ibu telah membuai buana lewat nada-nada kasih cinta nan tulus. Ibu tidak membutuhkan balasan kita. Ibu sebenarnya tidak membutuhkan kado kita. Semerbak harum bunga mewangi dalam hambaran prestasi ananda untuk memahami manusia dan kemanusian sudah merupakan hadiah teramat mahal yang sering ibu rindukan.

Matamu tajam laksana elang, menangkap kedalaman. Namun kau dekat rembulan dengan penuh keteduhan. Kurindu mataharimu yang mengerakkan obsesiku.  Kami hanya terkaca-kaca merinduimu. Semoga tempat terbaik untukmu ibu. Gusti, berikan tempat terindah untuk mutiku! Doa ananda senantiasa panjatkan tiada henti selalu. Alles Gute zum Muttertag!

Bonn, 9 Mei 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s