Ketika aku ‚call’ Tuhan

…..Tuhan, aku coba calling setiap saat Dikau, namun yang terdengar hanya dana sibuk…..

Padahal aku tidak pakai Voip atau Skype….aku pakai jalur resmi Telkom meski agak mahal dan lewat wartel yang sekarang sedang sekarat, kalah dengan telpon seluler.yang katanya bukan telepon biasa.

….Tuhan, aku coba calling Dikau setiap saat, terdengar hanya nada mailbox, dengan bidadari menjawab: silahkan beri pesan anda!

…Tuhan……kali ini aku ingin sedikit mengurai rasa. aku hanya ingin curhat. Sebentar saja, please deh!

Pulsa sekarang mahal. Karena Telkom tidak berpihak rakyat. Kata mahasiswaku masih ‚monopoli‘. Jadinya sulit untuk menghitung welfare cost yang sesungguhnya. Mohon diangkat dan tolong dengerin curhatku..ya Tuhan.

…waktuku singkat untuk sekedar curhat panjang dengan Dikau.

Tuhan aku hanya ingin membolongkan hatiku. Biar plong!. Begini Tuhan….kenapa rasa ini datang tiap akhir semester.

Semakin kupendam semakin sesak rasanya. Benar Tuhan. Dimusim ujian dan penilaian. Ada galau dan gelisah. Seperti masuk labirin untuk menemukan pangkalnya. Didudukannya aku sebagai eksekutor, dewa penolong atau educator. Sungguh posisi yang sangat sulit.

Mengapa? Mungkin Tuhan bertanya begitu, bukan?

Optimismeku selalu datang ditiap awal semester. Katanya profesiku cuma sekedar ‚makelar‘ masa depan generasi muda yang energik dan bersemangat menyongsong menguritanya dunia.

Sadar akan itu akupun bersemangat pula untuk menyiapkan, biar tidak terlihat ‚dummy person‘ dimuka kelas. Aku calling temanku untuk sekedar mengkopi buku-buku baru… biar mahasiswaku tertarik, biar mahasiswaku terpana akan dahsyatnya kemajuan, dahsyatnya dunia. Meski aku harus jadi ‚pembajak‘ karena profesiku cuma makelar yang tidak ada kepastian ekonomi, meski hanya sekedar kehidupan sederhana dan layak. Mana mungkin aku kuat beli buku original yang dibandrol dollar itu. (Mau minta fakultas..mana mungkin? Mereka sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk dengan mempertahankan ‚harga dirinya‘—bagiku ngak masalah, aku beruntung punya sobat, sohib, kolega, rekan dan teman  yang ikhlas mengirimi aku data, info, dan referensi mutahir).

Begini Tuhan! Aku sesaat bersemangat memberi tugas, dan bersemangat pula untuk membaca tulisan mahasiswaku. Yang kadang enak untuk dibaca, maupun yang rumit untuk dicerna. Tapi pada saat itu pula aku meski kecewa, karena hampir semua jawaban serupa, hampir semua jawaban sama. Tidak ada yang berpikir beda, aneh ataupun nyleneh. Yang mampu mengispirasi, menyemangati, berkredo, berjiwa. Sepertinya ngak ada roh dalam tulisan itu. Tidak ada yang berkeinginan menunjukkan jatidirinya, sebuah ‚kesombongan‘ seorang pemikir muda tidak hadir. Sekedar menjawab dan sekedar mengumpulkan. Tapi aku tetap semangat untuk membacanya. Aku mungkin bisa berpikir…paling-paling mahasiswaku cuma sekedar kepingin nilai, kepingin lulus..tapi pikiran itu aku coba kesampingkan. Aku masih yakin mereka punya harga diri. Punya idealisme tinggi. Penetrasi pikirnya pasti cepat. Mereka tidak Lola (loading lambat), kok!

Musim ujian tiba. Memang bukan musim durian yang katanya lezat enak itu. Tapi nuansanya sama: rame, dikerubuti dan dinikmati. Rame sekali outlet fotocopy, berkerubut sekali mahasiswaku sibuk copy bahan ujian, dan ada pula yang ‚benar-benar‘ dicopy…dibonsai..istilah mereka. Dicopy kecil sebagai bahan ujian instan. Tidak salah rupanya produk instan yang beredar. Mie instan, kopi instan, teh instan, tiwul instanpun sekarang ada. Ini kadang menjadi inspirasi satu dua mahasiswaku untuk bikin bahan ujian instan. Kreatif bukan?  Tidak ada yang baca buku-buku referensi. Fotocopy materi…cukup (murah)..renyah (dibaca)..nikmat (nilainya). Ach! Semoga juga tidak benar dugaanku ini.

Kelas mulai sunyi, ujianpun dilangsungkan. Tak terkira betapa seriusnya mahasiswaku menjawab. Ada yang tegang, ada yang tidak jenak duduk, ada yang berpikir keras, ada yang kesal. Mimik-mimik eksotik nan menarik, mengalahkan latihannya Teater Koma. Apapun meski harus dapat menjawab. Mereka harus sukses. Tapi memang dahsyat ciptaanMu itu. Jalan sukses memang beda-beda. Kisah jalan sukses sudah banyak menjelma jadi showbiz, sinetron, novel dan cerpen. Kisah-kisah yang membawa inspirasi langsung ditangkap KickAndy Show yang menyuguhkan rona-rona kehidupan unik menawan di layar TV. Lagi-lagi jalan sukses adalah (tidak pernah) terjal. Berbagai cara dilakukan.demi sukses demi harga diri. Demi masa depan. Rupanya keseriusan diujian terlihat dari hampir semua lembar ujian dikumpulkan. Hebat..selesai satu episode.

Tuhan…kalo Dikau sudi membantuku..tolong bantu aku koreksi..tolong bantu aku beri nilai mahasiswaku. Nilai-nilai yang sekiranya adil. Bukankah sifat adil itu sifat Mu? Nilai-nilai yang menciptakan peluru-peluru dahsyat. Biar aku tidak menjadi sosok eksekutor sebuah putusan yang pelik, yang sulit. Atau sosok dewa penolong yang tidak bertanggung jawab pada masa depan anak didikku. Dua profesi yang rumit. Kalaupun educator…mungkin aku belum cukup mengejawantahkan arti edukasi. Pasti aku akan disindir oleh atasanku, oleh kolegaku atas ‚hasil karyaku‘ yang tidak mampu mengartikulasikan sebuah kebijakan. Aku kurang mampu menerjemahkan garis komando. Memang Tuhan aku harus perlu belajar untuk menilai orang. Yang jauh dari arti ‚salah‘.

Tuhan..padahal aku  hanya ingin memperlihatkan ke mahasiswaku betapa tingginya Mahameru. Bagiku untuk tahu Mahameru..datangi dia, tantang dia. Untuk tahu tinggi bukankah kita harus pernah jatuh? Paling tidak pernah melihat keatas, kalau tidak mau menaiki. Maybe yes, maybe no!  Aku tidak mau bersilat lidah perkara ini. Ini perkara rasa, perkara batin yang tidak bisa dibeli dan diperjualkan. Bukan perkara menang-menangan berdebat. Apa begitu ya Tuhan? Jangan-jangan aku salah lagi, ….Tuhan!

….Tuhan…hallo..ya hallo….hallo Tuhan, aku ini  calling Dikau, mengapa tidak diangkat?

Mungkin Tuhan memang tidak ingin mendengar kisahku. Aku harus tahu diri, urusan ini memang tidak perlu membawa-bawa Tuhan. Apalagi memaksakan Tuhan untuk berpikir masalahku. Jangan-jangan Tuhan malah murka. Membuat banjir, membuat longsor dan membuat Tsunami. Sehingga banyak perusahaan habis, investasi tidak jalan, ekonomi tidak semarak, hingga akhirnya banyak kantor dan perusahaan tidak buka lowongan kerja…kasihan mahasiswaku nanti, lulus sekolah tidak  bisa kerja.Kasihan bapak ibunya yang penuh harap terhadap anaknya. Duh..aku malah bikin beban mereka. Terima kasih bidadari yang telah menjawab: silahkan beri pesan anda! Kali ini aku tidak beri pesan di mailbox. Sungguh…sumpah! Biar… Tuhan tidak marah.

……………….Mama…Papa…..susu!….terbangulah aku. Terbangun oleh teriakan anakku yang minta susu tepat jam 04.15 itu. Itulah kebiasaan buruk anakku (3,9 tahun) yang jadi pemerintah, tukang perintah orang tuanya di negeri mungilku. Alhamdullilah ternyata cuma mimpi!

adhitya@Jember, Medio 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s