Membangun Industri Kecil Tangguh

Beberapa bulan yang lalu kunjungan promosi dagang pejabat Pemkab Jember dan  beberapa Pengusaha serta Rektor Universitas Jember ke Eropa membawa harapan-harapan yang cerah bagi kota suwar-suwir Jember. Diberitakan bahwa banyak pengusaha yang tertarik dengan potensi yang dipamerkan oleh duta Jember tersebut. Satu trobosan yang perlu dilakukan secara sinambung di masa depan. Kondisi sebaliknya sempat juga diberitakan bahwa permintaan produk suwar-suwir hasil industri kecil unggulan Jember tiap tahunnya menurun. Dan keadaaan menyedihkan dilaporkan oleh Radar Jember JP 18/05/2001, terjadi ledakan pada industri krupuk di daerah Mangli, yang mengakibatkan meninggalnya karyawan pabrik krupuk tersebut.

Mencermati berita yang kontradiktif tersebut menarik untuk diperbincangkan. Apalagi jika dikaitkan dengan tekad pembangunan  industri yang akan mampu membawa perubahan yang fundamental dalam struktur ekonomi Indonesia. Harapan berikutnya adalah mampu mewujudkan struktur ekonomi yang semakin berimbang  antara industri besar dan kecil,  antara industri modern dengan  tradisional. Dengan  proses  industrialisasi akan mampu mendorong berkembangnya industri  sebagai pengerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi, perluasan lapangan kerja dan pemeratan pendapatan masyarakat. Namun demikian kenyataannya kinerja industri kecil masih jauh dari harapan. Bisa dikata bahwa perkembangan sektor industri masih mengidikasikan struktur industri kita belum dalam (shallow) dan belum berimbang (unbalance).

          Tulisan ini mencoba mendiskusikan kondisi apa yang harus disiapkan untuk membuka peluang industri kecil. Mengingat di era Otoda ini keberadaan industri kecil sebagai penopang pembangunan daerah semakin penting perannya, dan untuk Jember potensi ke sana terbuka lebar. Meskipun disatu sisi industri kecil dihadapkan pada problem internal yang cukup krusial.

Dilema Klasik Industri Kecil

Biasanya yang menjadi hambatan klasik bagi munculnya industri kecil yang tangguh adalah sektor permodalan. Modal dalam industri kecil ibarat ‘darah’  yang senantiasa mengalir dan menjaga kehidupan tubuh manusia. Meskipun pada waktu sekarang sulit untuk mengukur kategori modal bagi industri kecil di Indonesia, jika dibandingkan dengan negara Cinapun kita masih kalah jauh. Disana modal kerja Industri kecil bisa mencapai milyaran rupiah yang mungkin di Indonesia masuk dalam kategori industri sedang dan besar. Disamping juga faktor lemahnya manajerial serta belum kuatnya jaringan di tingkat bawah. Lebih tepatnya industri kecil sering mengalami kesulitan dalam meningkatkan efisiensi usaha dan kesulitan dalam memperbaiki hasil produk.  Sehingga keluhan klasik ini sering muncul dari pengusaha kecil. Kondisi ini memang tidak dapat begitu saja menyalahkan mereka. Karena kenyataan yang muncul adalah kebijakan memberdayakan industri kecil melalui sektor permodalan atau manajeman operasional perusahaan malah banyak ditangkap oleh industri besar, sehingga industri kecil selalu keteter terus.

 Ditengah keteter tersebut sebenarnya industri kecil mempunyai banyak kelebihan dibanding dengan industri besar. Hal ini terbukti bertahannya industri kecil dalam libasan krisis ekonomi. Jelas jawabnya bahwa industri besar tumbuh secara gigantis di Indonesia dengan bantuan protektif dari rejim Orba dengan serangkaian kebijakan ekonominya. Secara teoritis dan juga terbukti dilapangan ternyata industri kecil mempunyai banyak keunggulan dibanding dengan industri besar seperti:  mampu untuk keluar masuk pasar menyesuaikan kondisi pasar. Disamping itu secara manajemen operasional memiliki biaya overhead yang lebih kecil. Serta  fleksibelitas industri kecil dalam mengatisipasai perubahan lingkungan  pasar. Untuk itu pemberdayaan daya dukung perekonomian suatu daerah terletak pada efektivitas perilaku pelaku ekonomi daerah yang bersangkutan.  Semakin efisien pelaku ekonomi  bekerja  semakin  besar  daya  dukungnya terhadap  perekonomian daerah yang bersangkutan

Lingkungan Usaha dan Potensi Industri Kecil Jember

Menciptakan lingkungan kondusif usaha. Mungkin itu hal yang paling tepat bagi kota Jember untuk membangun industri kecil yang tangguh sehingga menyerap banyak lapangan kerja. Disamping itu Jember belum punya budaya industri kuat seperti halnya dengan  Kabupaten Sidoarjo atau daerah lain di Jawa Timur. Hal ini dimaklumi sebagian besar penduduk Jember hidup disektor agraris. Namun demikian dalam era Otoda diperlukan pemikiran inovatif kedepan, salah satunya dengan cara meningkatkan jiwa kewirausahaan penduduk setempat dengan menciptakan lingkungan usaha yang sehat.  Pertanyaan berikutnya dimulai dari mana menciptakan lingkungan usaha yang ideal tersebut? Gampang-gampang sulit untuk menjawabnya. Secara potensial Jember mempunyai industri kecil yang mampu di jual dan ditingkatkan, dari industri yang berbasis pertanian sampai non pertanian. Industri garmen dan bordir sempat menjadi pembicaraan hangat dibeberapa tahun yang lalu. Juga tanpa disadari Jember memproklamasikan nama kota Suwar-suwir yang menjadi trade mark kota. Satu elemen penting dalam hal ini, image sudah didapat. Namun sayang sejauh ini kurang terdengar gaungnya.  Padahal seperti yang diberitakan Radar Jember JP diatas permintaan produk indutri kecil Jember ternyata ada, bahkan dari luar negeri.

Industri kecil tidak dapat berdiri sendiri, dukungan lingkungan politik sangat diperlukan. Dalam hal ini adalah dukungan pemerintah khususnya pemerintah daerah menjadi sangat mendesak untuk diformatkan, apalagi dalam menarik investor. Pemerintah daerah harus mampu untuk merumuskan dan membenahi kebijakan yang mantap, dan menghindari kebijakan daerah tentang industri kecil yang  maju mundur dan tumpang tindih. Pemerintah daerah harus mampu meyakinkan investor tentang aspek keamanan dan stabiltas daerah. Setiap investor pasti memerlukan kepastian penegakan hukum yang menyangkut jelasnya hak dan kewajiban ditambah dengan kondisi perburuhan yang tidak memburuk. Logika bisnis dan investasi adalah tidak mungkin orang membuat kalkulasi bisnis kalau kebijakannya tidak mantap.

Dalam keadaan seperti sekarang mendesak adanya jaringan informasi yang jelas. Pemerintah daerah harus menyakinkan para pelaku bisnis kecil daerah pentingnya jaringan infomasi untuk membangun industri kecil yang tangguh. Selain itu, perkuat forum kerjasama antara industri kecil juga harus secara proaktif difasilitasi oleh pemerintah daerah, sehingga diharapkan terjadi bussiness matching antar pengusaha kecil.  Dengan forum ini juga diharapkan terpikirkan standar lokal untuk kepentingan ekspor.

Setelah kondisi ini tercapai langkah selanjutnya adalah promosi. Namun perlu diingat bahwa pemerintah daerah harus tampil simpatik tidak saja pada investor yang akan masuk, tetapi juga pada pebisnis daerah dengan menunjukkan komitmennya sampai tahap operasionalisasi investasi dan industri tersebut berlangsung di daerah. Satu hal yang juga disiapkan dalam menghadapi perdagangan bebas adalah  hak paten merk (HaKI). Hal ini akan meminimalisasi pembajakan atas barang produk yang dilakukan oleh pengusaha baik asing maupun dalan negeri, mengingat HaKI telah melindungi produk dengan kekuatan Undang-undang dan hukum yang berlaku.

Terakhir mendesak juga untuk membangun etika bisnis sehat dikalangan industri kecil. Bagaimanapun semangat memajukan  industri kecil yang diharapkan  bermunculan di daerah, kalau tidak diperkenalkan etika bisnis yang jelas akan sulit mengalami kemajuan yang pesat. Seperti halnya industri besar,  kendala industri kecilpun hampir serupa yaitu  persaingan antar sesama mereka sendiri yang tidak sehat. Ada indikasi bahwa dalam melakukan negosiasi dengan buyer asing saling banting harga dengan tidak memperhatikan kualitas. Industri kecil hadir tidak semata menghasilkan produk dan jasa, harus dihindari  paham free enterprise yang mengabaikan tanggung jawab sosial. Masalah hubungan pemilik industri, pengelola dan karyawan harus jelas. Kesejahteraan dan kesehatan serta keamanan karyawan perlu menjadi perhatian yang serius karena dalam industri kecil sulit memantau hal yang sebenarnya terjadi.

Mencermati kondisi ini maka hanya dengan memperhatikan etika bisnis akan mucul industri kecil tangguh daerah.  Dalam hal ini dibutuhkan pepatah “good business require realiable ethics” .

Penutup

Peluang dan potensi Industri kecil Jember sangat terbuka untuk di kembangkan. Pasar terbuka lebar. Yang diperlukan adalah political will pemerintah daerah Jember  bersama masyarakat membangun lingkungan usaha yang ideal. Bukankah  lebih baik memiliki industri kecil dalam jumlah banyak  dengan menejeman  tangguh  daripada  memiliki sedikit  industri besar  namun hanya jago kandang. Bukankah ada ungkapan kecil itu indah,  gajah kalah oleh semut. Dan alangkah indahnya beranting lebih tinggi dan melangkah lebih maju.

Satu cerita kecut, sewaktu musim Winter (dingin) kemarin saya dan rekan Indonesia lainnya sempat membeli Pullover (baju hangat), lumayan mahal untuk ukuran mahasiswa yang hidup dari beasiswa macam kami. Rekan saya dari Bandung sempat nyletuk kayak yang ada di Cihampelas (Bandung).  Eeh, dua hari kemudian rekan dari kota lain memberi tahu kalau beli pakaian jangan di supermarket “X” tersebut, karena sebagian besar di pasok dari Indonesia. Wah, ketipu rek! Antara bangga dan nyesel juga. /Marburg – Sommer Semester 2001

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s