Menimbang Kekuatan Euro

Beberapa hari lagi mata uang Euro sudah mulai digengam banyak orang (khususnya di negara-negara Eropa), baik dalam kepingan logam atau kertas. Mata uang Euro memang relatif baru sebagai alat transaksi pembayaran meskipun  sudah resmi mulai 1 Januari 1999 diperkenalkan, namun masih dalam bentuk transaksi non tunai (TT). Masa peralihan penggunaan mata uang tersebut diberikan selama tahun 2001, sedangkan Cash Bank Notes (mata uang tunai) baru mulai diterbitkan pada tahun 2002. Mengingat masih barunya mata uang tersebut, maka saat ini masih berlaku masa transisi untuk beberapa bulan kedepan, dimana bagi negara-negara yang bergabung dalam Euro masih dapat menggunakan “dual currency” sebagai alat pembayaran resmi yaitu Euro dan mata uang resmi yang selama ini berlaku. Di zone Euro sendiri diperkirakan lebih dari 300 juta warga negara akan menggunakannya sebagai media transaksi pembayaran.

Gaung dan demam uang Euro mulai terasa akhir tahun ini. Tidak saja dalam pembicaraan yang serius di Parlemen Eropa atau talk show ekonomi di TV, namun sudah masuk ke toko-toko kecil dan masyarakat luas di Eropa. Nada pesimis dan optimis silih berganti. Di Jerman sendiri masyarakat masih menanggapi dengan rasa bimbang dengan pergantian mata uang Euro nantinya. Beberapa hari lalu ditayangkan di salah satu TV Jerman, kemungkinan buruknya bergantian uang ini sebagai alat transaksi. Dimana digambarkan betapa repotnya masyarakat yang masih memegang uang DEM (Deutsche Mark) dan sementara transaksi harus berlangsung dengan Euro. Meskipun masyarakat dan dunia usaha menerima langsung dua mata uang untuk sementara waktu, namun demikian terlihat sekali kemungkinan timbulnya kesulitan transaksi ekonomi yang terjadi. Dicontohkan untuk membayar ongkos Taxi saja masih repot dengan uang kecil yang kemungkinan tidak dimiliki oleh sopir Taxi dan juga pelanggan. Kondisi ini terkadang  mengharuskan pelanggan membayar lebih, karena sopir Taxi tidak punya uang kecil. Dan juga beberapa tayangan lain yang senada.

Euro adalah produk uni moneter dari beberapa negara Eropa, dengan sendirinya kehadirannya mempunyai beberapa implikasi logis terhadap tumbuh kembangknya pasar uang dunia. Adapun dampak dari mata uang Euro tentunya akan sangat significant terhadap pasar uang dunia (termasuk di Indonesia) karena dengan diberlakukannya mata uang tersebut akan dapat menekan dominasi USD (Amerika Dollar) disamping Yen– Jepang. Saat ini di Pasar Uang Lokal (Indonesia) transaksi Euro relatif masih sangat kecil, karena disamping masih baru, masyarakat lebih familiar terhadap USD akibat terjadinya gejolak nilai tukar Rupiah terhadap USD. Sedangkan pada beberapa Bank Swasta Devisa sudah mulai melakukan transaksi dalam mata uang Euro tersebut. Untuk itu tentulah menjadi perhatian tersendiri dari otoritas moneter dalam hal ini Bank Indonesia dalam mengontrol valuta asing. Ketimpangan supply dan demand valas tentunya juga mempengaruhi jalannya perekonomian nasional.

Selain itu, demam Euro sudah begitu meninggi, terlihat dengan  terpampang ‘banner’ Euro dimana-mana dan juga aksi-aksi pengenalan seperti di Stasiun KA, Bus, Supermarket dan brosur-brosur. Meskipun demikian masih saja sulit membayangkan semua akan berjalan dengan mulus. Misalnya, ditingkat makro ekonomi, keputusan untuk berinvestasi di dua mata uang kuat dunia ini samakin menjadi wacana menarik untuk di cermati. Terlebih selisih antara  USD dan Euro sangatlah tipis. Tentunya indikator ekonomi makro di kedua kawasan ‘penghasil’  mata uang tersebut sangat tidak bisa diabaikan.Variabel-variabel yang menjadi kajian menarik adalah neraca perdagangan, investasi dan beberapa indikator keamanan ekonomi kawasan. Dan bisa jadi sentimen-sentimen di luar variabel ekonomi seperti politik dan keamanan kawasan patut menjadi perhatian juga.

Dalam kondisi ekonomi dunia yang semakin  terbuka dimana intensitas lalu lintas pembayaran karena adanya kegiatan perdagangan jasa dan barang, memaksa mata uang dunia (yang kuat tentunya) hilir mudik di lembaga-lembaga keuangan Internasional dengan perputaran yang luar biasa hebatnya. Satu aksioma ekonomi yang tidak bisa dilepaskan adalah bahwa kalau dalam kegiatan perdagangan pasti ada yang membeli dan ada yang menjual. Ada yang rugi dan ada yang untung. Dalam terminologi perdagangan ekonomi internasional ada yang defisit dan ada yang surplus. Dari hal ini maka investor turut memegang peranan apakah mereka memilih USD atau Euro. Implikasi lebih lanjut adalah sejauh mana perputaran uang itu berlangsung dan siapa yang akan memegang kendali tentulah yang akan menang.

Kecenerungan investor Asia juga harus di perhitungkan. Jelas meskipun negara kawasan Asia tidak memiliki mata uang kuat. Meskipun supremasi ekonomi dunia di belahan Asia sudah terwakili oleh Jepang dengan Yen-nya ternyata tidak cukup kuat untuk mempengaruhi USD keluar dari keperkasaannya. Namun demikian investor-investor Asia turut mewarnai kuat tidaknya Euro atau USD dikemudian hari. Motiv berjaga-jaga investor dengan sedikit menjauh dari USD pasti ada, meskipun tidak semuanya.Ada kemungkinan, sebagai supremasi baru, Euro masih mengalami kondisi yang rentan dari serangan USD. USD memiliki keunggulan sebagai valas yang tahan banting dengan kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang lebih fleksibel dan mencari aman disamping pranata keuangan internasional USD ini telah begitu mapan. Hal ini tentunya sedikit sulit bagi Euro yang harus mendapat persetujuan dari 11 negara Uni Eropa secara cepat merespon perkembangan ekonomi dunia, meskipun bank sentral Euro yang ada di Frankfut memiliki kewenangan mengatur jalannya currency ini.

Meskipun pasca aksi teror 11 September 2001 kemarin sempat membuat mengeliatnya Euro demikian hebat terhadap USD namun demikian akhirnya masih sulit juga untuk meramalkan, apakah Euro mampu mengambil alih supremasi USD, atau sebaliknya USD malah semakin kuat, sangat sulit diramalkan. Bagi sebagian kalangan Euro tidak diharapkan akan berhasil. Namun kenyataannya Euro saat ini menjadi tumpuan untuk membenahi permasalahan keuangan dunia. Dan bahkan merupakan ancaman bagi keperkasaan dollar Amerika Serikat. Namun demikian, semuanya berpulang pada kepercayaan masyarakat internasional, yang tentunya di wakili olah investor dunia, perusahaan multi nasional dan perbankan internasional. Dan juga antisipasi otoritas moneter masing-masing negara zone Euro dalam menanggulangi kemungkinan pemutihan uang gelap dan pemalsuan uang Euro. Variabel ekonomi penting seperti inflasi turut menjadi prioritas perhatian.  Memang hingga kini inflasi  negara Uni Eropa mampu ditekan dan kinerjanya lebih baik dari inflasi Amerika, akan tetapi kondisi praktis mempelihatkan bahwa kenaikkan harga dalam mengantisipasi Euro serta musibah BSE (sapi gila- khususnya di Jerman) dan penyakit kuku dan mulut pada sapi menjadikan komoditas pertanian khususnya daging sapi sempat membuat gerakan fluktuasi harga cukup significant. Dengan begitu membuat image bahwa stabilitas zone Euro akan menjadi point penting bagi performance Euro nanti. Akan tetapi tidak ada yang pasti dalam ekonomi, terlebih dalam dunia moneter dan finansial. Jadi mari kita tunggu apa yang akan terjadi dengan Euro, mampukah menjadi currency alternatif yang kuat? Semoga tepat tanggal 1 Januari nanti, Euro sudah siap diambil dari Anjungan Tunai Mandiri (ATM), yang secara langsung mencerminkan kesiapan Euro di masa transisi. Selamat datang Euro!?. /Marburg pada liburan Natal, 23.12.2001.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s