Orang-orang Tangguh (1)

Sejarah penuh orang-orang hebat, orang-orang tangguh. Dan sangat subyektif untuk menarik garis mana tertinggi dan terendah, ada Miyamoto Musashi (kenshei paling sakti 1584-1645) ataupun Harald Hardrada (Last Viking 1015-1066). Atapun dari sisi gender perempuan ada Tomoe Gozen (Pendekar Wanita 1157-1247), Agustina of Aragon (Joan of Arc-nya Spanyol 1786-1857) dan di Indonesia kita mengenal Cut Nyak Din dan Laksamana Malahayati dari Aceh. Mereka terkenal tangguh di medan perang.  Medan pertempuran tiap orang pasti beda. Beda tantangan dan beda cerita. Pertempuran keluar dari penjajahan untuk merdeka sebagai manusia yang memiliki azasi adalah tuntutan alamiah setiap manusia.

Masa kini, beberapa waktu yang lalu aku sempat  membaca resensi buku dan film 9 Summer 10 Autum. Meski beberapa waktu silam Kick Andy Show telah memberi pertunjukan yang sangat menginspirasi di setiap episodenya. Kali ini tantangan hidup Iwan patut menjadi permenungan. Kisah Iwan dari Kota Batu, anak sopir angkot dan ibu yang bersahaja dan tidak tamat sekolah dasar, sebuah kisah perjalanan yang sungguh mengharukan. Berangkat dari kota Apel dan sukses bekerja di The Big Apple, New York. Ternyata kombinasi antara mimpi, ketekunan, dan doa menjadi sarana seseorang keluar dari pola linier keluarganya. Temuan menarik dari kisah ini adalah ternyata pendidikan telah menjadi kanal akselerasi pikir dan pendalaman pemahaman  atas adukan suasana hati yang begitu dalam. Betapa pengambaran keluarga sederhana yang mampu keluar dari takdir patron hidup keturunan sebelumnya untuk menjadi CEO di Perusahaan terkemuka di Amerika. Jelas pada titik ini memberi fakta nyata bahwa dedikasi, profesionalitas, kerja keras, keteguhan adalah harga dari sebuah sistem perekrutan yang zero nepotism dan tanpa katabelece, telah berbuah manis – berbuah sebuah kebanggaan. Fakta lain memberi gambaran betapa keteguhan itu adalah kombinasi dan permutasi yang sangat rumit antara manusia dengan manusia, manusia dangan lingkungan dan manusia dengan horizon kehidupan lalu, hari ini dan masa datang. Hanya orang-orang tangguh yang mampu memiliki ketabahan yang begitu dalam dengan segala dera dan nestapanya.

Di bandara Schipol – Amsterdam dimana aku transit dalam perjalanan Bonn ke Kualalumpur Jumat 10 Mei 2013 lalu sambil antri menunggu ke ruang boarding Gate E27 dimana pesawat KLM parkir, untuk  chek ulang, tanpa sengaja aku bertemu seorang anak muda asal Malaysia, seorang keturunan China (tiga group besar ras disana Malayu, Chines India:  Malaysia, dengan salamnya yang khas, Salam 1Malaysia (baca: salam satu Malaysia). Dia baru saja menyelesaikan training kerja 4 bulan di Jerman selatan Bavaria di Kota Muenchen. Tanpa menyebut perusahaannya yang bergerak dibidang teknik dia mengatakan dari perusahaan Australia. Pendidikan bachelor dia tamatkan di salah satu universitas di Adelaid Australia dan dia sengaja tidak pulang ke Ipoh-Malaysia sudah lebih 5 tahun selepas sekolah. Berbagi cerita seputar pengalaman di tiga negara tiga benua, memberi impresi padaku yang begitu besar. Nendang banget di kalbuku. Bahwa anak muda ini punya keinginan kuat untuk bergerak ke depan. Cakrawala pemikirannya sangat panjang. Luar biasa! 1000 jempol untuknya.

Anak muda dengan mimpi besarnya. Ya, teringat Bung Karno dengan lantang berucap: …beri aku 10 pemuda maka akan aku guncang dunia!.. Ya anak muda untuk mengisi dan membangun Indonesia. Rupanya sejarah membuktikan memang benar adanya. Fenomena brain drain menunjukkan lain kisahnya. Pada dinner malam terakhir di rumah Duta Besar Jerman untuk Malaysia Dr. Gruber, di residence dinas Kedutaan Jerman di Kuala Lumpur itu aku bertemu dengan rekan lama, yang pernah bersua direntetan tahun 2000-2004 di Jerman dalam event-event ilmiah. Usianya beda 1-2 tahun denganku, dia adalah Prof. Dr.-Ing. Eko Supriyanto, doktor alumnus Jerman yang sekarang menjadi profesor dalam bidang medical imaging, medical electronics, medical informatics ultrasound technology, healthcare technology management dan membawahi beberapa unit dan departemen di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Menapak tilasi tokoh ini teringatku beberapa kali saksikan profilnya ditampilkan di TVOne dan Metro TV. Peneliti tangguh ini berangkat dari Indonesia ke Jerman dengan cita-cita besar. Fakta menuntutnya hijrah mencari kepuasan batin. Penelitian demi penelitian dengan temuan-temuannya yang sungguh fenomenal berangkat dari seperangkat kombinasi yang tegas antara kompetensi sumber daya manusia dan visi jelas. Kadang tidak/belum ditemukan dengan segera di tanah air, maka mereka rela untuk bertapa di luar. Hebatnya, sepenggal kata yang sangat aku ingat pada malam itu sebelum mengejar jadwal penerbangan pulang ke Jerman adalah …mas Adhit, bagaimanapun, saya gunakan situasi ini untuk juga membangun Indonesia.  Aku terdiam sejenak. Takjub, satu penggal ucapan orang hebat di negara tetangga. Respek…respek..respek…Wow, satu kata dari Prof. Eko Suprianto yang sungguh mengesankan menjadi pamungkas pertemuan dan kita bersepakat untuk bertemu lagi di awal Juni di kota Aachen dan Koeln dengan beberapa program yang ingin kita buat dan terputus karena waktu. Pada titik itu, sejurus pikiranku otomatis ke tanggung jawab saya saat ini sebagai Sekretaris International Office Affair – Universitas Jember yang harus mengoptimalkan peluang untuk menjalin kerjasama untuk kemajuan Unej. Selepasnya dengan sigap panitia dari Kementerian Pengajian Tinggi (baca: Kementerian Perguruan Tinggi) Malaysia membawaku mengejar deadline check in ke Kuala Lumpur International Airport.

Begitupun kisah Iwan dari Kota Batu, impian membangun Indonesia menjadi begitu membahana di dada, ia tinggalkan status dan gaji besar disana untuk Indonesia. Kerinduan bumi pertiwi yang begitu dalam membawanya kembali ke tanah air. Namun masih begitu banyak orang-orang tangguh Indonesia yang tersebar dalam jagad prestasi dengan penuh talenta dan penuh potensi serta energi dan juga masih berasyik masuk dengan karyanya yang  mondial.  Dengan  pasti ikut mengharumkan bangsa. Orang-orang tangguh bak bergeloranya samudra dengan riuh rendah pasang dan surutnya. Benar kata bung Karno, orang-orang tangguh laksana membandingkan dua lukisan…..”Aku lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase”

Akhirnya…kita tidak butuh berapa Summer and Autum Season, kita butuh anak-anak muda, orang-orang tangguh dalam bergeloranya semangat Dry and Rainy Season yang memukul dan mengebu-gebu. Ya! tidak kemana-mana hanya di Indonesia dengan pemikiran dan karya bak orang tangguh.

Bonn, 16 Mei 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s