Orang-orang tangguh (2)

Pada paruh perjalanan pendidikan doktoralku di Goettingen 2003-2006 silam aku sempat mengikuti orasi ilmiah dari Nobel Laureate Prof. Dr. Amartya Sen, seorang penerima hadiah Nobel 1998 dengan buah pikirnya mengenai welfare economy. Penerima hadiah nobel ini datang ke Jerman, ke Goettingen, ke George-August Unversity atas undangan anak didiknya dulu Profesor Stephan Klasen yang menjadi profesor di George-August University. Sebuah acara langka yang bisa aku temui di tanah air. Ada perasaan bangga aku dapat mengikuti langsung orasi ilmiah tersebut. Bagaimana tidak didepanku penerima nobel dari rumpun benua yang sama– Asia –meski berkewarganegaraan Amerika dan dalam bidang yang sama pula dengan yang aku tekuni. Ilmu ekonomi dengan dinamikanya. Dominasi orang Asia menyeruak masuk ke daftar penerima hadiah nobel ekonomi dari gerombolan klasik orang-orang Eropa dan Amerika. Tidak mudah menggambarkan bagaimana suasana hatiku waktu itu.

Sebagai seorang pengajar ilmu ekonomi, aku kenal beberapa buku ajar bermutu, misalnya Damodar Gujarati dan Ramuramanathan dengan buku Econometrics-nya. Alpha C Chiang dengan buku matematika ekonominya. Ataupun pemikir ekonomi hebat lainnya yang keturunan India atau China. Coba telusuri website universitas di belahan Eropa dan Amerika, sungguh mengagumkan, banyak nama-nama India dan China yang menghiasi website Universitas dan Lembaga Riset di Eropa dan Amerika.  Jelas kita cermati nama-nama itu genuine, asli nama India tidak ada tambahan sepotong namapun, baik didepan, ditengah maupun dibelakang. Kita memang tidak sedang memperbincangkan apalah arti sebuah nama dari sepotong pertanyaan dalam Novel Shakespeare. Tapi kita bicara keaslian yang bersemi dan mekar di taman lain. Apa artinya ini? Bagaimana kita mengartikulasikan fenomena ini?  Mereka eksis dan dominan. Tentu banyak pertimbangan rumit mengapa mereka mau berlama-lama, beranak pinak  dan bahkan rela pindah kewarganegaraan.  Latar belakang kuat apa yang memotivasi mereka? Apakah paspor sama dengan nasionalisme? Apakah mereka patriotis atau cuma pragmatis?

Bagaimana dengan ilmuwan Indonesia. Tidak sedikit ilmuwan Indonesia ataupun tenaga terlatih Indonesia di luar negeri. Berapa  banyak anak muda Indonesia dengan penuh talenta berasyik masyuk dengan karya besar dan terbaiknya di luar sana. Mengapa? Alasan ilmuwan muda Indonesia yang memilih melakukan penelitian untuk negara lain dilandasi pada perasaan tidak berguna yang dirasakan ilmuwan muda yang baru lulus kuliah di luar negeri ketika tiba di Tanah Air. Biasanya jiwa muda mereka bergejolak, mungkin sudah menyandang gelar doktor atau bahkan profesor, tetapi hasil pendidikannya selama ini tak mendapat tempat ataupun dihargai dalam lembaga dan institusi dimana dia berkarya di tanah air. Doktor muda biasanya punya semangat membara, semangatnya tinggi, ada perasaan ilmunya tak berguna dan eksistensinya terpotong sistem yang berlaku. Inilah yang kadang-kadang menyebabkan mereka memilih tetap di luar negeri. Lebih-lebih lagi, penghargaan terhadap ilmuwan di dalam negeri juga, jauh lebih kecil ketimbang di luar negeri. Keprihatinan masih terasa di dalam negeri, betapa nestapanya nasib peneliti lembaga pengetahuan negeri dengan gajinya relatif kecil meskipun bergelar profesor.

Namun demikian, disadari atau tidak, sebuah fakta nyata bahwa masih begitu banyak orang-orang tangguh Indonesia yang tercecer di jagad luar Indonesia memberi warna dan nuasa elok bagi Indonesia, meski tidak langsung. Pepatah mengatakan tidak ada kesuksesan tanpa penderitaan. Mungkin berawal menapak sebagai sekrup-sekrup kecil di laboratorium dan institute ternama Eropa,  tapi lebih dari itu dinamikanya tumbuh pesat menjadi penemu yang inovatif dan kreatif. Kerja keras dengan pasang dan surut dan kadang kalah untuk pencapaian hakiki dari jalan sutra yang dia yakini. Sungguh merupakan pengorbanan yang luar biasa.

Apakah ini hanya fenomena bran drain semata?  Atau hanya brain hub saja? Mungkin kita harus menelusur lebih dalam makna mobilitas manusia-manusia tangguh ini. Fenomena mobilitas manusia terdidik atau migrasi tenaga terdidik dan terlatih sering kali disebut  dengan istilah brain drain. Kenyataan ini dipicu oleh dua faktor penyebab, yaitu faktor penarik dan faktor pendorong. Pertama, faktor penarik lebih diarahkan pada faktor yang datang dari wilayah tujuan, misalnya untuk memperoleh kejayaan ekonomi dan kehidupan yang lebih baik, fasilitas pendidikan, penelitian, dan teknologi yang lebih memadai, kesempatan memperoleh pengalaman bekerja yang luas, tradisi keilmuan dan budaya yang tinggi, dan sebagainya.  Sedangkan faktor kedua adalah faktor pendorong, yang datang dari arah dimana daerah asal, misalnya karena rendahnya pendapatan dan fasilitas penelitian, tidak adanya kenyamanan dalam bekerja dan memperoleh kebebasan, keinginan untuk memperoleh kualifikasi dan pengakuan yang lebih tinggi, ekspektasi karir yang lebih baik, kondisi politik yang tidak menentu, diskriminasi dan sebagainya.

Memang tidak dapat serta merta men-judge mereka anasionalis. Kadang jauh dari praduga itu. Pekerjaan yang membutuhkan kemampuan otak, kematangan mental dan determinasi fisik tidak saja membutuhkan semangat dan kemampuan meracik dinamika kehidupan sehingga volatilitas dan keseimbangan karsa dan karya mereka terjaga. Minggu ini semangat menyatukan komitmen dan persepsi untuk Indonesia lagi-lagi terjadi. Diaspora Indonesia, Jumat dan Sabtu ini 23-24 Mei ini diadakan kongres Diaspora Indonesia di Berlin, dihadiri oleh mantan Presiden Indoensia BJ Habibie, jarak yang jauh Bonn ke Berlin dengan ongkos yang lumayan untuk kantongku, aku surutkan semangat untuk hadir disana. Konon hampir 5 juta warga diaspora dari berbagai keahlian yang tersebar di 167 negara, sebagian besar merupakan profesional yang sukses di bidangnya.

Sungguh ironis, data berkata bahwa indeks pembangunan manusia Indonesia masih berada di ranking 124 dari 187 negara.  Padahal pertumbuhan ekonomi cukup menakjubkan diatas 6 %.  Semoga negara dan bangsa besar ini menghargai berputarnya otak dan berkeratnya otot manusia tangguh Indonesia daripada goyangan bokong yang laris manis dan dibandrol mahal. Semoga tidak disalah interpretasikan kalimatku ini.  Apakah ini nasionalisme modern? Apakah ini harga dari nasionalisme modern? Entah aku tidak mau berkasak khusuk, mending menghitung berapa banyak jenis dan pola goyang bokong di Indonesia yang sudah ditemukan, dengan level signifikan tinggi menghibur masyarakat.   Kreativitas asli Indonesia! Perhelatan penuh pergulatan pikir belum dihargai daripada perhelatan hura-hura penuh kilat kamera dan gelak-tawa.  Kadang aku juga begitu malas melihat print out dari hasil analisis data skripsi mahasiswaku, berapa adj. Rsquare-nya, berapa variabel bebas yang signifikan? Apakah terkena sindrom spurious regression dari model  ekonomi yang dibangunnya?..Ah, bukankah lebih baik menghentakkan kaki  dan kepala bergoyang layaknya geleng orang India sambil  mengikuti  irama? Keine Ahnung?! Maaf, Enschuldigung! Maafkan saya. Es tut mir leid!

Bonn, 26 Mei 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s