Pengalaman Studi di Luar Negeri

Model pembelajaran di Perguruan Tinggi menarik untuk disimak. Plus minus adalah kewajaran sejurus dengan terendapnya cara pandang kita terhadap dunia pendidikan tinggi (sistem, model dan outcome) selama ini. Pada galibnya banyak orang membedakan pendidikan yang ada di dunia´ ini menjadi dua model ekstrem yaitu antara sistem pendidikan Eropa daratan dan Anglo-saxon. Entah diadopsi dengan bulat-bulat ataupun dengan muatan-muatan khusus dari kedua sistem tersebut. Namun demikian ‘sepertinya’ sekarang ini sistem eropa dalam ‘kegamangan’. Beberapa tahun belakangan hingga sekarang ada dua model yang diterapkan bersamaan di negara2 eropa daratan, tentu dengan segala – pro and con-, misalnya saja, Belanda yang sudah mengenal Master (MSc dan sebangsanya, padahal dulunya gelar ‘drs’ adalah gelar ‘sakral’ dan setara master serta ‘berhak’ untuk lanjut Doktor; juga Perancis ada DEA atau DES yang setingkat master; Jerman punya Dipl.Ing atau Dipl. lainnya (untuk mencapai Dipl. seorang mahasiswa harus lulus Vordiplom dan berhak untuk mencapai Haupdiplom…biasanya pelajarnya disebut sebagai student.rer.nat atau student.rer.pol..sejurus dengan bidang keahlianya dan sebangsanya yang siap Doktor.rer.nat…. dll). Dan hampir semua ‘master’ (pendidikan sejajar S2) di Eropa daratan adalah ‘by research’ atau paling tidak kombinasi dari ‘by course and research’. Jarang ditemui hanya by course saja. Program yang bermunculan tersebut bisa bertajuk, Bachelor, Master baik dalam bahasa Jerman maupun bahasa Internasional Inggris.

Tanggung jawab kompetensi lulusan tidak saja menjadi tanggung jawab Univ. bersangkutan tetapi juga negara bagian. Di Jerman, untuk mendirikan program pendidikan tertentu harus melalui persetujuan dari Menteri Negara Bagian, karena juga terkait dengan masalah pendanaandan kelayakannya. Biasanya universitas akan berkolaborasi dengan negara bagian bahkan pemerintah kota dalam hal penyediaan fasilitas bagi mahasiwa, mulai dari Kantin (red. Menza), appartemen, angkutan (Bus, KA), diskon beli buku atau barang elektronik bahkan untuk menikmati konser musik klasik, hingga perpustakaan kota yang sering terintegrasi dengan universitas bersangkutan. Tidak heran status student adalah status yang diinginkan banyak warga negara karena berbagai fasilitas yang didapat dan merekan dapat berlama-lama di dengan status student ini.

Seorang mahasiswa, diberi kebebasan untuk menentukan ‘masa depannya’. Keahlian mereka gali sendiri sampai ‘kedalaman kepuasan’ yang mereka inginkan. Mereka diberi kebebasan untuk memilih mayor dan minor studi. Tidak mengherankan kalau ada yang mengambil Fach. Ekonomi di mayor dan Matematik di minor. Atau sebaliknya. Inilah kadang kala yang menghantarkan mereka mencapai puncak karier, seorang ekonom mampu membuat software ekonometrika atau statistik ekonomi terapan dengan ‘cita rasa’ masalah ekonomi yang memadai. Contoh lagi, masalah ‘skripsi’ dan sebangsanya, minim sekali ada kasus plagiat dan sebangsanya, karena keinginantahuan mereka yang begitu tinggi tidak jarang yang hanya untuk menulis ‘Skripsi saja’, mereka rela mengambil data langsung negara tujuan (untuk kasus tertentu). Mengapa ini bisa terjadi, karena dukungan lembaga privat, industri, partai politik, gereja, negara bagian dan universitas cukup tinggi tidak saja informasi tetapi juga dukungan dana. Disamping itu kendala bahasa asing jarang ditemui oleh mahasiswa disini. Mereka paling tidak paham dengan baik satu bahasa asing, biasanya Inggris, Perancis, atau Spanyol (yang didapat dibangku SMA dengan baik). Berangkatlah mereka ke Afrika Barat untuk yang fasih bahasa Perancis, atau ke Amerika Latin untuk yang fasih bahas Spanyol. Untuk ke Asia tak jarang mereka bersedia untuk berjibaku 2-4 bulan belajar bahasa asing di negara tujuan secara inten dengan modal bahasa Inggris yang bagus. Cermati menjamurnya kursus bahasa Indonesia di Yogyakarta misalnya, di bilangan ‘njero benteng alun-alun selatan’.

‘Kegamangan’ dan Demokrasi

Sejalan dengan perubahan ‘jaman’ dan seretnya perekonomian, serta pergeseran politik yang terjadi di Eropa dan Jerman pada khususnya telah terjadi penurunan ‘kenikmatan’ status student di Jerman. Masa keemasan ‘kebebasan’ status student berangsur-angsur berkurang. Uang sekolah (SPP) sudah mulai diberlakukan di beberapa Universitas di hampir semua negara bagian. Demo besar-besaran mulai tahun 2003 lalu tidak kunjung membuahkan hasil. Konon masalah kriminal yang tinggi mengharusnya pemerintah negara bagian Nieder-Sachen Jerman, misalnya,
harus mengkonsentrasikan budget untuk pendanaan kepolisiannya. Sehingga dana banyak dialihkan dari sektor pendidikan ke sektor keamanan. Walhasil adalah subsidi yang berkurang untuk lembaga riset dan pendidikan tinggi. Juga kategorikal strata pendidikan ‘Eropa daratan’ yang kurang umum seperti tersebut diatas banyak mengakibatkan ‘kesulitan’ dlm mencari pekerjaan karena ‘gara-gara’ gelar ‘Diplom’ yang katanya sering ditaruh di level pekerjaan kurang memadai jika bekerja di luar Jerman. Entah alasan mana yang benar, konon kabarnya pula tahun 2009 nanti secara serempak akan diberlakukan penstandarisasian level pendidikan; yaitu Bachelor,Master dan Doktor. ‘Mirip’ sistem anglo-saxon ataupun pen-aglo-saxon-an barangkali. Dan lambat laun ditiadakanlah gelar Diplom (Dipl.) gelar kebanggaan alumni Jerman yang selevel dengan Master tersebut.

Terlepas ‘kegamangan’ standardisasi tersebut tapi bisa jadi hal ini merupakan realita yang sebenarnya, meski kadang standar pendidikan memang sulit diseragamkan. Kegamangan itu seperti menuntut banyak keterbukaan yang lebih. Jika melonggok kebelakang belasan abad lalu, konon ceritanya di abad 11-12 lalu di Eropa ini universitas diorganisir dengan dua cara yaitu pertama, dikelola oleh mahasiswa dan kedua, oleh dosen. Dalam hal yang pertama, mahasiswa memilih rektor dari kalangannya sendiri. Mahasiswa, jadinya, menikmati hak khusus: demokrasi, kebebasan, self administration. Ini adalah kemewahan yang luar biasa di jaman monarkhie dan absolutisme waktu itu. Mahasiswa yang datang dari rantau memiliki perkumpulan sendiri, yang disebut “nationes”. Kira-kira bisa bayangkan kerumulan kelompok Mahasiswa Ambon, Jawa, Kalimantan, Papua membuat organisasi Univeristas sendiri. Ini banyak dipraktikkan dulu oleh univeritas Italia.

Sedangkan kedua adalah, jika dosen yang menjadi penentu banyak dipraktekkan oleh Universitas di Perancis. Selain rektor, jabatan lainnya adalah dekan, senat dan kanselir (kepala administrasi). Kanselir adalah wakil Paus, misalnya Bischoff. Dana universitas diperoleh dari gereja atau kloster, negara (kerajaan) maupun perusahaan. Tanah biasanya merupakan hadiah gereja atau kerajaan. Model dan gaya pasti tidak berjalan linier namun perubahan adalah suatu kepastian sejurus dengan pemuthahiran pemikiran civitas akademika dan lingkungan masyarakatnya. Universitas Jerman adalah mungkin universitas modern yang kian sengsara. Meski penyumbang banyak peraih hadiah nobel dan pioner pengetahuan, misalnya saja Universitas Goettingen yang ‘baru’ berdiri 1737 sudah menghasilkan 43 Nobel prize winner, namun nyatanya outcome dan outputnya harus tertatih dalam komodifikasi pendidikan pada jaman modern ini. Globalisasi menyeret sistem pendidikan murah pada logika komersialisasi yang ditentang habis oleh kaum mudanya (bersambung).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s