Pertama Terbang ke Eropa

Sehabis mengurus tiket dan menyodorkan kertas ijin belajar dari Sekkab beserta paspor biru-ku, agar aku bebas membayar fiskal serta pajak di loket penerbangan internasional bandara Ngurah Rai Denpasar, aku tengok lagi orang-orang dekatku yang turut mengantar. Mereka masih berdiri dengan setia di depan pintu. Ku ayunkan lambaian tanganku yang terakhir kali. Mereka membalas mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lantas semua lenyap ditelan tembok-tembok tebal. Itu yang masih kuingat benar peristiwa dikisaran 6 tahun lalu diawal tahun 2000, tatkala pertama kali terbang dari tanah air ke Eropa.

Aku sendiri menuju Kualalumpur dari Denpasar siang itu. Ya, MAS, maskapai Malaysia yang aku pilih disamping ada ego serumpun Asia juga sedikit ada perasaan ‚save’ dari sisi makanan dan kebiasaan, meski aku tahu ada pelayan internasional yang standard terhadap konsumen penerbangan internasional. Kartu boarding aku tunjukkan pramugari manis itu. Dengan ramah encik pramugari itu menunjukkan tempat dudukku yang ternyata di dekat jendela. Duh, senyum manis encik manis pramugari diatas pesawat tidak dapat menghilangkan `stress’-ku, pikiranku goyang. Apa benar aku berangkat ke Eropa. Bagaimana dengan kelengkapan dokument-suratku. Tanpa sanak saudara dan nihil pengalaman. Bagaimana kalau aku sakit. Semua menghiasi isi kepalaku. Sambil sesekali kulonggok tas pinggang berisi dokument penting dan sedikit uang Deutsch Mark dan US Dollar. Meski pendingin ruangan cukup dingin namun perasaanku malah kepanasan-sumuk.

Dengan ramah pramugari menyuruh semua penumpang untuk menegakkan kursi dan memeriksa pengingat pinggang. Dan tak lama kemudian pesawat mulai bergerak mundur. Di susul deru mesin dan baling- balingnya berputar keras, memekakkan telinga. Kemudian maju berjalan kencang, akhirnya tegak berdiri meninggalkan bumi pertiwi. Sepintas kulihat keluar sangat mempesona liukan putih ombak menuju pantai Kuta. Memang indah sempurna negeriku ini. Sejurus kemudian mataku terus menatap layar televisi lebar di depan. Menyiarkan ketinggian, suhu udara, kecepatan serta tempat tujuan. Peta dunia warna kehijauan di tayangkan. Dilengkapi sebuah gambar pesawat kecil warna putih yang bergerak merayap.

Cukup melelahkan, hampir 13 jam melintas pulau-negara-dan benua akhirnya pesawat Boing 747 berkapasitas 400 orang itu terbang berputar-putar tak kunjung mendarat, meski sudah 30 menit persis ditengah kota Frankfurt. Rupanya cuaca kurang mendukung di pagi itu pukul 6 CET, begitu sekilas info dari kapten pilot. Hatiku mulai dag-dig-dug juga. Tanpa bekal bahasa Jerman sepotongpun kecuali –Ich liebe dich– yang tidak mungkin aku ucapkan untuk merespon orang, bisa-bisa kena gampar mukaku dan tanpa teman membuat aku lumayan gamang. Membayangkan gegar budaya, suatu tabrakan peradaban yang mengaduk-aduk suasana hatiku. Peradaban di Eropa dengan di Asia, bagaikan minyak dan air yang tak pernah bertemu, begitu banyak orang bilang.

Muncul kembali bayangan wajah orang-orang tercinta yang aku tinggalkan. Ayah-bundaku, eyang putri, kakak adikku, pacarku dan sobat-sobatku Membayangkan ketika doa bersama, sungkeman sebelum berangkat, prosesi langkahan yang dilakukan eyang putri dan dan ayah- bundaku. Maklum, meski sebagai orang modern aku tetap ‚nguri-nguri’ budaya lokal Jawa. Tentu sikap easy going tidak muncul begitu saja. Tautan lain membayangkan bagaimana harus ke toilet yang tak tersedia air, melainkan hanya ada kertas gulung toilet saja, itu salah satu cerita kolegaku yang alumnus Jerman. Padahal kertas itu dibuat mengelap mulut di warung-warung Bakso, disana untuk mengelap pantat”, tegas rekanku lagi sambil terkekeh. Belum lagi bayangan ‚kekakuan’ orang Jerman, membayangkan gedung tua kotak- kotak kaku bisu, pisau baja tebal kuat tajam dari Soligen – Rurh Gebiet, membayangkan patung Beruang Berlin, membayangkan orang-orang botak yang tidak ramah dengan auslander.

“Suhu udara plus tiga derajat”, kata pramugari di mikrophone, membuyarkan lamunanku. Meski katanya musim winter telah berlalu rupanya cuaca masih dingin juga diluar. Akhirnya aku menapakkan kaki juga di Eropa. Ich bin in Deutschland! Saya di Jerman! Sambil aku cubit sendiri tanganku, pertanda aku tidak dalam mimpi. Setelah ambil kopor, antri lapor aku keluar dari terminal 2 menuju terminal 1 bandara yang harus naik skyline di Frankfurt Flughaven (bandara Frankfurt). Aku mencoba melakukan scan ruangan luas itu mencari rekanku yang katanya akan menjemputku. Ternyata nihil. 10 menitpun berlalu. Usahaku mencari teman yang menjemput tak kunjung tiba. Stress mulai menghinggapi kepalaku. Dengan bersikap tenang aku menuju Deutsch Bank untuk mengambil uang. 200 DM waktu itu untuk alokasi uang pertama, untuk hospitality awal.

Marburg an der Lahn (Marburg yang dilalui sungai Lahn). Kota itu yang akan aku tuju. Sambil membayangkan kenapa Jember tidak tertulis Jember dilalui Bedadung (Jember dl Bedadung). Sebagai suatu kebanggaan kecil atas citra diri kota. Entahlah aku tidak mau berpusing-pusing dengan itu. Marburg an Lahn, kota itu yang rencananya akan aku singgahi kurang lebih 3 tahun untuk studi bahasa plus S2 di Philipp Uni-Marburg. Kota kecil ini 1 jam dari Frankfurt am Main arah atas-arah utara. Aku menuju informasi untuk menanyakan kemungkinan ke Marburg. Disuruhnya aku ke stasiun di lantai bawah. Bandara Frankfrut yang luas itu memang 5 tingkat. Karena Marburg kota kecil maka tidak dilewati oleh ICE (Inter City Express) kereta cepat eksekutif yang letak stasiunnya di lantai atas di Long Distance Station. Aku harus naik kereta antar kota aja, RE (Regional Express) atau RB (Regional Banh). Akupun memandangi lama karcis kereta plus selembar informasi keberangkatan kereta itu, selepas dari loket karcis. Beda banget dengan di Indonesia. Jelas ada waktunya, ada jenis keretanya, kapan harus transit dan pindah ke gleis (jalur) berapa. Detail sekali orang Jerman ini, itu kesan yang aku tangkap. Akupun turun ke gleis. Sejurus kemudian kebinggungan, kok sepi banget mana orang-orang yang akan berangkat. Akupun tanya ke petugas kebersihan. Kelihatannya bukan orang Jerman tapi wajah mirip orang Turki. Komunikasi mulai tidak berjalan karena dia tidak bisa bahasa Inggris. Keringat mulai mengucur. Aku coba cari muka-muka asia yang terlihat disitu. Rupanya ada wanita 40 tahunan. Bisa berbahasa Inggris lancar, rupanya dia sedang studi doktor di Jerman sini. Aku agak lega. Kereta meluncur dari Frankfurt Flughaven (bandara Frankfurt) menuju Frankfurt (M) Hbf (Stasiu Utama KA Fankfurt). Rupanya kereta berhenti di stasiun bawah tanah. Dalam hitungan 3 menit aku harus menuju gleis 14 dimana kereta RE yang akan membawaku ke Marburg. Dengan bantuan ibu tersebut akupun akhir naik kereta itu dalam hitungan last minute. Gerbong yang aku naiki rupanya kelas 1 padahal karcisku kelas 2. Tapi rupanya kondekturnya mempersilahkan aku disitu, dengan sedikit greeting dalam bahasa Inggris dia maklum ini adalah kali pertama aku ke Jerman.

Kereta menderu berjalan. Satu jam kemudian tibalah aku di Marburg dengan selamat dan tertatih- tatih. Pengalaman pertama yang melelahkan dan berkesan – menyenangkan. Jauh memang dari kesan berlibur ke rumah nenek waktu kecil dulu, indah manis layaknya gula-gula. Sepenggal episode hidupku di medio awal tahun 2000. Adukan antara cita dan asa. Hanya satu logika yang harus aku pegang erat ‘pantang pulang tanpa gelar’. Sebuah obsesi sungguh tidak mudah diawalnya.  (sepenggal kenangan hidup tak terlupakan-bersambung…).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s