Waktu

Hidup harus mesra bersama sempitnya waktu yang 24 jam itu. Seringkali hidup kurang akrab dengan waktu. Kata orang keakraban dan kenyamanan hidup tergantung manajemen waktu kita. Ada yang mampu mengelola dengan baik, namun tidak sedikit yang berlalu begitu saja.  Waktu kata orang juga citra diri. Dengan waktu pula orang tumbuh  mencitrakan jati dirinya. Kesabaran dan ketelitian terlihat dari kemampuan mengelola waktu. Bersama terminologi waktu pula kita merencanakan masa depan. Laksana koki, waktu memegang nikmat tidaknya masakan. Kurang atau kelebihan dari yang semestinya masakan menjadi tidak appetit untuk dinikmati. Hilang selera dan terlupakan.

Didepan setiap ruang kerja profesorku selalu tertempel informasi termin/jadwal untuk bertemu. Kapan kita dapat ketemu dengan profesor. Hari apa dan jam berapa. Biasanya akan tertulis 3 hari dengan alokasi tidak lebih dari 3 jam perhari. Jika berhalangan dipersilahkan untuk menghubungi sekretarisnya yang tahu dimana agenda kerja profesor. Diluar hari dan jam tersebut Profesor biasanya tidak bersedia ditemui. Waktu-waktu diluar jadwal konsultasi adalah waktu kerja, untuk menulis, membaca dan berdiskusi dengan sesama profesor atau asisten profesor. Tiga jam bisa panjang atau sangat sempit. Itu yang aku rasakan waktu itu di Jerman!  Sudah berjajar mahasiswa untuk berkonsultasi dengan sang profesor, ada yang sibuk dengan skript pekerjaannya dan ada yang tertegun perpikir apa yang akan dia ucapkan nanti. Dia pikir sequent-nya agar kronologis tidak terkesan dummy person di muka profesor. Pendeknya mereka harus efektif memainkan jatuhnya kata di ujung mulutnya nanti. Begitu sempit, maka efektivitas bagai meraja. Bagi kawanku yang ada disini –Jerman- waktu adalah musuh. Musuh untuk selalu harus dikebiri, harus selalu diburu. Waktu harus kita kalahkan, kita harus menang dengan waktu. Bagi pekerja/peneliti/mahasiswa kerja di institute, departemen, atau universitas, tidak ada agenda check clock. Meski jelas jam kerja mulai jam 08.00 hingga 16.00 dengan waktu pause 1 jam di tengahnya hari, tapi yang terjadi adalah pulang jam 19.00 adalah pulang awal. Berarti pekerjaan sudah agak banyak yang selesai. Rata-rata jam 21.00-22.00 adalah waktu untuk sekedar menyelonjorkan kaki, menegakkan punggung dan pulang. Kalau lagi pekerjaan berjibun pulang tengah malam bahkan pagi hari adalah suatu kenikmatan dan capaian yang membanggakan. Tak heran dan bukan isapan jempol para peraih kedigdayaan dibidang sain dan pengetahuan dengan Nobel-nya masih digenggam erat oleh mereka. Bukan perkara mereka dari etnis di luar kita, yang dikarunia lebih. Bukan perkara fasilitas yang lebih dan lengkap. Dan bukan pula karena mereka lebih modern. Modern adalah kambing hitam yang usang untuk sebuah olok-olok. Bukan sama sekali. Tapi mereka lebih pandai mengelola waktu dan mengoptimalkan, paling tidak itu salah satu variabel penentunya.

Sementara, dibelahan bumi lain aku menerawang sekejap, betapa hilir mudik segunung orang tanpa tujuan jelas. Waktu mungkin bagi sebagian kita hanya sekedar teman hidup. Toh esok pagi masih bersinar mentari. Alamak! Gitu aja kok dipermasalahankan. Sindir kawanku yang punya kebiasaan merekam informasi sepanjang hari. 24 jam non stop.  Di warung kopi di pinggir jalan. Dengan kaki di angkat, meningkrang, hidup terasa nikmat merangsang. Ngobrol dari yang santai hingga serius. Dari opera sabun telenovela hingga parodi politik mutahir. Tidak ada skenario dan tidak ada ujung pangkalnya. Kadang bagai candu. Padahal aku tahu dia bukanlah intel yang memang pekerjaannya menyaru, menyamar dan menyadap pembicaraan penting untuk tujuan bela negara. Alih-alih suatu kerja produktif, aktivitas ngobrol tanda batas dan hanya membuang waktu adalah kesengsaraan. Bukankah banyak saudara kita yang butuh pemikiran serius dan hadap masalah. Maka disinilah waktu adalah penentu. Dan kita adalah aktor utamanya. Padahal John Naisbit sudah mengingatkan…‘kalian jangan sampai kena sengat paradox informasi. Kalian  pada serap semua informasi tapi ngak tahu untuk apa informasi itu..‘. Itu paradox informasi namanya.

Kunci sukses sebenarnya terletak bagaimana waktu bisa bersahabat dengan kita. Cita rasa mengaduk waktu dan aktivitas dalam mengapai asa adalah adonan hidup yang bijaksana.  Waktu harus tumbuh bersamaan dengan kesadaran kita bahwa kita hidup dan ada dengan segala tantangannya, bukan sekedar khayalan dan mimpi belaka. Waktu harus mendewasakan kita, bahwa kita harus berbuat dengan kekuatan jiwa, sembari mendapat dorongan dari ingatan kita pada rekaman masa lalu untuk menjadi lebih baik diwaktu yang akan datang. Waktu lampau telah lalu, waktu di masa depan masih akan  datang dan waktu kini adalah nyata. Waktu yang akan datang sulit untuk diramalkan, namun membiarkan masa depan begitu saja adalah sikap yang gegabah dan tak bertanggung jawab. Akhirnya, waktu adalah perbuatan.

adhitya@Jember, 20 Mei 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s