Darimana Memulai Jatim Inc.?

Darimana Memulai Jatim Inc.? Judul ini secara tidak langsung mengamini satu judul artikel bung Suharno pada harian Surya (5/3/2002) yang berjudul Perlukan Jatim Incorporated di wujudkan?  Seperti yang urai dalam  artikel tersebut bahwa istilah ini muncul dan menjadi perdebatan publik Jatim. Wacana ini digulirkan oleh Kepala Dinas Perindag Jawa Timur baru-baru ini, mengingat performasi perdagangan Jatim yang kurang mengembirakan tahun lalu. Secara sederhana terminologi,  Jatim Incorporated adalah satu upaya untuk menciptakan kestabilan ekonomi dengan cara memacu potensi sumber daya ekonomi sedemikian rupa yang dilakukan secara berkesimbungan dan terintegrasi antara elemen dan lembaga terkait secara optimal. Dari istilah tersebut sepertinya rumit, melelahkan  dan bahkan mustahil dilaksanakan. Tapi jika ide mengetengahkan Jatim Inc. memang benar diarahkan dalam rangka menjadi strategies for competitiveness maka dapat dipandang sebagai satu ide yang cukup jitu ditengah tidak berdayanya sektor investasi dan perdagangan nasional sekarang ini.

Melihat kondisi ini biasanya diperlukan suatu analisis pada tataran perspektif komprehensif. Yaitu bahwasannya harus multi dimensi dan sektoral-institusional dengan mengerahkan segenap potensi yang ada, tidak saja Dinas Perindag tapi juga pihak-pihak terkait lainnya. Dan bahkan kalau perlu harus diinisiasikan secara langsung oleh pejabat berwenang ke masyarakat dengan intensif terarah dan terintegrasi.  Namun demikian tulisan ini hanya mencoba menjawab satu pertanyaan yaitu dari mana kita harus membangun Jatim Inc.? Satu pertanyaan yang agaknya memberikan jawaban yang cukup beragam, tergantung dimana kita berdiri melihatnya. Dan benar apa kata bung Suharno bahwa memang banyak pertanyaan yang notabenenya pekerjaan rumah Jatim yang harus diurai satu persatu. Dalam kesempatan ini penulis mencoba hanya melihat dari perpektif parsial dengan  detail yang sederhana saja, yaitu mempersiapkan Jatim Inc. dari mencermati ulang kinerja sektor industri terutama sektor industri kecil-menengah. Alasannya  cukup sederhana, bahwa sinergy pada Industri Kecil Menengah akan memiliki daya dukung yang luar biasa dalam sektor perdagangan antar bangsa dalam rangka mempersiapkan Jatim Inc.

          Tatkala kita melihat mobil mewah Mercy, dalam dalam benak kita adalah produk tehnologi otomotif Jerman yang super canggih yang dibangun dengan akurasi luar biasa yang hanya dipunyai oleh orang-orang kaya Indonesia saja, meskipun di Jerman hanya menjadi taksi belaka. Mobil-mobil tersebut pastilah dibangun dalam pabrik yang begitu spektakuler dengan daya dukung ahli-ahli yang luar biasa hebat, tenaga kerja dengan skill tinggi, dukungan modal yang kuat dan sebagainya. Imajinasi itu tentunya tidak salah. Namun demikian sesungguhan ada satu hal yang kurang kita pahami, bahwasannya perusahan Mercy di Jerman dapat berkembang sedemikian pesat karena dukungan industri kecil-menengah yang tangguh. Komponen-komponen mobil Mercy adalah hasil produk industri kecil dan menengah di Jerman. Ada tradisi link and match yang kuat antara industri kecil dan besar yang dibangun dalam industri otomotif.  Sesuatu yang mungkin tidak kita bayangkan. Satu contoh lagi adalah negara Jepang yang merupakan simbol sukses negara Asia dalam peradaban ekonomi industri melalui pembangunan program Karietsunya ternyata di back up oleh industri kecil menengah yang tangguh juga.

          Jatim Inc. memang dapat ditafsirkan dalam banyak dimensi dan aspek. Meski demikian contoh diatas bisa menjadi satu pandangan awal, bahwasannya menciptakan kondisi ideal dan berkelanjutan adalah dari menekuni hal yang kecil. Entah nantinya rencana Jatim Inc. akan ditindaklanjuti dalam format organisasi atau tidak itu urusan kedua, yang pasti ide tersebut dimaksudkan untuk mendongkrak kinerja ekspor dagang jadi tidak dapat lepas dari sektor sebelumnya misalnya mempersiapkan sektor industri. Baik yang padat kapital atau padat kerja, berbasis agro industri atau tidak. Disamping juga harus menyiapkan pranata-pranata terkait lainnya.

Biasanya yang menjadi hambatan klasik bagi munculnya industri kecil yang tangguh adalah sektor permodalan. Modal dalam industri kecil ibarat ‘darah’  yang senantiasa mengalir dan menjaga kehidupan tubuh manusia. Meskipun pada waktu sekarang sulit untuk mengukur kategori modal bagi industri kecil di Indonesia. Disamping juga faktor lemahnya manajerial serta belum kuatnya jaringan di tingkat bawah. Lebih tepatnya industri kecil sering mengalami kesulitan dalam meningkatkan efisiensi usaha dan kesulitan dalam memperbaiki hasil produk.  Kenyataannya  adalah kebijakan memberdayakan industri kecil melalui sektor permodalan atau manajeman operasional perusahaan malah banyak ditangkap oleh industri besar, sehingga industri kecil selalu keteter terus.

Ditengah keteter tersebut sebenarnya industri kecil mempunyai banyak kelebihan dibanding dengan industri besar. Hal ini terbukti bertahannya industri kecil dalam libasan krisis ekonomi. Secara teoritis dan juga terbukti dilapangan ternyata industri kecil mempunyai banyak keunggulan dibanding dengan industri besar seperti:  mampu untuk keluar masuk pasar menyesuaikan kondisi pasar. Disamping itu secara manajemen operasional memiliki biaya overhead yang lebih kecil. Serta  fleksibilitas industri kecil dalam mengatisipasai perubahan lingkungan  pasar. Selain itu industri kecil memiliki linkages yang sangat erat dengan dinamika sektor riil. Dengan keistimewaan-keistimewaan tersebut, maka menjadi tidak mengherankan apabila industri kecil dan menengah yang berorientasi ekspor sangat diharapkan menjadi salah satu tulang punggung ketahanan ekonomi daerah.

Menata Ulang Lingkungan Kondusif Industri Kecil-Menengah. Mungkin itu hal yang paling urgent  dalam rangka Jatim Inc., karena dengan menata ulang kinerja industri kecil-menengah tidak saja diperoleh data baru potensi industri yang ada,  namun lebih dari itu adalah satu proses membangun budaya industrialisasi secara benar. Sebenarnya Jawa Timur  sudah mempunyai potensi budaya industri kuat jika kita melihat kota Surabaya dengan banyaknya sentra industri berat juga kota-kota kabupaten lainnya di Jatim dengan industri kecil yang tidak kalah potensial.

Dalam menumbuhkan budaya industri tersebut industri kecil-menengah tidak dapat berdiri sendiri, dukungan lingkungan politik sangat diperlukan. Dalam hal ini adalah dukungan pemerintah khususnya pemerintah daerah menjadi sangat mendesak untuk diformatkan, apalagi dalam menarik investor. Pemerintah daerah harus mampu untuk merumuskan dan membenahi kebijakan yang mantap, dan menghindari kebijakan daerah tentang industri kecil yang  maju mundur dan tumpang tindih. Disini juga harus jelas peta potensi Jawa Timur dalam sektor perdagangan dan industri, sehingga dapat dibuat strategi rasional kedepan misalnya mencoba bermain pada ceruk pasar yang spesifik (market nicher). Pemerintah daerah dan instansi terkait harus mampu menginventarisir permasalahan yang dihadapi sektor industri kecil menengah dengan mengubah pendekatan yang selama ini terkesan dari atas ke bawah (top down) menjadi pendekatan yang lebih bersifat interaktif, dialogis dan hadap masalah.

Pemerintah daerah harus mampu meyakinkan investor tentang aspek keamanan dan stabiltas daerah. Setiap investor pasti memerlukan kepastian penegakan hukum yang menyangkut jelasnya hak dan kewajiban ditambah dengan kondisi perburuhan yang tidak memburuk. Logika bisnis dan investasi adalah tidak mungkin orang membuat kalkulasi bisnis kalau kebijakannya tidak mantap.  Meskipun euforia otonomi daerah bisa kontra produktif di level pemerintah daerah lapisan bawah yang ingin jalan sendiri.hal ini juga perlu mendapat cacatan tersendiri.

Optimalisasi Jaringan Informasi Perindag dan pemanfaatan jaringan Tehnologi Informasi.

Dalam keadaan seperti sekarang mendesak adanya jaringan informasi yang jelas. Pemerintah daerah harus menyakinkan para pelaku bisnis kecil daerah pentingnya jaringan infomasi untuk membangun industri kecil yang tangguh. Selain itu, perkuat forum kerjasama antara industri kecil juga harus secara proaktif difasilitasi oleh pemerintah daerah, sehingga diharapkan terjadi bussiness matching antar pengusaha kecil.  Dengan forum ini juga diharapkan terpikirkan standar lokal untuk kepentingan ekspor. Dalam suatu kesempatan penulis pernah mendapat cerita dari salah satu profesor di Jerman yang mengeluh bahwa kontak person pada banyak industri kecil dan menengah tidak berjalan. Satu email yang dilayang untuk tujuan bisnis tidak mendapat jawaban dari rekanan dagang di Indonesia dalam 2 x 24 jam dan baru mendapat jawaban dalam 2 minggu berikutnya, dengan alasan yang tidak rasional untuk ukuran orang barat. Kondisi ini tentunya sangat disayangkan.

Untuk menjadi kompetitif dan dapat menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan, industri kecil dan menengah haruslah segera meng-upgrade kemampuannya, terutama mengambil keuntungan dari perkembangan tehnologi informasi (internet, on-line marketing) dan membuka alliasi strategi. Setelah kondisi ini tercapai langkah selanjutnya adalah promosi. Namun perlu diingat bahwa pemerintah daerah harus tampil simpatik tidak saja pada investor yang akan masuk, tetapi juga pada pebisnis daerah dengan menunjukkan komitmennya sampai tahap operasionalisasi investasi dan industri tersebut berlangsung di daerah.

Satu hal yang juga disiapkan dalam menghadapi perdagangan bebas adalah  hak paten merk (HaKI). Hal ini akan meminimalisasi pembajakan atas barang produk yang dilakukan oleh pengusaha baik asing maupun dalan negeri, mengingat HaKI telah melindungi produk dengan kekuatan Undang-undang dan hukum yang berlaku. Juga urgen adalah melek kondisi perdagangan dunia dengan mencermati dinamika proteksi perdagangan yang berlaku. Proteksi perdagangan juga harus menjadi perhatian serius dalam mengembangkan Jatim Inc. Hal ini mengingat satu tulisan Peter Drucker  (The Economist,11/2001) bertitel The Next Society mengentengahkan bahwa proteksi tidak saja dalam bentuk tradisional semisal tariff, tapi lebih pada dalam bentuk subsidi, kuota dan regulasi dengan segala bentuknya yang “tidak ramah” bagi produk negara berkembang seperti Indonesia. Dan tentunya regionalisasi perdagangan juga harus dicermati, mengingat kondisi ini memang memungkinkan perdagangan secara bebas secara internal, tetapi tidak demikian secara ekternal yang sudah terkotak-kotak dalam area perdagangan macam AFTA, NAFTA, APEC dll. yang membawa konsekuensi tidak mudahnya perdagangan antar negara.

Etika Bisnis. Hal yang mendesak juga adalah membangun etika bisnis sehat dikalangan industri kecil-menengah. Bagaimanapun semangat memajukan  industri kecil-menengah  yang diharapkan  bermunculan di daerah, kalau tidak diperkenalkan etika bisnis yang jelas akan sulit mengalami kemajuan yang pesat. Seperti halnya industri besar,  kendala industri kecilpun hampir serupa yaitu  persaingan antar sesama mereka sendiri yang tidak sehat. Ada indikasi bahwa dalam melakukan negosiasi dengan buyer asing saling banting harga dengan tidak memperhatikan kualitas. Industri kecil hadir tidak semata menghasilkan produk dan jasa, harus dihindari  paham free enterprise yang mengabaikan tanggung jawab sosial. Masalah hubungan pemilik industri, pengelola dan karyawan harus jelas. Kesejahteraan dan kesehatan serta keamanan karyawan perlu menjadi perhatian yang serius karena dalam industri kecil sulit memantau hal yang sebenarnya terjadi. Mencermati kondisi ini maka hanya dengan memperhatikan etika bisnis akan mucul industri kecil-menengah tangguh daerah.  Dalam hal ini dibutuhkan pepatah “good business require realiable ethics” .

Demikianlah satu pekerjaan rumah dalam menciptakan Jatim Inc., disamping banyak pekerjaan rumah lainnya yang tidak kalah penting. Jadi intinya Jatim Inc adalah networking dari segala elemen yang ada baik software maupun hardwarenya untuk mewujudkan satu tujuan. Sekarang tugas kita adalah menyiapkan elemen-lemen tersebut minimal tidak gagap dalam proses networking nantinya. Namun demikian, apakah benar Jatim Inc. sebagai strategies for competitiveness  perdagangan Jatim masa depan dengan membuka potensi industri kecil menengah yang ada? Wallahualam tapi yang pasti tomorrow is closer than you think begitu wanti-wanti Peter Drucker./Marburg, Maret  2002

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s