Semua karena Bola

Pesta sepak bola sejagad  karya arsitek bola Jules Rimet dan rekannya Hendry Delaunay presiden dan sekretaris federasi sepakbola Prancis, FFFA (1919 – 1949), merekalah pioner kompetisi tingkat dunia yang dikenal dengan nama World Cup atau Piala Dunia yang tahun 2006 ini  telah dibuka Jumat (9/6) lalu dengan sangat meriah. Pagelaran empat tahunan ini  menimbulkan demam hebat tidak saja pada masyarakat gibol (gila bola) tetapi hampir semua manusia dijagat ini. Bak magnet yang menyedot perhatian dengan menanggalkan sebentar kegetiran masalah dibelahan dunia lainnya, memang bukan bualan, piala dunia selalu mempertontonkan sesuatu yang lain. Sebuah ajang yang terbangun dari permainan dua kali sebelas orang dalam tempo 90 menit pada satu sisi telah menjadi sebuah ‘industri’ yang mondial, yang menggerakkan secara cepat naluri ekonomi pelaku bisnis lokal maupun transnasional, menjadi pengikat keeratan tali persahabatan, membangun fondasi sportivitas dan ketakutan bayang-bayang berkeliarannya suatu komunitas mafioso, serta munculnya efek sporadis-negatif, disisi lainnya. Tak pelak piala dunia sepak bola adalah momentum penting nan misterius dalam sejarah dunia olahraga modern, ia melahirkan banyak nama besar dari Caesar Linus Minoti, Alex Ferguson  hingga Pele, Diego Maradona dan Zinedine Zidane.

Semua karena bola. Semua orang terfokus dan sibuk menyimak perhelatan akbar sepok bola kali ini. Itu yang mungkin dapat diamati dari beberapa aktivitas disetiap penjuru kota di Jerman, tidak saja 12 kota yang memang akan memangungkan secara langsung,  namun hampir setiap kota di Jerman ikut larut dalam gegap gempitanya. Kebetulan saja saya tahun ini sedang studi di kota Goettingen yang terletak di negara bagian Nieder-Sachsen kurang lebih 1 jam perjalanan dengan kereta dari Hannover, meski tidak mempunyai kesempatan melihat langsung pertandingan-pertandingan FIFA Piala dunia ini, namun suguhan aneka pernak pernik terasa benar atmosfirnya. Semua orang membicarakan hal ini, mulai dari pekerja kantoran, penjual roti, mahasiswa hingga profesorpun tidak kuasa untuk ‘mendiamkan’ pesta bola ini. Bahkan dengan antusias istri saya selepas pulang kuliah menceritakan bagaimana profesornya tadi dikelas memprediksi kemungkinan-kemungkinan tim yang akan lolos ke babak-babak selanjutnya. Piala dunia memang sihir olah raga. Juga banyak sekali mobil-mobil di hiasi dengan bendera Jerman di mana-mana persis kalau kita memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus, meski pada hari kemerdekaannya orang-orang Jerman malah tidak terlihat seheroik dibanding memeriahkan piala dunia kali ini. Di tiap-tiap rumah juga tidak ketinggalan mulai menghias yel-yel menyemangati tim favoritnya dari hanya sederhana hingga memasang beberapa bendera Jerman dengan tulisan tahun ketika Jerman menjuarai piala dunia.

Bienvinido Mexico. Masyarakat kota Goettingen tak kalah serunya dalam menyambut piala dunia. Atribut piala dunia sudah jauh-jauh hari menghiasi kota ini. Terlebih kota ini dipercaya menjadi markas Tim Meksiko asuhan Ricardo La Volpe. Meski menjadi tim terakhir yang tiba di Jerman (2/6) tidak menjadikan tim Meksiko ini sulit menyesuaikan diri dengan cuaca Jerman, yang kebetulan pada bulan ini cuaca sudah mulai hangat meski kadang-kadang hujan. Di kota inilah, tim Meksiko melakukan persiapan akhir untuk menghadapi Portugal, Iran dan Angola di Grup D. Keterbukaan menerima tim Meksiko sudah jauh-jauh dipersiapkan oleh jajaran pemerintahan kota Goettingen. Paling tidak terlihat dari satu ‘site’ di website resmi Kota Goettingen (www.goettingen.de)  yang menyuguhkan informasi seputar sepak bola dan kota Goettigen dan Jerman pada umumnya dalam bahasa Spanyol. Goettingen sedikit berbenah, dimana-mana nuasa Meksiko terlihat kentara, dari beberapa hotel yang mengkibarkan bendera Meksiko hingga spanduk-spanduk tertulis Bienvinido Mexico. Juga baliho-baliho menyambut piala dunia ‘Die Welt zu Gast bei Freunden’ terpampang di sudut-sudut jalan, atau di halte-halte bus. Bahkan sebelum pesta sepak bola sejagat itu digelar, Meksiko menyuguhkan kebolehannya dengan melakukan pertandingan persabahatan dengan tim Goettingen Selection di Jahnstadion-Goettingen dengan berakhir 3-0 untuk Meksiko pada 3 Juni lalu. Bahkan antuas warga Goettingen juga terlihat ketika tim Meksiko melakukan latihan-latihan kecil.

Nonton bareng – melampiaskan emosi. Meski diadakan di Jerman tidak setiap masyarakat gibol yang berada di Jerman berkesempatan untuk menonton langsung di stadion. Namun harga tiket yang cukup tinggi dan sempitnya kesempatan untuk langsung melihat di stadion, tidak menyurutkan masyarakat Goettingen untuk menikmati suguhan piala dunia kali ini. Misalnya saja satu tempat luas semacam hangar kereta api di belakang Bahnhof (Stasiun Kereta) yang terkenal dengan nama Lokhalle yaitu hall seluas 8.400 kuadrat meter itu dimanfaatkan untuk menonton bareng dengan layar lebar. Lokhalle menjadi vanue of the Theatersport World Cup. Dengan  dua video proyektor berkapasitas 10.000 ANSI-lumen dengan ukuran screen 80 kuadrat meter menghadirkan atmosfir pertandingan mendekati sebenarnya. Mereka dapat ikut berteriak melampiaskan kegirangan atau kekesalan terhadap penampilan tim kesayangannya. Tentu nonton bareng ini tidak gratis. Paling tidak harus merogoh kocek untuk dapat menikmatinya. Meski demikian nonton bareng tidak saja di Lokhalle, beberapa tempat menyediakan acara nonton bareng yang semuanya bermuara pada melampiaskan hura-hura kompetesi bergengsi ini.

Iming-iming dari pebisnis untuk gibol. Tak kalah menariknya juga dilakukan pelaku bisnis, kesempatan menjadi tuan rumah perhelatan sepak bola kali ini tidak disia-siakan oleh kalangan bisnis di Jerman untuk mendongkrak omzet penjualannya. Berbagai cara dilakukan oleh pelaku bisnis memanfaatkan momentum empat tahunan ini. Misalkan saja bisnis elektronik adalah dengan memasang penawaran yang cukup menggiurkan. Beberapa waktu sebelum piala dunia dimulai Media Markt, sebuah supermarket elektronik besar di Jerman menawarkan beraneka ragam  merk televisi yang umumnya adalah Televisi layar datar dan plasma TV dalam berbagai ukuran dengan harga yang miring, khusus untuk TV yang berharga diatas 500 euro dikenakan  bonus menarik, misalkan satu gol Jerman akan dihargai 10 Euro. Jadi tinggal menunggu berakhirnya piala dunia berapa gol yang mampu dicetak oleh Ballack dan kawan-kawan di jaring lawan. Juga dengan penjualan produk beamer berbagai merk menjadi produk yang disuguhkan oleh toko elektronik dengan berbagai discount. Beberapa toko pakaian juga menjual pernak-pernik atribut piala dunia mulai dari kaos,topi, bendera, bola dan aneka ragam macam lainnya. Sebagai markas tim Mexiko di sejumlah toko di Goettingen menyediakan Sambrero topi khas orang Meksiko.

Bagi pelajar dan masyarakat Indonesia di Goettingen yang terwadahi oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia sedikit ‘dipusingkan’ dalam mencari waktu yang tepat untuk aksi kemanusian terhadap bencana gempa di Yogya dan Jateng, karena perhatian masyarakat masih terfokus pada pesta sepak bola ini maka aksi sosial harus diundur demi efektivitas dan optimalisasi  kegiatan basar amal yang sedianya akan dilakukan dalam menggalang dana gempa Yogyakarta dan Jateng.

Akhirnya permenungan terhadap slogan Piala Dunia 2006 pilihan FIFA kali ini  sungguh tepat kiranya dilakukan terlebih merujuk situasi dunia dewasa sekarang ini, dimana  ‚berserakan’ motto sejauh mata memandang di jalan-jalan kota Jerman akan terlihat tulisan ‘Die Welt zu Gast bei Freunden’ – ‘A time to make friends’ – ‘Saatnya untuk Bersahabat’ –  dapat menjadi kita tersadar akan dimulainya pesta yang tak kalah seru yaitu pesta persaudaraan dan kebersamaan dalam perdamaian di tengah kehidupan kita, meski layar pesta pagelaran Piala Dunia nanti sudah ditutup. Semoga. (aw:18/6).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s