Pengamat Nilai Jokowi Lebih Kuasai Materi Debat Capres Putaran Dua

Senin, 18 Februari 2019 17:39 WIB
Jember (Antaranews Jatim) – Pengamat ekonomi Universitas Jember Adhitya Wardhono PhD mengatakan calon presiden nomor urut 1 Joko Widodo dinilai lebih menguasai materi Debat Capres putaran kedua dengan tema energi, pangan, infrastruktur, sumbe daya alam, dan lingkungan hidup.

“Secara umum, Jokowi  lebih memaparkan masalah dengan solusi yang sudah dilakukan dengan data yang dimiliki dan itu memang kelebihan petahana, sehingga berhasil merangkai capaian-capaian dengan pernyataan yang terkonstruksi dengan baik,” katanya di Kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (Unej), Jawa Timur, Senin.

Saat ditanya soal penyelamatan sumber daya alam (SDA) terutama kelautan, lanjut dia, capres nomor 1 menyampaikan sejumlah data bahwa selama empat tahun terdapat 7.000 kapal asing yang melakukan “illegal fishing” di perairan Indonesia dan telah ditertibkan, di antaranya 488 kapal yang dibakar dan ditenggelamkan.

“Capres nomor urut 2 masih banyak berkutat masalah ide besar dan retorika atas masalah atai isu yang dikemukakan, namun keunggulan Prabowo Subianto lebih kalem dan tenang dalam memaparkan visi atau menjawab pertanyaan,” tuturnya.

Ia mengatakan perbedaan itu terlihat menonjol, namun konsep besar kedua capres dalam visi dan misinya belum bisa diturunkan  menjadi sebuah “rooadmap” yang jelas yang dapat menjadi adu konsep yang solutif dan terarah yang bisa menjadi menarik untuk dipaparkan kepada masyarakat.

“Kedua capres sepertinya tertarik mendiskusikan masalah sawit yang agak sensitif dalam isu global, namun capres nomor urut juga sempat mengucapkan pernyataan yang agak fatal seperti impor air, plasma-inti pada PIR sawit, dan unicorn business,” tuturnya.

Aditya menjelaskan paparan petahana yang disertai data jseperti membebaskan masalah keterpurukan nelayan dengan bank mikro nelayan dan pembebasan izin nelayan kecil kurang dari 10 GT yang merupakan keberpihakan yang konkret, kemudian visi tentang tranformasi energi dari B-10 ke B-100 sebagai langkah konkret pengganti energi fosil, serta penertiban 11 perusahaan yang melanggar lingkungan hidup dengan dengan nominal Rp18 triliun.

“Meskipun demikian, ada beberapa koreksi yang perlu diperhatikan dan data-data yang dikemukan oleh capres nomor urut 1 juga perlu dilihat ulang dan dicocokan kebenarannya,” katanya.

Ia menyayangkan tidak adanya respon yang sifatnya mempertanyakan atas data-data numerik yang dikemukan capres atau isu-isu yang dikeluarkan tidak mendapat tanggapan yanag responsif,  bahkan tidak menggunakan waktu dengan baik.

“Debat menjadi tidak menarik karena begitu banyak isu yang dilempar, tapi tanggapan atas isu tersebut tidak mengerucut, bahkan keluar dari isu yang ditentukan. Untuk itu, debat berikutnya seharusnya lebih banyak mengemukakan proposal kebijakan sehingga lebih bernas,” ujarnya.

Sebagai bahan pertimbangan calon pemilih, lanjut dia, debat putaran kedua tersebut diharapkan memiliki peluang konkret dari dua kubu dan secara umum debat kedua menjadi lebih menarik dibandingkan debat pertama.

“Namun yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana menurunkan tensi militansi/ideologis dari memahami debat dengan meningkatkan rasionalitas atas kualitas calon presiden yang berani menghadapi masalah dan solutif memecahkan masalah bangsa,” katanya.***2***

Pewarta : Zumrotun Solichah
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: