Pensiun

Bagi sebagian warga senior, masa pensiunan selaksa identik dengan sindrom purna-kuasa. Bagi kita yang belum pernah melewatinya mungkin sekedar imagi yang tidak perlu dipikir serius. Namun bagi warga senior masa pensiun adalah lintasan kehidupan yang menghadirkan tabula rasa penuh berkelindan perasaan-perasaan sepuh (tua), sepi (menyendiri), sepo (hambar), dan sepah (terbuang). Bak tembikar pecah, habis guna sudah. Laksana masa kelayuan yang suram.

 

Padahal masa persiapan pensiun harusnya dipenuhi dengan rasa syukur. Tidak lagi 4p; pagi pergi pulang petang. Tidak lagi berjibaku dengan kemacetan yang mendera dada membuncahkan emosi. Menginginkan para pensiunan tetap bergairah dan ceria dengan passionnya adalah keniscayaan. Harusnya warga panssionate ini dapat menemukan passionnya. Hidup terus menderu dengan hati riang hati senang, penuh antusias dan tetap produktif.

 

Ditegaskan bahwa per definitif pensiun adalah seseorang yang sudah tidak bekerja lagi karena usianya sudah lanjut dan harus diberhentikan, ataupun atas permintaan sendiri (pensiun muda). Seorang yang pensiun biasanya hak atas dana pensiun atau pesangon. Jika mendapat pensiun, maka ia tetap dana pensiun sampai meninggal dunia. Pada titik ini maka muncul sederatan pertanyaan. Siapakah pensiunan itu? Apa yang akan dilakukan dengan tunjangan sudah tidak ada lagi? Bagaimana dengan bayar ini bayar itu? Rentetan pertanyaan penuh kegalauan.

 

Kecemasan calon pensiunan begitu membuncah tatkala isu-isu kemungkinan tiada dana pensiun nanti.Jika pensiun diartikan berhenti harusnya hanya berlaku pada profesi-profesi tertentu. Beberapa waktu lalu sinetron situasional yang dikemas apik dipertontonkan oleh TV swasta nasional dengan judul “Preman Pensiun”. Genre cerita yang cukup mengaduk-aduk suasa hati. Alkisah Bahar seorang preman terkenal di kota Bandung kehilangan istrinya selamanya. Istrinya meninggal dunia. Sebelum meninggal istrinya berujar akan menunggu kang Bahar di sorga. Satu tinggal wasiat yang menikam hati dan pikir kang Bahar, mana mungkin ketemu di sorga jika lelaku hidupnya sebagai seorang preman. Pada titik temu ini ia ingin berhenti dari dunia yang dilakoninya bertahun-tahun.  Satu sekuen pensiun yang menemukan makna sesungguhnya. Berhenti kerja.

Maka para senior yang telah purna tugas tentukan passionmu sekarang juga. Pensiun adalah awal mula baru bagi hidup yang lebih merdeka dan bahagia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s