Ekonomi Ramadhan Saat Pandemi

Ekonomi Ramadan Saat Pandemi

Oleh: Adhitya Wardhono, PhD*

(artikel sudah terbit pada Radar Jember Jawa Pos, Selasa 19 Mei 2020) 

Ramadhan tahun ini adalah ramadhan ditengah kemuraman sebab pandemi COVID-19. Pandemi ini tidak mengenal batas usia, derajat, gender maupun agama. Ia menekan psikologis hampir semua manusia. Seluruh kegiatan termasuk yang bersifat keagamaan dibatasi akibat COVID-19. Umat Islam sulit  menjalankan shalat berjamaah dan Tarawih di masjid selama Ramadhan. Protokol ketat diberlakukan dan keharusan untuk dilakukan.

Mengarus masalah ekonomi umat, tentu tidak luput dalam penyesuaian ekonomi masing-masing individu, dan masyarakat. Efek pelambatan ekonomi akibat pandemi memaksa pekerja harian terkena imbas. Banyak dari mereka penghasilan hariannya tergerus. Faktanya sebagian sektor usaha mulai gulung tikar. Ekonomi rumah tangga terganggu. Waspada kerentanan kemiskinan tidak terelakkan. Padahal tidak dipungkiri Ramadhan biasanya dipenuhi meningkatnya permintaan kebutuhan masyarakat. Tapi dimasa COVID-19 fenomenanya sedikit berbeda. Kecenderungan permintaan kebutuhan yang sedikit turun. Gegara daya beli masyakarat mulai tertatih.

Membicarakan wacana ekonomi saat Ramadhan adalah ruang introspeksi terhadap asasi kemanusiaannya di kehidupan ini. Perilaku manusia sebagai homo economicus tidak lepas dari keterpengaruhan nilai-nilai yang berkelindan dalam kehidupan sosial individu bersangkutan. Namun tanpa disadari, kita menyerap begitu rupa logika ekonomi konvensional (klasik/neoklasik) yang mendasarkan pada paradigma positivisme dengan kafah. Bagaimana tidak, tidak jarang kita mengejar rasionalitas sebagai individu ekonomi.  Dimana orientasi aktivitas transaksi ekonominya adalah keuntungan semata. Masyarakat seakan menjadi makmur jika  tiap individu bebas mengejar kepentingannya. Itulah yang menjadi dasar dari suatu prinsip ekonomi yaitu memaksimalkan utilitas (utility maximisation), hingga egoisme dan keserakahan menjadi landasan ekonomi kapitalistik. Kapitalisme membelit kehidupan manusia dan mendorong untuk selalu mementingkan keuntungannya sendiri. Keserakahan, ketidakadilan dan konsumerisme seolah menjadi karakter jamak masyarakat kapitalis. Ada keterlepasan dari sendi-sendi dasar kultur, sosial, agama dan lainnya.

Padahal berkaca pada pendekatan ekonomi kelembagaan tidaklah sepenuhnya demikian. Diyakini bahwa individu tidak saja dipandu oleh rasionalitas ekonominya, namun juga dibingkai oleh lingkungan fisik serta kultur yang telah mengendap dalam sanubari dan memori tiap manusia. Aspek ekonomi kelembagaan mengarus pada konseptualisasi modal sosial sebagai kapital konkrit.  Individu atau kelompok mampu mendayagunakan relasi-relasi sosial mencakup nilai-norma, jaringan sosial dan religiusitas untuk memperoleh kemanfaatan ekonomi dan sosial (Coleman 1989).  Dengan demikian tidak bisa untuk menyamakan perilaku tiap individu secara generik, termasuk dalam urusan ekonomi. Artinya, tidak serta merta semua individu memiliki motif ekonomi yang hanya mengejar keuntungan saja. Kesadaran untuk menyantuni kebutuhan sesama atau sikap altruism hadir dari perilaku individu ekonomi. Sikap altruism diartikan sebagai selflessnes. Mendahulukan kepentingan liyan daripada kepentinganya  sendiri. Tepatnya altruisme adalah sikap dan dorongan dari dalam diri manusia untuk melakukan tindakan yang mendatangkan keuntungan/kebaikan bagi orang lain (Blum, 1980). Ramadan ini menemukan momentumnya. Intinya, laku kedermawanan harusnya dimaknai bukan sekedar mendistribusikan rejeki ekonomi pada pihak lain. Namun lebih pada laku  batin yang menganggap bahwa hidup bukan sekedar masalah muaskan motif ekonomi semata. Pada titik ini, bisa diartikulasikan tidak mungkin perilaku itu hadir atas nama rasionalitas. Namun berangkat dari kedalaman keyakinan dan pemahaman norma agama yang turut dihela oleh keterlekatan kultur dan tradisi sosial yang mengelilinginya.

Ramadhan ini adalah perang melawan nafsu egoisme dan juga perang melawan pandemi COVID-19. Laku puasa harus menang melawan dua musuh tersebut.  Maka altruisme ini bisa  berkembang di berbagai kondisi sosial, bahkan di masyarakat yang dibimbing logika kapitalisme sekalipun. Contohnya adalah siaran berbagai media  memberi info pelaku altruisme. Kita bisa saksikan besarnya dan darimana saja donasi yang disumbangkan masyarakat, baik individu maupun organisasi. Disini tapaknya nyata, ada nilai ekonomi dan ada unsur individu ekonomi. Terlebih ini bulan Ramadhan, dipastian ada zakat, sadaqoh dan infaq  yang harus tersalurkan. Bahkan ada fatwa untuk disegerakan terkait pandemi.  Ada kepekaan untuk gotong royong, ada tindakan merajut modal sosial untuk saling berbagi, sehingga memaksa nestapa ekonomi dan kemanusiaan segera berakhir. Menyitir Seglow (2004) bahwa altruisme menjadi soal moral penting sekarang ini sebab globalisasi telah mengubah “state of nature” kehidupan masyarakat. Kita hidup dalam “a world of strangers”, sebuah dunia di mana melalui tindakan, baik sengaja ataupun tidak, kita bisa memengaruhi atau mengubah nasib manusia lain, bahkan manusia yang tak pernah kita jumpai.  Disini bisa diartikan sebagai perpindahan sumberdaya ekonomi tanpa motif ekonomi. Tidak lagi dibimbing oleh rasionalitas ekonomi tetapi oleh spirit Ramadhan. Zakat, infaq, dan sedekah untuk kebahagiaan individu lain saat ini bisa membakar rasa egoisme homo economicus. Rasionalitas ekonomi, modal sosial dan altruism adalah aspek-aspek yang tercampur jadi satu dalam Ramadhan ini. Tidak salah jika Ramadhan dalam pandangan ekonomi diartikan sebagai negasi dari seluruh postulat ekonomi konvensional yang mengedepankan rasionalitas individu. Telisik dari pendekatan ekonomi kelembagaan lebih jelas menawarkan perspektif yang dalam. Memahami persoalan ekonomi bukan sekedar mengalokasikan dan mendistribusikan sumber daya, tetapi juga mencermati adanya modal sosial, dinamika kemasyarakatan, budaya dan pertukaran sumber daya yang humanis antar-individu.

Ekonomi Ramadhan ini sejatinya adalah mengikrarkan ekonomi gotong royong ditengah pandemi yang membuncahkan kemunculan spirit Ramadhan. Spirit saling welas asih, solidaritas, empati pada kemanusiaan dan tidak sekedar motif ekonomi belaka. Lebih dari itu menjauhkan manusia pada potensinya yang mungkin muncul yaitu sebagai serigala bagi sesamanya (homo homini lupus).

 

*Adhitya Wardhono, PhD adalah dosen dan peneliti Kelompok Riset BENEFITLY Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Universitas Jember.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s