Sketsa Hidup

Preamble

 

Sketsa hidup adalah kumpulan pernik kehidupan yang aku coba tangkap. Kumpulan ini campuran atas kesedihan, kegembiran dan harapanku, serta kegalauanku menatap masa depan. Atau hanya tulisan yang aku anggap perlu untuk dicatat. Kumpulan tulisan ini hanya tulisan ringan melayang, jauh dari serius dan berpretensi mengurui. Mungkin terkesan ala kadarnya. Tulisan yang aku buat pada waktu senggangku hanya sekedar bermuara pada upaya menyemangati yang diartikan sebagai upaya otokritik, merangkum kejadian yang sulit terlupa, mengenang galau ataupun ceria. Sederhana dan gampang cerna. Mungkin itu sekedar kredo yang aku angkat dari  kumpulan ini sambil melamunkan makna kalimat bijak dari William Arthur berikut:

 

Semangatilah. Rayulah aku, dan aku mungkin tak mempercayaimu. Kritiklah aku, dan aku mungkin tak menyukaimu. Acuhkan aku, dan aku mungkin tak memaafkanmu. Semangatilah aku, dan mungkin aku takkan melupakanmu. (William Arthur)

 

Salam,

 

Penulis
-Daftar Isi-

  1. Gedung Bersejarah
  2. Kado untuk Ibu di Muttertag (hari Ibu)
  3. Orang-orang Tangguh (1)
  4. Orang-orang Tangguh (2)
  5. Gowes di Bonn
  6. HARIBO
  7. Waktu
  8. Kebaikan hati
  9. Ketika aku ‚calling’ Tuhan
  10. Semua karena Bola
  11. Kika (1)
  1. Pengalaman studi di LN: Fenomena Terkini Perguruan Tinggi Jerman (1)
  1. Pertama Terbang ke Eropa
  2. Catatan Akhir Tahun: Selamat Tahun Baru 2006
  3. Mudik dan Ketupat: secuil pernik lebaran
  4. Memandang Beda Pandangan
  5. Singapura dan Malaysia, dimana bedanya?
  6. 40th FE-Universitas Jember
  7. Ibu
  8. Agama: Pesan Illahiah untuk Manusia?
  9. Pemimpim dan Profesionalisme
  10. Muslim kaffah
  11. Welfare Religius
  12. Lingkungan dan Agama
  13. Agama dan Politik                           
  14. Gerakkan nurani kita’
  15. Floh Markt


Spring in Bonn, 2013:

Kenangan and Petualangan Baru

 

Episode 1. Gedung Bersejarah

Adhitya Wardhono

 

Pagi itu melangkahku mendekat gedung bersahaja ini setelah menapak melewati deretan cherries blossom bunga dari genus Prunus serrulata ungu-kemerahan itu mengembang bersama suasana hatiku. Seolah tak ingin mengalah, tulip warna-warni bagai gelas pun ikut tersenyum menyapaku. Bunga bergenus Tulipa ini konon memiliki variasi 109 spesies. Gedung yang bagiku ikut andil merubah garis demarkasi hidupku. Musim spring di Bonn tahun ini melangkahku sedepa kesana. Entah hitungan spring season keberapa aku pernah ikuti dalam hidupku. Tapi rentang cukup panjang aku tidak merasakan suasana Jerman selepas 2006 lalu. Gedung itu memang tidak memberi sejumput pengetahuan ataupun selembar ilmu, tapi bak segudang gunung ikut andil mewujudkan mimpiku. Syahdan berangkat dari selembar surat sakti keluar dari gedung itu, menerawang ke 2003 silam selembar surat undangan penerimaan beasiswa DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst – German Academic Exchange Service)  Jerman mengetarkan sanubariku. Satu dari deretan nama yang diterima adalah namaku. Menuju jenjang bangku terakhir pendidikan doktoral di bagian negeri Gauss (baca: Johann Carl Friedrich Gauss adalah matematikawan dunia dari Goettingen-Jerman dan juga ahli fisika yang memberi kontribusi keilmuan secara signifikan dalam banyak bidang seperti  number theory, algebra, statistics analysis, differential geometry) nan molek ”Goettingen” di George-August University. Beasiswa DAAD bagiku spesial meski sewaktu pendidikan masterku di Uni. Philipps, Marburg,  aku juga mendapat beasiswa dari Landes Regierung Hessen, betapa tidak spesial, saringan yang begitu ketat dan langsung diseleksi oleh profesor dari Jerman;  zero nepotism dan objective. Campur aduk antara untaian kegirangan dan rangkaian penatnya otot dan otak menerawang menjelang kehidupan kedepan.  Betapa aku masuk ke ruang kampus 34 penerima hadiah Nobel yang berdiri kokoh sejak tahun 1734. Tetapi kaki harus melangkah, kehidupan harus dimulai. Pasti rintangan dan penderitaan pun kegirangan mendayu-dayu kehidupanku. Beratnya prosentase derita dengan bertapa dan puasa untuk keluar dari lorong derita menjadi sahabat karib di ruang dan masa itu.  Terinspirasi para Mahasidha (manusia terpilih untuk melakoni hidup nan  agung karena melewati derita dan nestapa seperti  Mahatma Gandhi, Jalalludin Rumi, Bunda Theresa, Milarepa),  tokoh yang sempurna mengartikulasi dahsyatnya lorong gelap  kehidupan, yang menjadi sempurna karena keikhlasannya. Akupun harus melangkah mendekat serupa mereka. Terlalu berlebihan memang membandingkan sejengkal langkahku dengan sejuta langkah mereka. Tapi, entah apa yang akan terjadi didepan. Tantanganku memang beda dengan mereka. Tapi aku yakin ada esensi serupa sebangun dengannya. Bermodalkan  ketekunan, perhatian,  keseriusan, tanggung jawab dan kesabaran disertai doa maka yakinku  rintangan dan penderitaan berubah menjadi obat anti miskin bagi batin, dan kebal penderitaan pun memperkaya lebarnya pikiran,  panjangnya langkah. Alih-alih frustasi, yang hadir malah senyum nyunging mengembang menyambut datangnya duka dan suka.

Gedung itu tidak megah untuk ukuran Jerman, tapi modern, kaku dan rapi. Hanya empat tingkat keatas.  Dan 2 lantai kebawah untuk parkir mobil dan ruang non office.  Paduan warna pastel putih, biru dan abu-abu dengan detail baja stainless dan kaca menambah gagah dan bersahaja. Beralamat di Kennedyalle 50 Bonn. Memang jalan ini didedikasikan untuk Presiden Amerika ke 35 yang alumnus Harvard University  dan mati muda tertembak bersama Gubernur Texas. Benar! Ia adalah Presiden John Fitzgerald “Jack” Kennedy, yang patungnya dipajang di ujung jalan ini. Tugas dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam program SAME (Scheme for Academic Mobility and Exchange)-Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi telah membawaku melangkah ke Gedung itu. Seruas-sebuku pekerjaan ASEM Education Secretariat (AES) menghantarku menekuni program-program peningkatan tali-silaturahmi pendidikan tinggi 49 negara Asia-Eropa, ASEAN Secretariat dan European Commission, serta diikuti oleh beberapa organisasi internasional lainnya seperti Asia-Europe Foundation (ASEF), European University Association (EUA). Aku masuk ke Unit 605 yang satu kantor dengan berbagai program internasional lainnya, semisal Bologna Process, Europa macht Schule, Program Erasmus Mundus dan masih banyak lagi.

 

Ini hari pertamaku menjalankan tugas. Pertengahan April tahun ini. Tepat pukul 08:00 pagi aku dorong pintu putar itu. Tidak ada satpam berdiri di depan kantor, hanya sederatan sepeda ontel dan satu mobil terlihat di halaman depan, namun begitu aku masuk, ibu petugas paruh baya penjaga pintu masuk/resepsionis dengan raut yang terlihat masih ayu dan tampil chick menyapaku.

W: Morgen!?

A: Morgen, Ich mochte gerne mit Frau Bettina Onyango treffen, bitte!.

W: Ach so, Moment. I will call her. Could you wait at the moment, please?

A: Ok, thank you.

 

Ach! aku coba pakai bahasa Jerman, dia menyapa dengan bahasa Inggris, mungkin bahasa jermanku masih agak aneh terdengar baginya pagi ini. Sudah begitu lama aku tidak praktek bahasa Jerman mungkin.

Suasana kantor bersih bak hotel menawan hatiku. Khas jerman terlihat, satu papan tertempel kertas-kertas pengumuman, yang menawarkan kamar kosong, yang menawarkan mebelair dan sebaliknya. Satu TV untuk pengumuman resmi, dan satu bangku baja stainless serta rak kecil tempat brosur-brosur dipajang. Kesan Jerman memang begitu mengoda. Simpel, rapi dan kecerdasan  seni penataan ruang yang membuat nyaman sejurus mata memandang.

Sistem administrasi rapi tertata, kedisiplinan dan tanggung jawab manusianya melumpuhkan kecuekanku selama ini. Gedung DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst – German Academic Exchange Service), menjadi pos ASEM Education Secretariat selama 4 tahun terakhir. Berbagai projek dan program tertata rapi bersama sistem dan manusianya. Silih berganti orang hilir mudik dari berbagai belahan Jerman dan luar Jerman dengan berbagai kepentingan. Arsitektur modern gedung tidak saja tampak dari luar tetapi begitu didalam kebersihan dan kerapian khas Jerman. Aku mulai belajar sistem mereka kerja. Sedikit berbeda dengan waktu aku kerja di Universitas sebagai doktoran dulu. Disini kerja profesional, kerja dengan sistem dan manajemen yang tertata rapi.  Satu ruangan, meja kerja lengkap dengan komputer printer dan telepon dengan nomer ektension sendiri, kartu check clock, email resmi wardhono@xxxx.de. Dan tidak lupa kartu nama. Jam kantor jelas, bilangan kerja 39.15 per minggu. Di ruang sudut selasar gedung penuh dengan mesin fotocopy, fax, mesin cetak lengkap semua ada. Silahkan gunakan untuk keperluan kantor, tanpa terlupakan pantry dan social room. Demikian penjelasan rekan kerjaku. Jelas semua sistem sudah terjadi begitu seketika aku  datang dihari pertama. Semua diinstal dan langsung kerja. Menakjubkan.

Disamping gedung DAAD berdiri megah gedung Deutsche Forschungsgemeinschaft –DFG (German Research Council). Tiap pagi aku turun di Halte DFG ini. Untuk melangkah barang  40 meter menuju gedung DAAD.  Teringatku kembali pada perjalanan akademikku lalu. Sepenggal perjalanan penulisan disertasiku didanai selain DAAD adalah dari DFG ini.  Aku beruntung dalam penulisan disertasi mengikuti Proyek STORMA (The Stability Rainforest Margin) yang dibiayai DFG berlabel SFB 522merupakan proyek 2 negara 4 universitas dan 2 lembaga riset nasional (Jerman-Indonesia – Georg-August-University Goettingen, Uni Kassel, Institut Pertanian Bogor, Universitas Tadulako, Deutsche Forschungsgemeinschaft dan Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang melibatkan hampir peneliti dari 12 negara. Betapa kolaboratif riset yang jarang aku temukan di tanah air. Lembaga Riset bergengsi Jerman ini turut andil dalam perjalanan akademikku.  Mau tidak mau gedung sebelah gedung DAAD ini juga turut berjasa mengikat batinku dalam pelukan kerinduan.

Gedung-gedung menyimpan sejuta rindu, sejuta kenangan. Mereka tidak bernyawa, tetapi memberi makna hidup bagi yang melewatinya, mengenang masa lalu dan mempelajarinya untuk dapat menjangkau masa depan dengan melihat hari ini. Aku beruntung singgah di Bonn dalam dekapan spring season kali ini untuk sedikit merenung, yang aku mulai dari melihat gedung-gedung yang bagiku bersejarah. Benar kata filosuf Aguste Comte dengan ”Savoir Pour Prevoir”, yang bermakna mempelajari masa lalu, melihat masa kini, untuk menentukan masa depan. Prima!

Bonn, 16 April 2013

 

 

 

 


Episode 3: Kado untuk Ibu di Muttertag (Hari Ibu)
Adhitya Wardhono

Mother, how are you today?  Satu penggal bait nyanyian terkenal di era 1980-an dari dua bersaudara Maywood yang tergabung dalam sebuah group pop dari Belanda itu begitu terasa pada saat ini. Betapa tidak, hari ibu pada tahun ini jatuh tanggal 12 Mei. Hari ibu ini memang tidak begitu banyak dikenal dibelahan dunia lain. Bagi negara Jerman dan Swiss, minggu kedua bulan Mei biasanya diperingati sebagai hari ibu. Toko-toko ramai menawarkan pernik-pernik menarik seputar hadiah pas untuk muti. Toko bunga memajang bunga warna-warni terbaiknya. TV memamerkan iklan penuh buaian dan rayuan kado untuk muti.  Konon berawal dari keprihatinan seorang ibu yang bernama Julia Ward Howe pada tahun 1870 memiliki inisiatif tinggi mengenai Hari Cinta Damai Ibu, memulai perayaan hari penting bagi kaum ibu ini.  Satu misi  utama yang ingin didengungkan adalah menyudahi lebih banyak korban perang lagi. Perang pada waktu itu  telah  banyak merenggut nyawa termasuk anak-anak mereka. Tiada satu pun ibu di dunia ini yang rela membiarkan anak laki-lakinya tersungkur mati di medan perang. Mungkin sedikit berbeda latar belakang sejarah yang di Indonesia biasanya dirayakan pada 22 Desember sebagai penanda gerakan wanita 1928 di Yogjakarta.
Belahan Jerman kali ini. Dalam rengkuhan musim Spring yang damai dengan desiran sepoi angin membawa pada momen tak terlupakan. Seketika banyak anak-anak dengan antusias mencari hadiah untuk mutinya. Untuk ibunya, emaknya, bundanya, uminya,  mamihnya atau sebutan lainnya. Sama maknanya. Banyak anak-anak sibuk dengan kado tercantik untuk mamanya. Yang besar, yang kecil, kadang mahal dan kadang sederhana, dibungkus kertas berwarna-warni penuh ungkapan terima kasih untuk muti. Respek, keiklasan, ketulusan. Sungguh mengharukan.

Aku hanya tertunduk. Aku hanya teringat ibuku yang memberi kasih sayang maha luas. Berapa banyak kanvas tergores lukisan kasih sayangmu tanpa kumampu menuntaskan ketulusan dan kasih sayangmu padaku. Aku cukup mengenang dan berdoa. Ibu adalah inspirasiku, ibu ada roh yang mengerakan langkahku. Kasihmu Ibu, takkan lekang walau diterjang badai sekalipun.

Mataku terkaca-kaca ketika dialog anak-anak kecil di bus memamerkan kado terindah untuk mutinya. Dengan ceria dan penuh harap bahwa kadonya mendapat penerimaan tertinggi. Aku menerawang bagaimana ibu selalu menjadi peneduh setiap keluh dan jenuh menghinggapiku. Ibu menjadi penyemangat setiap geliat obsesiku.

Ibu telah membuai buana lewat nada-nada kasih cinta nan tulus. Ibu tidak membutuhkan balasan kita. Ibu sebenarnya tidak membutuhkan kado kita. Semerbak harum bunga mewangi dalam hambaran prestasi ananda untuk memahami manusia dan kemanusian sudah merupakan hadiah teramat mahal yang sering ibu rindukan.

Matamu tajam laksana elang, menangkap kedalaman. Namun kau dekat rembulan dengan penuh keteduhan. Kurindu mataharimu yang mengerakkan obsesiku.  Kami hanya terkaca-kaca merinduimu. Semoga tempat terbaik untukmu ibu. Gusti, berikan tempat terindah untuk mutiku! Doa ananda senantiasa panjatkan tiada henti selalu. Alles Gute zum Muttertag!

 

Bonn, 9 Mei 2013

 

 

 

 

Episode 5: Orang-orang Tangguh (1)

Adhitya Wardhono

 

 

 

Sejarah penuh orang-orang hebat, orang-orang tangguh. Dan sangat subyektif untuk menarik garis mana tertinggi dan terendah, ada Miyamoto Musashi (kenshei paling sakti 1584-1645) ataupun Harald Hardrada (Last Viking 1015-1066). Atapun dari sisi gender perempuan ada Tomoe Gozen (Pendekar Wanita 1157-1247), Agustina of Aragon (Joan of Arc-nya Spanyol 1786-1857) dan di Indonesia kita mengenal Cut Nyak Din dan Laksamana Malahayati dari Aceh. Mereka terkenal tangguh di medan perang.  Medan pertempuran tiap orang pasti beda. Beda tantangan dan beda cerita. Pertempuran keluar dari penjajahan untuk merdeka sebagai manusia yang memiliki azasi adalah tuntutan alamiah setiap manusia.

Masa kini, beberapa waktu yang lalu aku sempat  membaca resensi buku dan film 9 Summer 10 Autum. Meski beberapa waktu silam Kick Andy Show telah memberi pertunjukan yang sangat menginspirasi di setiap episodenya. Kali ini tantangan hidup Iwan patut menjadi permenungan. Kisah Iwan dari Kota Batu, anak sopir angkot dan ibu yang bersahaja dan tidak tamat sekolah dasar, sebuah kisah perjalanan yang sungguh mengharukan. Berangkat dari kota Apel dan sukses bekerja di The Big Apple, New York. Ternyata kombinasi antara mimpi, ketekunan, dan doa menjadi sarana seseorang keluar dari pola linier keluarganya. Temuan menarik dari kisah ini adalah ternyata pendidikan telah menjadi kanal akselerasi pikir dan pendalaman pemahaman  atas adukan suasana hati yang begitu dalam. Betapa pengambaran keluarga sederhana yang mampu keluar dari takdir patron hidup keturunan sebelumnya untuk menjadi CEO di Perusahaan terkemuka di Amerika. Jelas pada titik ini memberi fakta nyata bahwa dedikasi, profesionalitas, kerja keras, keteguhan adalah harga dari sebuah sistem perekrutan yang zero nepotism dan tanpa katabelece, telah berbuah manis – berbuah sebuah kebanggaan. Fakta lain memberi gambaran betapa keteguhan itu adalah kombinasi dan permutasi yang sangat rumit antara manusia dengan manusia, manusia dangan lingkungan dan manusia dengan horizon kehidupan lalu, hari ini dan masa datang. Hanya orang-orang tangguh yang mampu memiliki ketabahan yang begitu dalam dengan segala dera dan nestapanya.

Di bandara Schipol – Amsterdam dimana aku transit dalam perjalanan Bonn ke Kualalumpur Jumat 10 Mei 2013 lalu sambil antri menunggu ke ruang boarding Gate E27 dimana pesawat KLM parkir, untuk  chek ulang, tanpa sengaja aku bertemu seorang anak muda asal Malaysia, seorang keturunan China (tiga group besar ras disana Malayu, Chines India:  Malaysia, dengan salamnya yang khas, Salam 1Malaysia (baca: salam satu Malaysia). Dia baru saja menyelesaikan training kerja 4 bulan di Jerman selatan Bavaria di Kota Muenchen. Tanpa menyebut perusahaannya yang bergerak dibidang teknik dia mengatakan dari perusahaan Australia. Pendidikan bachelor dia tamatkan di salah satu universitas di Adelaid Australia dan dia sengaja tidak pulang ke Ipoh-Malaysia sudah lebih 5 tahun selepas sekolah. Berbagi cerita seputar pengalaman di tiga negara tiga benua, memberi impresi padaku yang begitu besar. Nendang banget di kalbuku. Bahwa anak muda ini punya keinginan kuat untuk bergerak ke depan. Cakrawala pemikirannya sangat panjang. Luar biasa! 1000 jempol untuknya.

 

Anak muda dengan mimpi besarnya. Ya, teringat Bung Karno dengan lantang berucap: …beri aku 10 pemuda maka akan aku guncang dunia!.. Ya anak muda untuk mengisi dan membangun Indonesia. Rupanya sejarah membuktikan memang benar adanya. Fenomena brain drain menunjukkan lain kisahnya. Pada dinner malam terakhir di rumah Duta Besar Jerman untuk Malaysia Dr. Gruber, di residence dinas Kedutaan Jerman di Kuala Lumpur itu aku bertemu dengan rekan lama, yang pernah bersua direntetan tahun 2000-2004 di Jerman dalam event-event ilmiah. Usianya beda 1-2 tahun denganku, dia adalah Prof. Dr.-Ing. Eko Supriyanto, doktor alumnus Jerman yang sekarang menjadi profesor dalam bidang medical imaging, medical electronics, medical informatics ultrasound technology, healthcare technology management dan membawahi beberapa unit dan departemen di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Menapak tilasi tokoh ini teringatku beberapa kali saksikan profilnya ditampilkan di TVOne dan Metro TV. Peneliti tangguh ini berangkat dari Indonesia ke Jerman dengan cita-cita besar. Fakta menuntutnya hijrah mencari kepuasan batin. Penelitian demi penelitian dengan temuan-temuannya yang sungguh fenomenal berangkat dari seperangkat kombinasi yang tegas antara kompetensi sumber daya manusia dan visi jelas. Kadang tidak/belum ditemukan dengan segera di tanah air, maka mereka rela untuk bertapa di luar. Hebatnya, sepenggal kata yang sangat aku ingat pada malam itu sebelum mengejar jadwal penerbangan pulang ke Jerman adalah …mas Adhit, bagaimanapun, saya gunakan situasi ini untuk juga membangun Indonesia.  Aku terdiam sejenak. Takjub, satu penggal ucapan orang hebat di negara tetangga. Respek…respek..respek…Wow, satu kata dari Prof. Eko Suprianto yang sungguh mengesankan menjadi pamungkas pertemuan dan kita bersepakat untuk bertemu lagi di awal Juni di kota Aachen dan Koeln dengan beberapa program yang ingin kita buat dan terputus karena waktu. Pada titik itu, sejurus pikiranku otomatis ke tanggung jawab saya saat ini sebagai Sekretaris International Office Affair – Universitas Jember yang harus mengoptimalkan peluang untuk menjalin kerjasama untuk kemajuan Unej. Selepasnya dengan sigap panitia dari Kementerian Pengajian Tinggi (baca: Kementerian Perguruan Tinggi) Malaysia membawaku mengejar deadline check in ke Kuala Lumpur International Airport.

 

Begitupun kisah Iwan dari Kota Batu, impian membangun Indonesia menjadi begitu membahana di dada, ia tinggalkan status dan gaji besar disana untuk Indonesia. Kerinduan bumi pertiwi yang begitu dalam membawanya kembali ke tanah air. Namun masih begitu banyak orang-orang tangguh Indonesia yang tersebar dalam jagad prestasi dengan penuh talenta dan penuh potensi serta energi dan juga masih berasyik masuk dengan karyanya yang  mondial.  Dengan  pasti ikut mengharumkan bangsa. Orang-orang tangguh bak bergeloranya samudra dengan riuh rendah pasang dan surutnya. Benar kata bung Karno, orang-orang tangguh laksana membandingkan dua lukisan…..”Aku lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase”
Akhirnya…kita tidak butuh berapa Summer and Autum Season, kita butuh anak-anak muda, orang-orang tangguh dalam bergeloranya semangat Dry and Rainy Season yang memukul dan mengebu-gebu. Ya! tidak kemana-mana hanya di Indonesia dengan pemikiran dan karya bak orang tangguh.

 

Bonn, 16 Mei 2013

 


Episode 6: Orang-orang tangguh (2)

Adhitya Wardhono

 

Pada paruh perjalanan pendidikan doktoralku di Goettingen 2003-2006 silam aku sempat mengikuti orasi ilmiah dari Nobel Laureate Prof. Dr. Amartya Sen, seorang penerima hadiah Nobel 1998 dengan buah pikirnya mengenai welfare economy. Penerima hadiah nobel ini datang ke Jerman, ke Goettingen, ke George-August Unversity atas undangan anak didiknya dulu Profesor Stephan Klasen yang menjadi profesor di George-August University. Sebuah acara langka yang bisa aku temui di tanah air. Ada perasaan bangga aku dapat mengikuti langsung orasi ilmiah tersebut. Bagaimana tidak didepanku penerima nobel dari rumpun benua yang sama– Asia –meski berkewarganegaraan Amerika dan dalam bidang yang sama pula dengan yang aku tekuni. Ilmu ekonomi dengan dinamikanya. Dominasi orang Asia menyeruak masuk ke daftar penerima hadiah nobel ekonomi dari gerombolan klasik orang-orang Eropa dan Amerika. Tidak mudah mengambarkan bagaimana suasana hatiku waktu itu.

 

Sebagai seorang pengajar ilmu ekonomi, aku kenal beberapa buku ajar bermutu, misalnya Damodar Gujarati dan Ramuramanathan dengan buku Econometrics-nya. Alpha C Chiang dengan buku matematika ekonominya. Ataupun pemikir ekonomi hebat lainnya yang keturunan India atau China. Coba telusuri website universitas di belahan Eropa dan Amerika, sungguh mengagumkan, banyak nama-nama India dan China yang menghiasi website Universitas dan Lembaga Riset di Eropa dan Amerika.  Jelas kita cermati nama-nama itu genuine, asli nama India tidak ada tambahan sepotong namapun, baik didepan, ditengah maupun dibelakang. Kita memang tidak sedang memperbincangkan apalah arti sebuah nama dari sepotong pertanyaan dalam Novel Shakespeare. Tapi kita bicara keaslian yang bersemi dan mekar di taman lain. Apa artinya ini? Bagaimana kita mengartikulasikan fenomena ini?  Mereka eksis dan dominan. Tentu banyak pertimbangan rumit mengapa mereka mau berlama-lama, beranak pinak  dan bahkan rela pindah kewarganegaraan.  Latar belakang kuat apa yang memotivasi mereka? Apakah paspor sama dengan nasionalisme? Apakah mereka patriotis atau cuma pragmatis?

 

Bagaimana dengan ilmuwan Indonesia. Tidak sedikit ilmuwan Indonesia ataupun tenaga terlatih Indonesia di luar negeri. Berapa  banyak anak muda Indonesia dengan penuh talenta berasyik masyuk dengan karya besar dan terbaiknya di luar sana. Mengapa? Alasan ilmuwan muda Indonesia yang memilih melakukan penelitian untuk negara lain dilandasi pada perasaan tidak berguna yang dirasakan ilmuwan muda yang baru lulus kuliah di luar negeri ketika tiba di Tanah Air. Biasanya jiwa muda mereka bergejolak, mungkin sudah menyandang gelar doktor atau bahkan profesor, tetapi hasil pendidikannya selama ini tak mendapat tempat ataupun dihargai dalam lembaga dan institusi dimana dia berkarya di tanah air. Doktor muda biasanya punya semangat membara, semangatnya tinggi, ada perasaan ilmunya tak berguna dan eksistensinya terpotong sistem yang berlaku. Inilah yang kadang-kadang menyebabkan mereka memilih tetap di luar negeri. Lebih-lebih lagi, penghargaan terhadap ilmuwan di dalam negeri juga, jauh lebih kecil ketimbang di luar negeri. Keprihatinan masih terasa di dalam negeri, betapa nestapanya nasib peneliti lembaga pengetahuan negeri dengan gajinya relatif kecil meskipun bergelar profesor.

 

Namun demikian, disadari atau tidak, sebuah fakta nyata bahwa masih begitu banyak orang-orang tangguh Indonesia yang tercecer di jagad luar Indonesia memberi warna dan nuasa elok bagi Indonesia, meski tidak langsung. Pepatah mengatakan tidak ada kesuksesan tanpa penderitaan. Mungkin berawal menapak sebagai sekrup-sekrup kecil di laboratorium dan institute ternama Eropa,  tapi lebih dari itu dinamikanya tumbuh pesat menjadi penemu yang inovatif dan kreatif. Kerja keras dengan pasang dan surut dan kadang kalah untuk pencapaian hakiki dari jalan sutra yang dia yakini. Sungguh merupakan pengorbanan yang luar biasa.

 

Apakah ini hanya fenomena bran drain semata?  Atau hanya brain hub saja? Mungkin kita harus menelusur lebih dalam makna mobilitas manusia-manusia tangguh ini. Fenomena mobilitas manusia terdidik atau migrasi tenaga terdidik dan terlatih sering kali disebut  dengan istilah brain drain. Kenyataan ini dipicu oleh dua faktor penyebab, yaitu faktor penarik dan faktor pendorong. Pertama, faktor penarik lebih diarahkan pada faktor yang datang dari wilayah tujuan, misalnya untuk memperoleh kejayaan ekonomi dan kehidupan yang lebih baik, fasilitas pendidikan, penelitian, dan teknologi yang lebih memadai, kesempatan memperoleh pengalaman bekerja yang luas, tradisi keilmuan dan budaya yang tinggi, dan sebagainya.  Sedangkan faktor kedua adalah faktor pendorong, yang datang dari arah dimana daerah asal, misalnya karena rendahnya pendapatan dan fasilitas penelitian, tidak adanya kenyamanan dalam bekerja dan memperoleh kebebasan, keinginan untuk memperoleh kualifikasi dan pengakuan yang lebih tinggi, ekspektasi karir yang lebih baik, kondisi politik yang tidak menentu, diskriminasi dan sebagainya.

 

Memang tidak dapat serta merta men-judge mereka anasionalis. Kadang jauh dari praduga itu. Pekerjaan yang membutuhkan kemampuan otak, kematangan mental dan determinasi fisik tidak saja membutuhkan semangat dan kemampuan meracik dinamika kehidupan sehingga volatilitas dan keseimbangan karsa dan karya mereka terjaga. Minggu ini semangat menyatukan komitmen dan persepsi untuk Indonesia lagi-lagi terjadi. Diaspora Indonesia, Jumat dan Sabtu ini 23-24 Mei ini diadakan kongres Diaspora Indonesia di Berlin, dihadiri oleh mantan Presiden Indoensia BJ Habibie, jarak yang jauh Bonn ke Berlin dengan ongkos yang lumayan untuk kantongku, aku surutkan semangat untuk hadir disana. Konon hampir 5 juta warga diaspora dari berbagai keahlian yang tersebar di 167 negara, sebagian besar merupakan profesional yang sukses di bidangnya.

 

Sungguh ironis, data berkata bahwa indeks pembangunan manusia Indonesia masih berada di ranking 124 dari 187 negara.  Padahal pertumbuhan ekonomi cukup menakjubkan diatas 6 %.  Semoga negara dan bangsa besar ini menghargai berputarnya otak dan berkeratnya otot manusia tangguh Indonesia daripada goyangan bokong yang laris manis dan dibandrol mahal. Semoga tidak disalah interpretasikan kalimatku ini.  Apakah ini nasionalisme modern? Apakah ini harga dari nasionalisme modern? Entah aku tidak mau berkasak khusuk, mending menghitung berapa banyak jenis dan pola goyang bokong di Indonesia yang sudah ditemukan, dengan level signifikan tinggi menghibur masyarakat.   Kreativitas asli Indonesia! Perhelatan penuh pergulatan pikir belum dihargai daripada perhelatan hura-hura penuh kilat kamera dan gelak-tawa.  Kadang aku juga begitu malas melihat print out dari hasil analisis data skripsi mahasiswaku, berapa adj. Rsquare-nya, berapa variabel bebas yang signifikan? Apakah terkena sindrom spurious regression dari model  ekonomi yang dibangunnya?..Ah, bukankah lebih baik menghentakkan kaki  dan kepala bergoyang layaknya geleng orang India sambil  mengikuti  irama? Keine Ahnung?! Maaf, Enschuldigung! Maafkan saya. Es tut mir leid!

 

Bonn, 26 Mei 2013


Episode 7: Gowes di Bonn

Adhitya Wardhono

Banyak pegawai mungkin suka dengan fasilitas kantor, biar mentereng dimana menunjukkan status sosial di kantor, bawa pulang mobil kantor artinya pasti posisinya tidak main-main di kantor tersebut. Ya begitulah budaya kita, masih suka dengan fasiltas ini dan itu dari negara. Begitu juga bagiku, aku juga dapat fasiltas kantor, maaf jangan disimpulkan didepan. Baca dulu sampai selesai ya.

Spring di Bonn yang masih dingin dan sering hujan, tiap pagi dan sore aku harus ke kantor DAAD untuk kerja. Dua minggu pertama aku lewatkan dengan naik Bus nomer 631 dari halte Markusplatz sampai Halte DFG, ada 16 halte aku hitung, dan bilangan 16 menit dari titik berangkat dan akhir. Tapi hidup biar penuh warna, aku coba bersepeda dan kadang jalan ke kantor, tidak begitu jauh hanya 4,2 km. Meski ini bukan barang baru aku lakukan, di Goettingen silam hampir penuh waktu aku gunakan sepeda untuk memindahkan badanku dari satu tempat ke tempat lain. Dan bahkan tambahan uang dari bersepeda menjadi loper koran di sana. Lumayan tapi menyenangkan.

Mengenai fasilitas, kali ini di Bonn aku juga dapat jatah (baca: diperbolehkan) memakai fasiltas kantor, sebuah sepeda ontel, sepeda dinas. Jadi teringat sepeda pak pos di Indonesia. Mungkin satu-satunya kantor pemerintahan yang memiliki inventaris kendaran dinas berupa sepeda, tinggal Kantor Pos. Jumlah sepeda ontel kantor konon ada 10 buah, tapi beberapa hilang entah di ambil siapa. Kesepuluh sepeda semua sama, dirangka sepeda besar-besar striker tertulis DAAD dibelakang didepan dan ditengah. Tidak lupa angka 1-10 yang terpajang di kerangka depan sepeda. Dan semua di kunci dengan kode yang sama, kode nomer unik mengingatkan pada nama parfum. Keputusan bersepeda menjadi pilihan alternatif yang unik, aku melihatnya bagian dari keseimbangan kerja, keseimbangan jiwa dan raga. Bayangkan saja duduk di kantor, di depan komputer lebih dari 8-10 jam per hari. Sungguh betapa menjemukan, dan melelahkan.

Sebenarnya sepeda-sepeda kantor ini hanya untuk kebutuhan antar kantor saja. Semua pegawai tahu nomer kunci sepeda ini. Kantor DAAD disepanjang jalan Kennedy (Kennedyalle) ada 3 gedung kantor yang saling berjauhan satu sama lain. Seringkali pegawai memanfaatkan untuk hilir mudik antar kantor. Tapi kali ini petugas bagian perlengkapan mengijinkan aku menggunakan sepeda untuk dibawa pulang dengan 2 syarat, yaitu: 1. Jika dibawa pulang harus dimasukkan ke dalam rumah, jangan ditaruh di pinggr jalan. 2. Jika diparkir di kantor, setiap pegawai bisa menggunakan, dan silahkan cari dimana sepeda itu terakhir diparkir. Syarat kedua ini yang kadang bikin pusing, kadang aku harus cari ke kantor DAAD Gedung 2 dan 3 yang jaraknya lumayan 200 meter dari gedung DAAD 1 dimana aku ngantor.

Gowes bagi warga Jerman adalah sebuah kelumrahan. Kelumrahan ini bukan perkara sepele karena berbagai fasilitas dan regulasi yang mendukung. Meski kadang agak geli juga membaca harga mobil bekas dengan harga sepeda baru, hanya 11-12 bedanya. Bersepeda di Bonn kali ini sungguh menyenangkan, lingkungan yang mendukung dan iklim yang sungguh asyik menikmati gowes di sini. Tidak heran mulai anak-anak masuk sekolah hingga pria-wanita dewasa berpakaian formal kantor, pakai jas gowes ke kantor. Jadi teringat aku sering mengusili sepeda profesorku yang usang warna hijau muda di Goettingen lalu dengan menempel tulisan „di jual murah“. Padahal biasanya kantor memfasiltasi penggunakan fasilitas angkutan umum dengan biaya yang sangat murah. Namanya Job-Ticket, untuk karyawan DAAD hanya 50 Euro per bulan bisa kemana-mana seantero Bonn naik trem dan bus berapakalipun dalam sehari. Bandingkan dengan jika kita naik sekali jalan harus bayar 2,79 euro atau kalo berlangganan sebulan sekitar 83 euro. Tidak dapat dipungkiri, transporasi publik Jerman memang handal, mulai dari sistem yang termanage jelas juga perilaku manusianya benar-benar menghargai public transportation. Trem dan bus pasti tepat waktu, jadwal masuk halte dan berangkat, bersih dan manusiawi. Bus akan dimiringkan jika penyandang cacat (dissabled person) dengan kursi rodanya ingin masuk ke bus, atau kursi depan khusus para tunanetra. Emm..kadang sempat terbayang kapan seperti ini bisa aku lihat di tanah air. Dan setiap orang dengan pasti memiliki tiket meskipun tidak ada kondektur yang mengontrol. Ada perasan memiliki dan malu jika terjaring rasia kontrol tiket yang biasanya random dilakukan.

Kembali ke gowes. Konon yang mempopulerkan sepeda pertama kali adalah orang Perancis di awal abad ke-18 mengenalkan alat transportasi roda dua yang dinamai velocipede. Sedangkan cikal bakal di Jerman dikenalkan oleh Baron Karls Drais von Sauerbronn yang dengan ide inovasinya untuk memperlancar kerja sebagai pengawas hutan Baden membuat model sepeda tapi mirip kereta kuda sehingga dikenal dengan dandy horse di tahun 1818. Kebiasan bersepeda di Jerman agak terasa unik, rata-rata pekerja yang gowes ke kantor jarang yang bergerombol dan pasti menggunakan helm pengaman. Dan tidak pernah terlihat berboncengan, meski ada boncengan sepeda di belakang. Yang jelas sepeda-sepeda Jerman seringkali ada ditambahi keranjang baik di depan atau dibelakang. Fasilitas pesepeda cukup memiliki arti, biasanya berada di bahu jalan utama, track sepeda ini juga terpisah dari jalan untuk kursi roda dissabled person maupun pejalan kaki. Tambahan lagi track ini juga punya traffic light sendiri. Ini menghindari terjadinya tabrakan, meski di samping kita yang sedang gowes berselieran mobil, bus, bahkan trem. Sejak dini masyarakat Jerman didik untuk memahami peraturan lalu lintas dan bagaimana bersepeda yang benar. Biasanya pelajaran bersepeda diberikan oleh guru sekolah bersama polisi memberikan pengetahuannya untuk bersepeda dengan benar. Kelengkapan dan tatakrama bersepeda benar-benar diterapkan, semisal lampu penerang, membiasakan memakai helm dan jaket berwarna memancar menjadi keharusan dalam bersepeda sehat di Jerman.

Meski masyarakat yang gowes terlihat dimana-mana tapi yang unik di Jerman mengenai masalah gowes adalah rencana ambisius, Menteri Transportasi Jerman, Peter Ramsauer. Ia ingin meningkatkan jumlah pengendara sepeda di jalanan 15 persen hingga tahun 2020. Saat ini sekitar sepuluh persen moda lalu lintas diisi sepeda. Artinya, jika kini di setiap sepuluh kilometer jalanan Jerman ada satu pengguna sepeda , delapan tahun lagi jadi di setiap tujuh kilometer. Kira-kira di Indonesia ada data statistik mengenai pengendara sepeda ngak ya? Coba kita lihat bersama-sama di website BPS tercinta kita.

Rencana ‚Agenda 2020 Bersepeda‘ ini menjadi rencana yang serius. Jumlah kilometer yang dilalui sepeda, dihitung dari total jumlah kilometer jalanan yang dilalui semua kendaraan dalam setahun di Jerman. Itu termasuk ruas jalan raya bebas hambatan atau Autobahn. Agar kontribusi sepeda dalam lalu lintas meningkat, perilaku berkendara untuk jarak pendek dalam kota harus diubah. Dalam kondisi lalu lintas kota yang padat, pengguna mobil di Jerman harus meninggalkan mobilnya di rumah dan lebih baik bersepeda. Itu berita yang aku tangkap disini seputar bersepeda. Nah, bagaimana dengan di tanah air. Pada titik ini fakta masih berbicara bahwa di Indonesia meskipun menujukkan tren gowes meningkat tetapi masih belum menjadi tradisi. Lalu lintas yang semrawut, kedisiplinan yang rendah, moda transportasi publik yang belum pro rakyat, fasilitas khusus gowes belum ada. Menjadi miris bersepeda di Indonesia. Atau masyarakat kita masih gengsi bersepeda. Entahlah! Tapi bagiku fasilitas kantor kali ini benar-benar menyehatkan, sehat jiwa dan raga dan yang pasti sehat di kantong! Yuk gowes yuk!

Bonn, 2 Juni 2013

 


Episode 8: HARIBO

Adhitya Wardhono

Apa yang menarik di Bonn ini? Pertanyaan pertamaku pada rekan kantor yang menjemputku di bandara Koeln beberapa bulan silam. Jawabnya adalah tidak ada kecuali Haribo dan gedung tinggi bekas Universitas PBB di pinggir sungai Rhein. Untuk yang pertama aku tidak tanggap. Was ist das denn? Apa itu? Haribo adalah gummy bears, gummy candy, permen kenyal anak2 dengan berbagai warna dan selera. Aku langsung tanggap apa yang dimaksud temanku meski aku agak penuh tanya juga sebenarnya, tapi aku urungkan niatku untuk tanya-tanya lagi.

Tanpaku sadari gummy bear Haribo ini bener-benar mendekat padaku. Bagaimana tidak tiap pagi dan sore aku pergi pulang kantor dengan mengayuh sepeda dinas kantor melewati pabrik gummy bears Haribo ini. Tercium rasa buah-buahan segar tiap kali melewati pabrik itu. Salah satu pabriknya tidak lebih dari 1 km dari tempatku tinggal. Komplek pabriknya menurutku tidak luas, aku melewati sisi belakang pabrik Haribo ini di jalan Karl Bart (Karl Bart Strasse).

Produk permen gummy bears banyak ditemui di Jerman sini dengan berbagai merek. Permen kenyal rasa berbagai buah-buahan ini digemari anak-anak. Dari sekian merek gummy bears merek HARIBO-lah yang paling terkenal di Jerman dan belahan negara lain. Haribo adalah memang pabrik permen gummy pertama kali jerman di dirikan oleh Hans Riegel Sr. Pada tahun 1922 adalah pabrik permen keluarga. Setelah dia meninggal di lanjutkan oleh anaknya yang bernama Hans Riegel. Dan nama Haribo adalah singkatan dari Hans Riegel Bonn = HaRiBo. Tidak salah kalo temanku mengatakan yang terkenal dari Bonn adalah Haribo. Keterkenalan Haribo tidak berlebihan jika di lihat dari ekspansi bisnis yang luar biasa memiliki 5 pabrik di jerman dan 13 pabrik di luar Jerman. Dan hingga kini pemasarannya menjangkau semua negara Eropa, Amerika dan Australia, bahkan Asia.

Apa yang menarik dari HARIBO. Salah satu yang menarik adalah slogan yang tertera. Dalam bahasa Jerman di setiap merek Haribo tertera – Haribo mach kinder froh – und Erwachsene ebenso, yang artinya kira-kira Haribo membuat anak-anak bahagia dan begitu pula orang dewasa. Ternyata slogan ini mendunia menjadi berbagai variasi misalkan di Inggris dengan Kids and grown-ups love it so – the happy world of Haribo; di Rumania dengan Gustul magic Haribo (artinya The magical Haribo flavor). Di Perancis dengan Haribo, c’est beau la vie – pour les grands et les petits (artinya Haribo, life’s beautiful – for grown-ups and little ones). Menyimak kesuksesan Haribo itu, di Jerman sendiri tidak lepas dari reklame sejak tahun 1991 yang diperankan oleh Thomas Gottschalk, entertainer terkenal Jerman yang suka menjadi penyiar yang memulai karier di Bayerischer Rundfunk (Bavarian Broadcasting).

Apa lagi yang menarik dari Haribo. Layaknya bisnis semakin menjulang semakin banyak saingan dan masalah. Keberadaan Haribo menimbulkan debat panjang di kalangan muslim Jerman dan Eropa. Apakah produk Haribo halal? Rupanya kontroversi ini menjadi iklan bisnis gratis bagi Haribo. Mereka tanggap atas bagaimana keinginan muslim Eropa. Di Jerman ada sekitar 3.5 juta dari 20 juta Muslim yang ada di Eropa Barat, dimana diantaranya merupakan imigran atau keturunan imigran yang datang ke benua Eropa selama dekade setelah Perang Dunia II. Sehingga menjadi kegelisahan tersendiri. Ketidakhalalan produk ini disinyalir dari gelatin yang digunakan yang berasal dari lemak babi, sebab hampir gelatin untuk produk makanan dan minuman sebagian besar dari lemak babi daripada lemak sapi. Tapi sejak tahun 2006 Haribo mengeluarkan produk baru bersertifikat halal, yang dikenal dengan halalibo atau haribo halal (lihat http://halalibo.de/Halal-Haribo-Goldbaeren). Biasanya produk Haribo halal di impor dari Pabrik yang ada di Turki dan dipasarkan pada negara-negara muslim, dan tentu di Indonesia ada juga, kan?

Nah, sekilas bagaimana usaha bisnis kuliner keluarga bertahan dengan membuka mata dan telingga lebar-lebar dari kegelisahan dan saran konsumen. Bagaimana di Indonesia?

Bonn, 4 Juni 2013


Waktu:

tatkala belajar dari mereka yang sudah dapat menghargainya

 

oleh: Adhitya Wardhono

 

Hidup harus mesra bersama sempitnya waktu yang 24 jam itu. Seringkali hidup kurang akrab dengan waktu. Kata orang keakraban dan kenyamanan hidup tergantung manajemen waktu kita. Ada yang mampu mengelola dengan baik, namun tidak sedikit yang berlalu begitu saja.  Waktu kata orang juga citra diri. Dengan waktu pula orang tumbuh  mencitrakan jati dirinya. Kesabaran dan ketelitian terlihat dari kemampuan mengelola waktu. Bersama terminologi waktu pula kita merencanakan masa depan. Laksana koki, waktu memegang nikmat tidaknya masakan. Kurang atau kelebihan dari yang semestinya masakan menjadi tidak appetit untuk dinikmati. Hilang selera dan terlupakan.

 

Didepan setiap ruang kerja profesorku selalu tertempel informasi termin/jadwal untuk bertemu. Kapan kita dapat ketemu dengan professor. Hari apa dan jam berapa. Biasanya akan tertulis 3 hari dengan alokasi tidak lebih dari 3 jam perhari. Jika berhalangan dipersilahkan untuk menghubungi sekretarisnya yang tahu dimana agenda kerja profesor. Diluar hari dan jam tersebut Profesor biasanya tidak bersedia ditemui. Waktu-waktu diluar jadwal konsultasi adalah waktu kerja, untuk menulis, membaca dan berdiskusi dengan sesama profesor atau asisten profesor. Tiga jam bisa panjang atau sangat sempit. Itu yang aku rasakan waktu itu di Jerman!  Sudah berjajar mahasiswa untuk berkonsultasi dengan sang profesor, ada yang sibuk dengan skript pekerjaannya dan ada yang tertegun perpikir apa yang akan dia ucapkan nanti. Dia pikir sequent-nya agar kronologis tidak terkesan dummy person di muka profesor. Pendeknya mereka harus efektif memainkan jatuhnya kata di ujung mulutnya nanti. Begitu sempit, maka efektivitas bagai meraja. Bagi kawanku yang ada disini –Jerman- waktu adalah musuh. Musuh untuk selalu harus dikebiri, harus selalu diburu. Waktu harus kita kalahkan, kita harus menang dengan waktu. Bagi pekerja/peneliti/mahasiswa kerja di institute, departemen, atau universitas, tidak ada agenda check clock. Meski jelas jam kerja mulai jam 08.00 hingga 16.00 dengan waktu pause 1 jam di tengahnya hari, tapi yang terjadi adalah pulang jam 19.00 adalah pulang awal. Berarti pekerjaan sudah agak banyak yang selesai. Rata-rata jam 21.00-22.00 adalah waktu untuk sekedar menyelonjorkan kaki, menegakkan punggung dan pulang. Kalau lagi pekerjaan berjibun pulang tengah malam bahkan pagi hari adalah suatu kenikmatan dan capaian yang membanggakan. Tak heran dan bukan isapan jempol para peraih kedigdayaan dibidang sain dan pengetahuan dengan Nobel-nya masih digenggam erat oleh mereka. Bukan perkara mereka dari etnis di luar kita, yang dikarunia lebih. Bukan perkara fasilitas yang lebih dan lengkap. Dan bukan pula karena mereka lebih modern. Modern adalah kambing hitam yang usang untuk sebuah olok-olok. Bukan sama sekali. Tapi mereka lebih pandai mengelola waktu dan mengoptimalkan, paling tidak itu salah satu variabel penentunya.

 

Sementara, dibelahan bumi lain aku menerawang sekejap, betapa hilir mudik segunung orang tanpa tujuan jelas. Waktu mungkin bagi sebagian kita hanya sekedar teman hidup. Toh esok pagi masih bersinar mentari. Alamak! Gitu aja kok dipermasalahankan. Sindir kawanku yang punya kebiasaan merekam informasi sepanjang hari. 24 jam non stop.  Di warung kopi di pinggir jalan. Dengan kaki di angkat, meningkrang, hidup terasa nikmat merangsang. Ngobrol dari yang santai hingga serius. Dari opera sabun telenovela hingga parodi politik mutahir. Tidak ada skenario dan tidak ada ujung pangkalnya. Kadang bagai candu. Padahal aku tahu dia bukanlah intel yang memang pekerjaannya menyaru, menyamar dan menyadap pembicaraan penting untuk tujuan bela negara. Alih-alih suatu kerja produktif, aktivitas ngobrol tanda batas dan hanya membuang waktu adalah kesengsaraan. Bukankah banyak saudara kita yang butuh pemikiran serius dan hadap masalah. Maka disinilah waktu adalah penentu. Dan kita adalah aktor utamanya. Padahal John Naisbit sudah mengingatkan…‘kalian jangan sampai kena sengat paradox informasi. Kalian  pada serap semua informasi tapi ngak tahu untuk apa informasi itu..‘. Itu paradox informasi namanya.

 

Kunci sukses sebenarnya terletak bagaimana waktu bisa bersahabat dengan kita. Cita rasa mengaduk waktu dan aktivitas dalam mengapai asa adalah adonan hidup yang bijaksana.  Waktu harus tumbuh bersamaan dengan kesadaran kita bahwa kita hidup dan ada dengan segala tantangannya, bukan sekedar khayalan dan mimpi belaka. Waktu harus mendewasakan kita, bahwa kita harus berbuat dengan kekuatan jiwa, sembari mendapat dorongan dari ingatan kita pada rekaman masa lalu untuk menjadi lebih baik diwaktu yang akan datang. Waktu lampau telah lalu, waktu di masa depan masih akan  datang dan waktu kini adalah nyata. Waktu yang akan datang sulit untuk diramalkan, namun membiarkan masa depan begitu saja adalah sikap yang gegabah dan tak bertanggung jawab. Akhirnya, waktu adalah perbuatan.

 

Jember, 20 Mei 2008


Kebaikan hati

oleh Adhitya Wardhono

 

 

Dalam kesendirian terkadang manggu tak dapat terelakkan. Berbagai pikiran berhamburan ingin keluar dari kepenatan sempitnya volume otak. Tak hingga memaksa berbaur dengan semburatnya perasaan jiwa. Menyelami samudra kehidupan kadang tidak akan menemui indahnya mutiara, malah terkadang duri-duri tajam menusuk nestapa. Namun demikian teliti untuk menghindari adalah pengendalian diri yang tiada tara dahsyat,  dalam galau membelai hati sekalipun.

 

Hidup bertabur surya memancar adalah mesra hidup yang sering kita cari. Meski cerita ceria tersebut tidak mudah tanpa penyatuan batin dan pikir. Keterpaduan keduanya adalah keindahan yang tiada tara, meski banyak menyisakan agenda. Mungkin kuncinya adalah kebaikan hati. Untuk itu mari kita lakukan kedepan, berlari kencang, berjalan tegap bersama timbul tengelamnya horizon waktu tanpa meninggalkan kebaikan hati.

 

Keberhasilan bukan semata-mata karena kekuatan otot dan  ketajaman pikiran. Kita perlu bertindak dengan kelembutan  hati. Bangunan sukses yang kita raih bukanlah upaya sendiri melainkan di balik semua pencapaian, terselip pengorbanan orang lain, bapak-Ibu yang kita hormati, istri tercinta, adik kakak tersayang, handai taulan terkasih, sobat-karib terpercaya. Hanya bila kita melakukannya dengan kebaikan hati, siapa pun rela berkorban untuk keberhasilan kita, tanpa pamrih dengan hati riang. Hanya dengan ketulusanlah semuanya menjadi saudara. Kebaikan hati adalah ikatan batin dan raga yang terpancar dari gerak tangan, mulut dan kaki. Menyatu dengan kehendak untuk menjadi lebih baik, dan dapat mengurangi penderitaan sesama. Laksana orang baru menghargai air setelah ia hampir mati kehausan. Demikian pula dengan kebaikan hati adalah sesuatu yang spontan dan tanpa rekayasa.

 

Teringat fatwa orang bijak bahwasanya “Jika busur anda patah dan anak panah penghabisan telah dilontarkan, tetaplah membidik. Bidiklah  dengan seluruh hatimu.” Semua tindakan anda bagaikan bumerang  yang akan kembali pada anda. Bila anda melempar dengan baik, ia akan kembali dalam tangkapan anda. Namun, bila anda ceroboh melemparkannya, ia akan datang untuk melukai anda.

 

Renungkan bagaimana tindakan anda sekarang ini. Lakukan segala semuanya  dengan tulus dan penuh kasih. Tiada yang lebih manis daripada  memetik buah atas kebaikan yang anda lakukan. Bahkan terkadang memaksa mata kita terkaca-kaca dalam tunduk syukur memohon kehadiratNya.

 

Kebaikan hati adalah kecenderungan menatap beratnya hidup. Terkadang bertentangan dengan bisik nurani, tapi mari kita mulai dari detik ini. Untuk melihat cinta dan cita yang merekah. Bagai tarian kupu-kupu hanyut dalam dekapan warna-warni bunga di taman harapan.  Dengan sedikit merenung buah pikir Thoreau berikut  maka kebaikan hati dapat menjadi relasi hangat dengan meregangnya kerja keras otot dan jejaring semrawut pikir:

Jika seseorang melangkah dengan mantap ke arah yang diangankannya dan berusaha keras untuk hidup seperti apa yang ia bayangkan, ia akan memperoleh sukses yang tidak pernah terpikir olehnya.

(Thoreau)

 

Teriring salam dari Goettingen yang dingin,

Adhitya (05.10.03)

 


Ketika aku ‚calling’ Tuhan

oleh:  Adhitya Wardhono

 

…..Tuhan, aku coba calling setiap saat Dikau, namun yang terdengar hanya dana sibuk…..

Padahal aku tidak pakai Voip atau Skype….aku pakai jalur resmi Telkom meski agak mahal dan lewat wartel yang sekarang sedang sekarat, kalah dengan telpon seluler.yang katanya bukan telepon biasa.

….Tuhan, aku coba calling Dikau setiap saat, terdengar hanya nada mailbox, dengan bidadari menjawab: silahkan beri pesan anda!

 

…Tuhan

kali ini aku ingin sedikit mengurai rasa. aku hanya ingin curhat. Sebentar saja, please deh!

 

Pulsa sekarang mahal. Karena Telkom tidak berpihak rakyat. Kata mahasiswaku masih ‚monopoli‘. Jadinya sulit untuk menghitung welfare cost yang sesungguhnya. Mohon diangkat dan tolong dengerin curhatku..ya Tuhan.

 

…waktuku singkat untuk sekedar curhat panjang dengan Dikau.

Tuhan aku hanya ingin membolongkan hatiku. Biar plong!.

Begini Tuhan….kenapa rasa ini datang tiap akhir semester.

Semakin kupendam semakin sesak rasanya. Benar Tuhan. Dimusim ujian dan penilaian. Ada galau dan gelisah. Seperti masuk labirin untuk menemukan pangkalnya. Didudukannya aku sebagai eksekutor, dewa penolong atau educator. Sungguh posisi yang sangat sulit.

 

Mengapa? Mungkin Tuhan bertanya begitu, bukan?

Optimismeku selalu datang ditiap awal semester.

Katanya profesiku cuma sekedar ‚makelar‘ masa depan generasi muda yang energik dan bersemangat menyongsong menguritanya dunia.

Sadar akan itu akupun bersemangat pula untuk menyiapkan, biar tidak terlihat ‚dummy person‘ dimuka kelas. Aku calling temanku untuk sekedar mengkopi buku-buku baru… biar mahasiswaku tertarik, biar mahasiswaku terpana akan dahsyatnya kemajuan, dahsyatnya dunia. Meski aku harus jadi ‚pembajak‘ karena profesiku cuma makelar yang tidak ada kepastian ekonomi, meski hanya sekedar kehidupan sederhana dan layak. Mana mungkin aku kuat beli buku original yang dibandrol dollar itu. (Mau minta fakultas..mana mungkin? Mereka sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk dengan mempertahankan ‚harga dirinya‘—bagiku ngak masalah, aku beruntung punya sobat, sohib, kolega, rekan dan teman  yang ikhlas mengirimi aku data, info, dan referensi mutahir).

 

Begini Tuhan! Aku sesaat bersemangat memberi tugas, dan bersemangat pula untuk membaca tulisan mahasiswaku. Yang kadang enak untuk dibaca, maupun yang rumit untuk dicerna. Tapi pada saat itu pula aku meski kecewa, karena hampir semua jawaban serupa, hampir semua jawaban sama. Tidak ada yang berpikir beda, aneh ataupun nyleneh. Yang mampu mengispirasi, menyemangati, berkredo, berjiwa. Sepertinya ngak ada roh dalam tulisan itu. Tidak ada yang berkeinginan menunjukkan jatidirinya, sebuah ‚kesombongan‘ seorang pemikir muda tidak hadir. Sekedar menjawab dan sekedar mengumpulkan. Tapi aku tetap semangat untuk membacanya. Aku mungkin bisa berpikir…paling-paling mahasiswaku cuma sekedar kepingin nilai, kepingin lulus..tapi pikiran itu aku coba kesampingkan. Aku masih yakin mereka punya harga diri. Punya idealisme tinggi. Penetrasi pikirnya pasti cepat. Mereka tidak Lola (loading lambat), kok!

 

Musim ujian tiba. Memang bukan musim durian yang katanya lezat enak itu. Tapi nuansanya sama: rame, dikerubuti dan dinikmati. Rame sekali outlet fotocopy, berkerubut sekali mahasiswaku sibuk copy bahan ujian, dan ada pula yang ‚benar-benar‘ dicopy…dibonsai..istilah mereka. Dicopy kecil sebagai bahan ujian instan. Tidak salah rupanya produk instan yang beredar. Mie instan, kopi instan, teh instan, tiwul instanpun sekarang ada. Ini kadang menjadi inspirasi satu dua mahasiswaku untuk bikin bahan ujian instan. Kreatif bukan?  Tidak ada yang baca buku-buku referensi. Fotocopy materi…cukup (murah)..renyah (dibaca)..nikmat (nilainya). Ach! Semoga juga tidak benar dugaanku ini.

 

Kelas mulai sunyi, ujianpun dilangsungkan. Tak terkira betapa seriusnya mahasiswaku menjawab. Ada yang tegang, ada yang tidak jenak duduk, ada yang berpikir keras, ada yang kesal. Mimik-mimik eksotik nan menarik, mengalahkan latihannya Teater Koma. Apapun meski harus dapat menjawab. Mereka harus sukses. Tapi memang dahsyat ciptaanMu itu. Jalan sukses memang beda-beda. Kisah jalan sukses sudah banyak menjelma jadi showbiz, sinetron, novel dan cerpen. Kisah-kisah yang membawa inspirasi langsung ditangkap KickAndy Show yang menyuguhkan rona-rona kehidupan unik menawan di layar TV. Lagi-lagi jalan sukses adalah (tidak pernah) terjal. Berbagai cara dilakukan.demi sukses demi harga diri. Demi masa depan. Rupanya keseriusan diujian terlihat dari hampir semua lembar ujian dikumpulkan. Hebat..selesai satu episode.

 

Tuhan…kalo Dikau sudi membantuku..tolong bantu aku koreksi..tolong bantu aku beri nilai mahasiswaku. Nilai-nilai yang sekiranya adil. Bukankah sifat adil itu sifatMu? Nilai-nilai yang menciptakan peluru-peluru dahsyat. Biar aku tidak menjadi sosok eksekutor sebuah putusan yang pelik, yang sulit. Atau sosok dewa penolong yang tidak bertanggung jawab pada masa depan anak didikku. Dua profesi yang rumit. Kalaupun educator…mungkin aku belum cukup mengejawantahkan arti edukasi. Pasti aku akan disindir oleh atasanku, oleh kolegaku atas ‚hasil karyaku‘ yang tidak mampu mengartikulasikan sebuah kebijakan. Aku kurang mampu menerjemahkan garis komando. Memang Tuhan aku harus perlu belajar untuk menilai orang. Yang jauh dari arti ‚salah‘.

 

Tuhan..padahal aku  hanya ingin memperlihatkan ke mahasiswaku betapa tingginya Mahameru. Bagiku untuk tahu Mahameru..datangi dia, tantang dia. Untuk tahu tinggi bukankah kita harus pernah jatuh? Paling tidak pernah melihat keatas, kalo tidak mau menaiki. Maybe yes, maybe no!  Aku tidak mau bersilat lidah perkara ini. Ini perkara rasa, perkara batin yang tidak bisa dibeli dan diperjualkan. Bukan perkara menang-menangan berdebat. Apa begitu ya Tuhan? Jangan-jangan aku salah lagi, ….Tuhan!

….Tuhan…hallo..ya hallo….hallo Tuhan, aku ini  calling Dikau, mengapa tidak diangkat?

 

Mungkin Tuhan memang tidak ingin mendengar kisahku. Aku harus tahu diri, urusan ini memang tidak perlu membawa-bawa Tuhan. Apalagi memaksakan Tuhan untuk berpikir masalahku. Jangan-jangan Tuhan malah murka. Membuat banjir, membuat longsor dan membuat Tsunami. Sehingga banyak perusahaan habis, investasi tidak jalan, ekonomi tidak semarak, hingga akhirnya banyak kantor dan perusahaan tidak buka lowongan kerja…kasihan mahasiswaku nanti, lulus sekolah tidak  bisa kerja.Kasihan bapak ibunya yang penuh harap terhadap anaknya. Duh..aku malah bikin beban mereka. Terima kasih bidadari yang telah menjawab: silahkan beri pesan anda! Kali ini aku tidak beri pesan di mailbox. Sungguh…sumpah! Biar… Tuhan tidak marah.

 

……………….Mama…Papa…..susu!….terbangulah aku. Terbangun oleh teriakan anakku yang minta susu tepat jam 04.15 itu. Itulah kebiasaan buruk anakku (3,9 tahun) yang jadi pemerintah, tukang perintah orang tuanya di negeri mungilku. Alhamdullilah ternyata cuma mimpi!

 

Jember, Medio 2008
Semua karena Bola

Pesta sepak bola sejagad  karya arsitek bola Jules Rimet dan rekannya Hendry Delaunay presiden dan sekretaris federasi sepakbola Prancis, FFFA (1919 – 1949), merekalah pioner kompetisi tingkat dunia yang dikenal dengan nama World Cup atau Piala Dunia yang tahun 2006 ini  telah dibuka Jumat (9/6) lalu dengan sangat meriah. Pagelaran empat tahunan ini  menimbulkan demam hebat tidak saja pada masyarakat gibol (gila bola) tetapi hampir semua manusia dijagat ini. Bak magnet yang menyedot perhatian dengan menanggalkan sebentar kegetiran masalah dibelahan dunia lainnya, memang bukan bualan, piala dunia selalu mempertontonkan sesuatu yang lain. Sebuah ajang yang terbangun dari permainan dua kali sebelas orang dalam tempo 90 menit pada satu sisi telah menjadi sebuah ‘industri’ yang mondial, yang menggerakkan secara cepat naluri ekonomi pelaku bisnis lokal maupun transnasional, menjadi pengikat keeratan tali persahabatan, membangun fondasi sportivitas dan ketakutan bayang-bayang berkeliarannya suatu komunitas mafioso, serta munculnya efek sporadis-negatif, disisi lainnya. Tak pelak piala dunia sepak bola adalah momentum penting nan misterius dalam sejarah dunia olahraga modern, ia melahirkan banyak nama besar dari Caesar Linus Minoti, Alex Ferguson  hingga Pele, Diego Maradona dan Zinedine Zidane.

 

Semua karena bola. Semua orang terfokus dan sibuk menyimak perhelatan akbar sepok bola kali ini. Itu yang mungkin dapat diamati dari beberapa aktivitas disetiap penjuru kota di Jerman, tidak saja 12 kota yang memang akan memangungkan secara langsung,  namun hampir setiap kota di Jerman ikut larut dalam gegap gempitanya. Kebetulan saja saya tahun ini sedang studi di kota Goettingen yang terletak di negara bagian Nieder-Sachsen kurang lebih 1 jam perjalanan dengan kereta dari Hannover, meski tidak mempunyai kesempatan melihat langsung pertandingan-pertandingan FIFA Piala dunia ini, namun suguhan aneka pernak pernik terasa benar atmosfirnya. Semua orang membicarakan hal ini, mulai dari pekerja kantoran, penjual roti, mahasiswa hingga profesorpun tidak kuasa untuk ‘mendiamkan’ pesta bola ini. Bahkan dengan antusias istri saya selepas pulang kuliah menceritakan bagaimana profesornya tadi dikelas memprediksi kemungkinan-kemungkinan tim yang akan lolos ke babak-babak selanjutnya. Piala dunia memang sihir olah raga. Juga banyak sekali mobil-mobil di hiasi dengan bendera Jerman di mana-mana persis kalau kita memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus, meski pada hari kemerdekaannya orang-orang Jerman malah tidak terlihat seheroik dibanding memeriah piala dunia kali ini. Di tiap-tiap rumah juga tidak ketinggalan mulai menghias yel-yel menyemangati tim favoritnya dari hanya sederhana hingga memasang beberapa bendera Jerman dengan tulisan tahun ketika Jerman menjuara piala dunia.

 

Bienvinido Mexico. Masyarakat kota Goettingen tak kalah serunya dalam menyambut piala dunia. Atribut piala dunia sudah jauh-jauh hari menghiasi kota ini. Terlebih kota ini dipercaya menjadi markas Tim Meksiko asuhan Ricardo La Volpe. Meski menjadi tim terakhir yang tiba di Jerman (2/6) tidak menjadikan tim Meksiko ini sulit menyesuaikan diri dengan cuaca Jerman, yang kebetulan pada bulan ini cuaca sudah mulai hangat meski kadang-kadang hujan. Di kota inilah, tim Meksiko melakukan persiapan akhir untuk menghadapi Portugal, Iran dan Angola di Grup D. Keterbukaan menerima tim Meksiko sudah jauh-jauh dipersiapkan oleh jajaran pemerintahan kota Goettingen. Paling tidak terlihat dari satu ‘site’ di website resmi Kota Goettingen (www.goettingen.de)  yang menyuguhkan informasi seputar sepak bola dan kota Goettigen dan Jerman pada umumnya dalam bahasa Spanyol. Goettingen sedikit berbenah, dimana-mana nuasa Meksiko terlihat kentara, dari beberapa hotel yang mengkibarkan bendera Meksiko hingga spanduk-spanduk tertulis Bienvinido Mexico. Juga baliho-baliho menyambut piala dunia ‘Die Welt zu Gast bei Freunden’ terpampang di sudut-sudut jalan, atau di halte-halte bus. Bahkan sebelum pesta sepak bola sejagat itu digelar, Meksiko menyuguhkan kebolehannya dengan melakukan pertandingan persabahatan dengan tim Goettingen Selection di Jahnstadion-Goettingen dengan berakhir 3-0 untuk Meksiko pada 3 Juni lalu. Bahkan antuas warga Goettingen juga terlihat ketika tim Meksiko melakukan latihan-latihan kecil.

 

Nonton bareng – melampiaskan emosi. Meski diadakan di Jerman tidak setiap masyarakat gibol yang berada di Jerman berkesempatan untuk menonton langsung di stadion. Namun harga tiket yang cukup tinggi dan sempitnya kesempatan untuk langsung melihat di stadion, tidak menyurutkan masyarakat Goettingen untuk menikmati suguhan piala dunia kali ini. Misalnya saja satu tempat luas semacam hangar kereta api di belakang Bahnhof (Stasiun Kereta) yang terkenal dengan nama Lokhalle yaitu hall seluas 8.400 kuadrat meter itu dimanfaatkan untuk menonton bareng dengan layar lebar. Lokhalle menjadi vanue of the Theatersport World Cup. Dengan  dua video proyektor berkapasitas 10.000 ANSI-lumen dengan ukuran screen 80 kuadrat meter menghadirkan atmosfir pertandingan mendekati sebenarnya. Mereka dapat ikut berteriak melampiaskan kegirangan atau kekesalan terhadap penampilan tim kesayangannya. Tentu nonton bareng ini tidak gratis. Paling tidak harus merogoh kocek untuk dapat menikmatinya. Meski demikian nonton bareng tidak saja di Lokhalle, beberapa tempat menyediakan acara nonton bareng yang semuanya bermuara pada melampiaskan hura-hura kompetesi bergengsi ini.

 

Iming-iming dari pebisnis untuk gibol. Tak kalah menariknya juga dilakukan pelaku bisnis, kesempatan menjadi tuan rumah perhelatan sepak bola kali ini tidak disia-siakan oleh kalangan bisnis di Jerman untuk mendongkrak omzet penjualannya. Berbagai cara dilakukan oleh pelaku bisnis memanfaatkan momentum empat tahunan ini. Misalkan saja bisnis elektronik adalah dengan memasang penawaran yang cukup menggiurkan. Beberapa waktu sebelum piala dunia dimulai Media Markt, sebuah supermarket elektronik besar di Jerman menawarkan beraneka ragam  merk televisi yang umumnya adalah Televisi layar datar dan plasma TV dalam berbagai ukuran dengan harga yang miring, khusus untuk TV yang berharga diatas 500 euro dikenakan  bonus menarik, misalkan satu gol Jerman akan dihargai 10 Euro. Jadi tinggal menunggu berakhirnya piala dunia berapa gol yang mampu dicetak oleh Ballack dan kawan-kawan di jaring lawan. Juga dengan penjualan produk beamer berbagai merk menjadi produk yang disuguhkan oleh toko elektronik dengan berbagai discount. Beberapa toko pakaian juga menjual pernak-pernik atribut piala dunia mulai dari kaos,topi, bendera, bola dan aneka ragam macam lainnya. Sebagai markas tim Mexiko di sejumlah toko di Goettingen menyediakan Sambrero topi khas orang Meksiko.

 

Bagi pelajar dan masyarakat Indonesia di Goettingen yang terwadahi oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia sedikit ‘dipusingkan’ dalam mencari waktu yang tepat untuk aksi kemanusian terhadap bencana gempa di Yogya dan Jateng, karena perhatian masyarakat masih terfokus pada pesta sepak bola ini maka aksi sosial harus diundur demi efektivitas dan optimalisasi  kegiatan basar amal yang sedianya akan dilakukan dalam menggalang dana gempa Yogyakarta dan Jateng.

 

Akhirnya permenungan terhadap slogan Piala Dunia 2006 pilihan FIFA kali ini  sungguh tepat kiranya dilakukan terlebih merujuk situasi dunia dewasa sekarang ini, dimana  ‚berserakan’ motto sejauh mata memandang di jalan-jalan kota Jerman akan terlihat tulisan ‘Die Welt zu Gast bei Freunden’ – ‘A time to make friends’ – ‘Saatnya untuk Bersahabat’ –  dapat menjadi kita tersadar akan dimulainya pesta yang tak kalah seru yaitu pesta persaudaraan dan kebersamaan dalam perdamaian di tengah kehidupan kita, meski layar pesta pagelaran Piala Dunia nanti sudah ditutup. Semoga. (aw:18/6).

 


Kika (Kinder Kanal) (1)
Iklan hari ini mengusikku tidak saja melihat harganya yang miring tapi fasilitas yang ditawarkan. QVision sebuah merk DVD Recording, tidak terkenal memang, tapi merk ini menawarkan harga yang begitu miring ditengah ratusan euro DVD recording dengan Merk terkenal membanjiri pasar elektronik. Harganya dibawah seratus euro, ok-lah. begitu pikirku selepas membandingkan harga di beberapa situs
elektronik dan tester barang elektronik.

Meski bukan maniak acara TV aku menikmati benar sajian acara-acara TV Jerman. Dari yang layak dikonsumsi anak-anak hingga yang layak dikonsumsi orang dewasa. Paling tidak ada Kika (Kinder Kanal) yang menyajikan acara anak-anak sedari dini hingga petang. Bervariasinya acara kadang nikmat juga berlama-lama di depan tv. Ada film dokomenter, flora fauna dan Galileo yang bikin aku harus menipu petugas TV yang datang kerumah untuk memajak TV, kali ini maaf- ini harus saya lakukan, TV buntut saya seharga iuran TV dua bulan. Lha, wong belinya ya second hand, je!

Aku tidak bisa melupakan ekspresi mimik anakku yang begitu dahsyat, sambil menunjuk ke TV; papa, da..da! Naturlich!, tidak dapat aku gambarkan dengan kata-kata, ketika melihat serombolan gajah berduyun-duyun menuju sungai, ataupun gerak cepat seekor ular melilit mangsanya. Itulah sekelumit kebiasaan kami setelah menjemput si kecil dari Kinderkrippe (red: TPA) jam 4 sore, manakala ibunya ada kuliah sore hari. Kami selalu sempatkan untuk melihat acara flora dan fauna di TV dengan sedikit tambahan cerita.

DVD recording dan acara TV. Pagi-pagi hari senin kemarin aku ikutan antri dengan belasan orang sebelum toko di buka. Persis 09:30 pagi begitu toko dibuka, puluhan orang berlari menuju outlet penjualan DVD tersebut. Ya, aku sengaja berburu DVD recording, meski setelah terlihat dilabel belakang tertulis -made in PRC-, tak apalah kita bukan golongan pemburu merk, kita cenderung golongan ‘proletar- utilitarian’, begitu aku memberi keyakinan pada diriku-sekedar merelaksasi cupetnya daya beli.
Nun jauh dari sini, dengan maraknya dunia sinematographi di tanah air, bergeliat pula karya anak bangsa dengan ekspresi yang luar biasa. Namun konon,TV kita sering dijejali oleh banyak acara-acara yang bikin pusing, genre acara yang amburadul sebagai tanda bergemuruhnya pusingan bisnis tv, yang konon penuh kreativitas meski pula mengabaikan aspek edukasi dan identitas bangsa.

Itulah yang menyemangati aku untuk berburu DVD recording. Singkat cerita aku hanya ingin mengkoleksi acara ‘baik-baik’ untuk konsumsi tontonan kelak kalau pulang, sambil menanti ‘beresnya’ bisnis saluran TV yang masih belum jelas hingga hari ini, itupun kalau punya daya beli :(–bersambung–).
 


Pengalaman studi di LN:

Fenomena Terkini Perguruan Tinggi Jerman (1)

Model pembelajaran di PT menarik untuk disimak. Plus minus adalah kewajaran sejurus dengan terendapnya cara pandang kita terhadap dunia pendidikan tinggi (sistem, model dan outcome) selama ini.

Pada galibnya banyak orang membedakan pendidikan yang ada di dunia´ ini menjadi dua model ekstrem yaitu antara sistem pendidikan Eropa daratan dan Anglo-saxon. Entah diadopsi dengan bulat-bulat ataupun dengan muatan-muatan khusus dari kedua sistem tersebut. Namun demikian ‘sepertinya’ sekarang ini sistem eropa dalam ‘kegamangan’. Beberapa tahun belakangan hingga sekarang ada dua model yang diterapkan bersamaan di negara2 eropa daratan, tentu dengan segala – pro and con-, misalnya saja, Belanda yang sudah mengenal Master (MSc dan sebangsanya, padahal dulunya gelar ‘drs’ adalah gelar ‘sakral’ dan setara master serta ‘berhak’ untuk lanjut Doktor; juga Perancis ada DEA atau DES yang setingkat master; Jerman punya Dipl.Ing atau Dipl. lainnya (untuk mencapai Dipl. seorang mahasiswa harus lulus Vordiplom dan berhak untuk mencapai Haupdiplom…biasanya pelajarnya disebut sebagai student.rer.nat atau student.rer.pol..sejurus dengan bidang keahlianya dan sebangsanya yang siap Doktor.rer.nat…. dll). Dan hampir semua ‘master’ (pendidikan sejajar S2) di Eropa daratan adalah ‘by research’ atau paling tidak kombinasi dari ‘by course and research’. Jarang ditemui hanya by course saja. Program yang bermunculan tersebut bisa bertajuk, Bachelor, Master baik dalam bahasa Jerman maupun bahasa Internasional Inggris.

Tanggung jawab kompetensi lulusan tidak saja menjadi tanggung jawab Univ. bersangkutan tetapi juga negara bagian. Di Jerman, untuk mendirikan program pendidikan tertentu harus melalui persetujuan dari Menteri Negara Bagian, karena juga terkait dengan masalah pendanaandan kelayakannya. Biasanya universitas akan berkolaborasi dengan negara bagian bahkan pemerintah kota dalam hal penyediaan fasilitas bagi mahasiwa, mulai dari Kantin (red. Menza), appartemen, angkutan (Bus, KA), diskon beli buku atau barang elektronik bahkan untuk menikmati konser musik klasik, hingga perpustakaan kota yang sering terintegrasi dengan universitas bersangkutan. Tidak heran status student adalah status yang diinginkan banyak warga negara karena berbagai fasilitas yang didapat dan merekan dapat berlama-lama di dengan status student ini.

Seorang mahasiswa, diberi kebebasan untuk menentukan ‘masa depannya’. Keahlian mereka gali sendiri sampai ‘kedalaman kepuasan’ yang mereka inginkan. Mereka diberi kebebasan untuk memilih mayor dan minor studi. Tidak mengherankan kalau ada yang mengambil Fach. Ekonomi di mayor dan Matematik di minor. Atau sebaliknya. Inilah kadang kala yang menghantarkan mereka mencapai puncak karier, seorang ekonom mampu membuat software ekonometrika atau statistik ekonomi terapan dengan ‘cita rasa’ masalah ekonomi yang memadai. Contoh lagi, masalah ‘skripsi’ dan sebangsanya, minim sekali ada kasus plagiat dan sebangsanya, karena keinginantahuan mereka yang begitu tinggi tidak jarang yang hanya untuk menulis ‘Skripsi saja’, mereka rela mengambil data langsung negara tujuan (untuk kasus tertentu). Mengapa ini bisa terjadi, karena dukungan lembaga privat, industri, partai politik, gereja, negara bagian dan universitas cukup tinggi tidak saja informasi tetapi juga dukungan dana. Disamping itu kendala bahasa asing jarang ditemui oleh mahasiswa disini. Mereka paling tidak paham dengan baik satu bahasa asing, biasanya Inggris, Perancis, atau Spanyol (yang didapat dibangku SMA dengan baik). Berangkatlah mereka ke Afrika Barat untuk yang fasih bahasa Perancis, atau ke Amerika Latin untuk yang fasih bahas Spanyol. Untuk ke Asia tak jarang mereka bersedia untuk berjibaku 2-4 bulan belajar bahasa asing di negara tujuan secara inten dengan modal bahasa Inggris yang bagus. Cermati menjamurnya kursus bahasa Indonesia di Yogyakarta misalnya, di bilangan ‘njero benteng alun-alun selatan’.

‘Kegamangan’ dan Demokrasi

Sejalan dengan perubahan ‘jaman’ dan seretnya perekonomian, serta pergeseran politik yang terjadi di Eropa dan Jerman pada khususnya telah terjadi penurunan ‘kenikmatan’ status student di Jerman. Masa keemasan ‘kebebasan’ status student berangsur-angsur berkurang. Uang sekolah (SPP) sudah mulai diberlakukan di beberapa Universitas di hampir semua negara bagian. Demo besar-besaran mulai tahun 2003 lalu tidak kunjung membuahkan hasil. Konon masalah kriminal yang tinggi mengharusnya pemerintah negara bagian Nieder-Sachen Jerman, misalnya,
harus mengkonsentrasikan budget untuk pendanaan kepolisiannya. Sehingga dana banyak dialihkan dari sektor pendidikan ke sektor keamanan. Walhasil adalah subsidi yang berkurang untuk lembaga riset dan pendidikan tinggi. Juga kategorikal strata pendidikan ‘Eropa daratan’ yang kurang umum seperti tersebut diatas banyak mengakibatkan ‘kesulitan’ dlm mencari pekerjaan karena ‘gara-gara’ gelar ‘Diplom’ yang katanya sering ditaruh di level pekerjaan kurang memadai jika bekerja di luar Jerman. Entah alasan mana yang benar, konon kabarnya pula tahun 2009 nanti secara serempak akan diberlakukan penstandarisasian level pendidikan; yaitu Bachelor,Master dan Doktor. ‘Mirip’ sistem anglo-saxon ataupun pen-aglo-saxon-an barangkali. Dan lambat laun ditiadakanlah gelar Diplom (Dipl.) gelar kebanggaan alumni Jerman yang selevel dengan Master tersebut.
Terlepas ‘kegamangan’ standardisasi tersebut tapi bisa jadi hal ini merupakan realita yang sebenarnya, meski kadang standar pendidikan memang sulit diseragamkan. Kegamangan itu seperti menuntut banyak keterbukaan yang lebih. Jika melonggok kebelakang belasan abad lalu, konon ceritanya di abad 11-12 lalu di Eropa ini universitas diorganisir dengan dua cara yaitu pertama, dikelola oleh mahasiswa dan kedua, oleh dosen. Dalam hal yang pertama, mahasiswa memilih rektor dari kalangannya sendiri. Mahasiswa, jadinya, menikmati hak khusus: demokrasi, kebebasan, self administration. Ini adalah kemewahan yang luar biasa di jaman monarkhie dan absolutisme waktu itu. Mahasiswa yang datang dari rantau memiliki perkumpulan sendiri, yang disebut “nationes”. Kira-kira bisa bayangkan kerumulan kelompok Mahasiswa Ambon, Jawa, Kalimantan, Papua membuat organisasi Univeristas sendiri. Ini banyak dipraktikkan dulu oleh univeritas Italia.
Sedangkan kedua adalah, jika dosen yang menjadi penentu banyak dipraktekkan oleh Universitas di Perancis. Selain rektor, jabatan lainnya adalah dekan, senat dan kanselir (kepala administrasi). Kanselir adalah wakil Paus, misalnya Bischoff. Dana universitas diperoleh dari gereja atau kloster, negara (kerajaan) maupun perusahaan. Tanah biasanya merupakan hadiah gereja atau kerajaan. Model dan gaya pasti tidak berjalan linier namun perubahan adalah suatu kepastian sejurus dengan pemuthahiran pemikiran civitas akademika dan lingkungan masyarakatnya. Universitas Jerman adalah mungkin universitas modern yang kian sengsara. Meski penyumbang banyak peraih hadiah nobel dan pioner pengetahuan, misalnya saja Universitas Goettingen yang ‘baru’ berdiri 1737 sudah menghasilkan 43 Nobel prize winner, namun nyatanya outcome dan outputnya harus tertatih dalam komodifikasi pendidikan pada jaman modern ini. Globalisasi menyeret sistem pendidikan murah pada logika komersialisasi yang ditentang habis oleh kaum mudanya (bersambung).

 

 


Pertama Terbang ke Eropa

oleh Adhitya Wardhono
Sehabis mengurus tiket dan menyodorkan kertas ijin belajar dari Sekkab beserta paspor biru-ku, agar aku bebas membayar fiskal serta pajak di loket penerbangan internasional bandara Ngurah Rai Denpasar, aku tengok lagi orang-orang dekatku yang turut mengantar. Mereka masih berdiri dengan setia di depan pintu. Ku ayunkan lambaian tanganku yang terakhir kali. Mereka membalas mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lantas semua lenyap ditelan tembok-tembok tebal. Itu yang masih kuingat benar peristiwa dikisaran 6 tahun lalu diawal tahun 2000, tatkala pertama kali terbang dari tanah air ke Eropa.
Aku sendiri menuju Kualalumpur dari Denpasar siang itu. Ya, MAS, maskapai Malaysia yang aku pilih disamping ada ego serumpun Asia juga sedikit ada perasaan ‚save’ dari sisi makanan dan kebiasaan, meski aku tahu ada pelayan internasional yang standard terhadap konsumen penerbangan internasional. Kartu boarding aku tunjukkan pramugari manis itu. Dengan ramah encik pramugari itu menunjukkan tempat dudukku yang ternyata di dekat jendela. Duh, senyum manis encik manis pramugari diatas pesawat tidak dapat menghilangkan `stress’-ku, pikiranku goyang. Apa benar aku berangkat ke Eropa. Bagaimana dengan kelengkapan dokument-suratku. Tanpa sanak saudara dan nihil pengalaman. Bagaimana kalau aku sakit. Semua menghiasi isi kepalaku. Sambil sesekali kulonggok tas pinggang berisi dokument penting dan sedikit uang Deutsch Mark dan US Dollar. Meski pendingin ruangan cukup dingin namun perasaanku malah kepanasan-sumuk.

Dengan ramah pramugari menyuruh semua penumpang untuk menegakkan kursi dan memeriksa pengingat pinggang. Dan tak lama kemudian pesawat mulai bergerak mundur. Di susul deru mesin dan baling- balingnya berputar keras, memekakkan telinga. Kemudian maju berjalan kencang, akhirnya tegak berdiri meninggalkan bumi pertiwi. Sepintas kulihat keluar sangat mempesona liukan putih ombak menuju pantai Kuta. Memang indah sempurna negeriku ini. Sejurus kemudian mataku terus menatap layar televisi lebar di depan. Menyiarkan ketinggian, suhu udara, kecepatan serta tempat tujuan. Peta dunia warna kehijauan di tayangkan. Dilengkapi sebuah gambar pesawat kecil warna putih yang bergerak merayap.

 

Cukup melelahkan, hampir 13 jam melintas pulau-negara-dan benua akhirnya pesawat Boing 747 berkapasitas 400 orang itu terbang berputar-putar tak kunjung mendarat, meski sudah 30 menit persis ditengah kota Frankfurt. Rupanya cuaca kurang mendukung di pagi itu pukul 6 CET, begitu sekilas info dari kapten pilot. Hatiku mulai dag-dig-dug juga. Tanpa bekal bahasa Jerman sepotongpun kecuali –Ich liebe dich– yang tidak mungkin aku ucapkan untuk merespon orang, bisa-bisa kena gampar mukaku dan tanpa teman membuat aku lumayan gamang. Membayangkan gegar budaya, suatu tabrakan peradaban yang mengaduk-aduk suasana hatiku. Peradaban di Eropa dengan di Asia, bagaikan minyak dan air yang tak pernah bertemu, begitu banyak orang bilang.
Muncul kembali bayangan wajah orang-orang tercinta yang aku tinggalkan. Ayah-bundaku, eyang putri, kakak adikku, pacarku dan sobat-sobatku Membayangkan ketika doa bersama, sungkeman sebelum berangkat, prosesi langkahan yang dilakukan eyang putri dan dan ayah- bundaku. Maklum, meski sebagai orang modern aku tetap ‚nguri-nguri’ budaya lokal Jawa. Tentu sikap easy going tidak muncul begitu saja. Tautan lain membayangkan bagaimana harus ke toilet yang tak tersedia air, melainkan hanya ada kertas gulung toilet saja, itu salah satu cerita kolegaku yang alumnus Jerman. Padahal kertas itu dibuat mengelap mulut di warung-warung Bakso, disana untuk mengelap pantat”, tegas rekanku lagi sambil terkekeh. Belum lagi bayangan ‚kekakuan’ orang Jerman, membayangkan gedung tua kotak- kotak kaku bisu, pisau baja tebal kuat tajam dari Soligen – Rurh Gebiet, membayangkan patung Beruang Berlin, membayangkan orang-orang botak yang tidak ramah dengan auslander.
“Suhu udara plus tiga derajat”, kata pramugari di mikrophone, membuyarkan lamunanku. Meski katanya musim winter telah berlalu rupanya cuaca masih dingin juga diluar. Akhirnya aku menapakkan kaki juga di Eropa. Ich bin in Deutschland! Saya di Jerman! Sambil aku cubit sendiri tanganku, pertanda aku tidak dalam mimpi. Setelah ambil kopor, antri lapor aku keluar dari terminal 2 menuju terminal 1 bandara yang harus naik skyline di Frankfurt Flughaven (bandara Frankfurt). Aku mencoba melakukan scan ruangan luas itu mencari rekanku yang katanya akan menjemputku. Ternyata nihil. 10 menitpun berlalu. Usahaku mencari teman yang menjemput tak kunjung tiba. Stress mulai menghinggapi kepalaku. Dengan bersikap tenang aku menuju Deutsch Bank untuk mengambil uang. 200 DM waktu itu untuk alokasi uang pertama, untuk hospitality awal.

Marburg an der Lahn (Marburg yang dilalui sungai Lahn). Kota itu yang akan aku tuju. Sambil membayangkan kenapa Jember tidak tertulis Jember dilalui Bedadung (Jember dl Bedadung). Sebagai suatu kebanggaan kecil atas citra diri kota. Entahlah aku tidak mau berpusing-pusing dengan itu. Marburg an Lahn, kota itu yang rencananya akan aku singgahi kurang lebih 3 tahun untuk studi bahasa plus S2 di Philipp Uni-Marburg. Kota kecil ini 1 jam dari Frankfurt am Main arah atas-arah utara. Aku menuju informasi untuk menanyakan kemungkinan ke Marburg. Disuruhnya aku ke stasiun di lantai bawah. Bandara Frankfrut yang luas itu memang 5 tingkat. Karena Marburg kota kecil maka tidak dilewati oleh ICE (Inter City Express) kereta cepat eksekutif yang letak stasiunnya di lantai atas di Long Distance Station. Aku harus naik kereta antar kota aja, RE (Regional Express) atau RB (Regional Banh). Akupun memandangi lama karcis kereta plus selembar informasi keberangkatan kereta itu, selepas dari loket karcis. Beda banget dengan di Indonesia. Jelas ada waktunya, ada jenis keretanya, kapan harus transit dan pindah ke gleis (jalur) berapa. Detail sekali orang Jerman ini, itu kesan yang aku tangkap. Akupun turun ke gleis. Sejurus kemudian kebinggungan, kok sepi banget mana orang-orang yang akan berangkat. Akupun tanya ke petugas kebersihan. Kelihatannya bukan orang Jerman tapi wajah mirip orang Turki. Komunikasi mulai tidak berjalan karena dia tidak bisa bahasa Inggris. Keringat mulai mengucur. Aku coba cari muka-muka asia yang terlihat disitu. Rupanya ada wanita 40 tahunan. Bisa berbahasa Inggris lancar, rupanya dia sedang studi doktor di Jerman sini. Aku agak lega. Kereta meluncur dari Frankfurt Flughaven (bandara Frankfurt) menuju Frankfurt (M) Hbf (Stasiu Utama KA Fankfurt). Rupanya kereta berhenti di stasiun bawah tanah. Dalam hitungan 3 menit aku harus menuju gleis 14 dimana kereta RE yang akan membawaku ke Marburg. Dengan bantuan ibu tersebut akupun akhir naik kereta itu dalam hitungan last minute. Gerbong yang aku naiki rupanya kelas 1 padahal karcisku kelas 2. Tapi rupanya kondekturnya mempersilahkan aku disitu, dengan sedikit greeting dalam bahasa Inggris dia maklum ini adalah kali pertama aku ke Jerman.

Kereta menderu berjalan. Satu jam kemudian tibalah aku di Marburg dengan selamat dan tertatih- tatih. Pengalaman pertama yang melelahkan dan berkesan – menyenangkan. Jauh memang dari kesan berlibur ke rumah nenek waktu kecil dulu, indah manis layaknya gula-gula. Sepenggal episode hidupku di medio awal tahun 2000. Adukan antara cita dan asa. Hanya satu logika yang harus aku pegang erat ‘pantang pulang tanpa gelar’. Sebuah obsesi sungguh tidak mudah diawalnya.  (sepenggal kenangan hidup tak terlupakan-bersambung…).

 


Catatan Akhir Tahun:

.: Selamat Tahun Baru 2006 :.

 

2005 akan berlalu. Bagi bangsa Indonesia, tepat kiranya kalau kita sebut sebagai ‘Jahr der Katastrophen’. Bencana silih berganti singgah di singgasana Indonesia. Mulai dari Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh dan Nias dengan 8,9 skala Ricthernya pun diikuti dengan gelombang raksasa memulai awal nestapanya bangsa Indonesia. Flu burung telah menjadi ketakutan nasional, 11 nyawapun melayang karenanya. Fenomena berdiasporanya kemiskinan di dalam spektrum yang luas dan lebih jelas makin terlihat. Yang sungguh memilukan kemiskinan purba masih saja terjadi di Indonesia, kelaparan berujung kematian di belahan bumi nan indah di Papua sangat patut kita sayangkan. Juga tunas bangsa yang terpaksa hidup menderita kerena kurang gizi, busung lapar dan penyakit endemik lainnya.

 

2005, regim pemerintah yang mendapat legitimasi rakyatpun belum mampu membawa amanat rakyat secara sempurna, belum hadap masalah. Kebijakan demi kebijakan belum terasa benar manfaatnya. Terlebih memilukan adalah wakil rakyatpun seakan-akan melupakan konstituennya. Kebijakan pencabutan subsidi BBM menjadi titik balik kepercayaan rakyat kepada tuannya. Walhasil kemiskinanpun bertambah seiring dengan merosotnya daya beli rakyat. Kebijakan yang patut kita telaah ulang ke depan, karena terlihat eksplanasi argumentatif pemerintah masih saja bercelah. Meski demikian berharap ’rumah reformasi’ kita tidak roboh oleh tikus-tikus yang mengkorupsi bangunan rumah kita. Berharap banyak pemerintah mampu memperbaiki dan merenovasi sebagai sikap yang lebih tepat dari pada merobohkan, sebelum tergerus oleh wabah ’korupsi’ yang sudah menuju daerah fondasi ’rumah reformasi’ kita.

 

2005 bencanapun masih belum berakhir. Trust, saling percaya diantara elemen bangsapun sebagai modal sosial untuk bangkit dari keterpuruakn ekonomi rupanya juga meluncur pada titik terendah. Cermati tragedi bom Tentena, penembakan misterius di Palu, tragedi kelompok Mahdi dan jemaah Ahmadiyah, kelompok Lia Eden. Masih juga ditambah dengan aksi teroris Bom Bali 2005 dimana nyasar ke sejumlah kafe-yakni Cafe Nyoman, Cafe Menega itu. Berharap banyak dengan kematian biang terorist Dr Azahari semangat memperbaiki modal sosial yang terberai- terlantakkan dapat kembali disusun rapi.

 

2005, proyek Indonesia Bangkit ternyata tidak bisa jadi pengungkit yang kuat. Olahragawan kita ikut-ikutan tidak berkutik laksana orang yang berpenyakit, terkapar di peringkat lima perolehan medali pada SEA Games XXIII Manila, November-Desember lalu.

 

Kiranya benar kalau Indonesia 2005 adalah laksana acara TV di premium time, semua orang ingin melihat, semua orang ingin menonton, dan semua orang berharap atas akhir cerita. Meski ternyata jalannya cerita jauh meleset dari ‘resensi cerita yang dibuat’. Cermati APBN yang harus direvisi. Bak film Ghost cinta itu tercerai. Bulan madupun berlalu. Bulan madu antara pemerintah dan rakyatnya. Akankah bulan madu kedua terencanakan?

2005, bagi kita di Jerman adalah masa ‘perjuangan’, masa bertapa, masa sengsara, masa meniti kedewasaan. Meski bagi orang Jerman  mungkin adalah tahun ‘Vom Kanzler zur Kanzlerin’ yang ditunggu dengan segala kejutan-kejutan di era kepemimpinan baru ini. Meski masa yang pendek, semoga kita mampu belajar banyak dari negeri dimana sekarang kita tinggal. ‘Memilih dan Memilah’ adalah laku kita yang bijak, dengan membuang yang kita pandang tidak baik, tidak cocok bagi nilai-nilai kepatutan kita dan mengadopsi nilai-nilai yang baik, positif, modern sebagai penyelaras dalam bergaulan berbangsa dan bernegara juga dalam pergaulan global. Semoga kita mampu menjadi insan akademia yang asketis yang militan dibidangnya dan melek realitas.

 

Beberapa saat lagi kita menyambut datangnya sinar mentari baru – Matahari 2006. Happy New Year! Frohes neues Jahr! Selamat Tahun Baru 2006, Semoga rejeki, kesehatan dan keberhasilan selalu menyertai kita semua. Berpanjat syukur kepadaNya lebih khusuk, bergandeng tangan mesra menjalin silaturahmi lebih tulus, berempati lebih ikhlas, berpikir positif nan konkrit mungkin yang harus kita usahakan untuk menuju asa kita semua. Indonesia menjovial, Indonesia mondial, Indonesia yang bangkit tak pelak adalah tugas yang menjadi beban kita kedepan.

 

Insyaallah kita akan bertemu di tahun yang baru dengan spirit dan nuansa yang lebih ceria. Semoga! Goettingen, 31 Desember 2005

 

 


 

Mudik dan Ketupat:

secuil pernik lebaran

 

 

Ekspresi kegirangan atas lelaku puasa sebulan penuh di bulan Ramadan biasanya diakhiri dengan melantukankan Takbir di malam akhir Ramadan. Gema Takbir membahana menyebut asma Allah tiada henti membelah pergantian waktu. Takbiran yang mengumandangkan kalimat takbir, tahmid dan tahlil, dihayati atau tidak setidaknya ketiga kalimat tersebut bermakna dalam yaitu peluruhan terhadap pengakuan kecilnya manusia dihadapan Allah. Ketiga kalimat thayibah tersebut memancarkan  penghayatan sejati atas kebesaran dan juga pancaran kasih-Nya yang tiada terhenti.

 

Berbarengan dengan takbiran itupula, ratusan moda tranportasi berbagai jenis mengangkut kaum pemudik menuju tujuan masing-masing, biasanya adalah dari kota ke desa, dari urban ke rural. Fenomena mudik yang unik.  Juga malam hari akan masih terlihat kegiatan persiapan lebaran di dapur-dapur  rumah. Ibu-ibu mempersiapkan lebaran dengan jajanan dan masakan khas lebaran Idul Fitri. Biasanya yang tidak terlupa adalah ketupat yang merupakan simbolisasi wong Jawa ‘ngaku lepat’ (red: mengaku salah).

 

 

Mudik

Kegembiraan dan suka cita menyambut lebaran adalah manakala dapat berkumpul dengan keluarga, dengan handai taulan, dengan kawan dan karib yang lama tidak bersua. Intinya adalah bersilaturahmi.  Dalam ajaran Islam ditandaskan bahwa manfaat silaturahmi di antaranya dapat memanjangkan umur dan menambah rejeki. Maka tak  khayal mengusahakan untuk mudik adalah satu-satunya cara untuk mewujudkan amalan hablum minannas. Fenomena yang  tidak dapat dihindarkan tiap tahunnya. Inilah ritual lebaran yang selalu terjadi. Paling tidak menjadi konsumsi besar media massa akan hinggar bingarnya mudik. Lebih jauh kondisi ini disokong oleh kuatnya penghayatan bahwa silaturahmi tidak membedakan derajat, pangkat, semat, yang  diyakini dari sinilah kebersamaan dan kerukunan tetap langgeng abadi. Aja lali marang asal-usule ‘jangan lupa terhadap asal kita’ begitulah sering kali kita dengar ujar-ujar dalam bahasa Jawa dari orang tua kita. Nilai-nilai inilah yang nampaknya menjadi magnet yang begitu dahsyat bersemayam kuat di lubuk  hati umat Islam untuk mudik.  Bahkan nilai-nilai mudik telah berkombinasi dengan tradisi dan budaya setempat, baik dari sudut pandang religi maupun kebersamaan sosial sebagai manifestasi hasrat manusiawi dari fitrah manusia sebagai mahluk sosial.

 

Dalam wacana kekinian mudik adalah fenomena unik dan klasik. Mudik tak hanya untuk bermaaf-maafan, tapi lebih dalam adalah suatu reunifikasi dengan keluarga, kawan sepermainan dengan berurai pernik-pernik didalamnya.  Mudik adalah kearifan lokal yang membawa nilai-nilai nurani hasil olah budi pekerti yang sesaat mampu menenggelamkan ambisi duniawi semata dan meredupnya pancaran hedonis sesaat. Bisa jadi hal ini adalah  hasil ‚perjuangan’ sebulan penuh merenung arti hidup di Ramadan suci yang mampu melupakan sesaat budaya urban yang ‚pragmatis’. Mudik membawa ritual untuk saling berempati, untuk saling bertemu dan menyapa secara langsung melepas rindu, untuk berbagi cerita dan pengalaman hidup.

 

Pun tak kalah menariknya adalah dengan mudik semua menjadi instropeksi. Ikuti saja bagaimana semua sistem berjalan disaat waktu-waktu mudik. Biasanya H-7 hingga H+7. Satuhal yang gampang diingat adalah sistem lalu lintas dan transportasi. Disini  akan terkoreksi dengan fenomena mudik ini. Masih lemahnya sistem lalu lintas kita terkontrol dan terlaporkan penuh melalui selayang pandang media massa. Begitu juga dengan lemahnya disiplin manusia akan terdengar miris dengan banyaknya kecelakaan dan warna-warni ketidakpatuhan terhadap aturan yang ada. Fenomana mudik seharunya menjadikan fenomena aktual tahunan untuk mengkoreksi dan berbenah atas lemahnya sistem yang ada.  Ikutan negatif dari mudik sering kali juga menjadi ‘keluhan’ masyarakat dan pemerintah.  Fenomena urbanisasi masih saja terjadi menjadi daya tarik tersendiri dari ‘pamer sesaat’ pemudik atas ‘terbawanya barang-barang pemikat’ dari kota ke desa.

 

 

Ketupat

Menjelang hari lebaran biasanya ibu-ibu mempersiapkan lebaran dengan jajanan dan masakan khas lebaran Idul Fitri. Biasanya yang tidak terlupa adalah ketupat, tanpa kupat terasa lebaran kurang nikmat. Membuat ketupat adalah ketrampilan tersendiri, tidak semua orang bisa dan tidak jamak diajarkan di sekolah. Bagi yang belum bisa membuat sendiri, biasanya dihari-hari menjelang lebaran pasar akan dipenuhi penjual ketupat baik sudah jadi maupun  yang masih bungkus kulitnya saja (kupat luar).  Ketupat merupakan simbolisasi wong Jawa yaitu ‘ngaku lepat’ (red: mengaku salah). Berketupat adalah berlebaran (riyayan). Ketupat tidak dapat dilepaskan dari peringatan riyayan begitu pula sebaliknya. Hal inilah menjadikan kelangengan ketrampilan ketupat membuat tidak terelakan, ketupat adalah tradisi turun temurun. Riyayan yang khusus diperingati biasanya adalah hari raya Idul Fitri. Dalam perspektif budaya Jawa, ketupat menyimbolkan banyak  banyak nilai-nilai religi. Kupat sendiri adalah adalah sejenis lontong, nasi yang dipadatkan yang terbungkus kupat luar yang berbentuk jajaran genjang yang dibuat dari daun kelapa yang masih muda berwarna kuning emas (janur),  sebagai pengambaran akan simbolisasi kemenangan atau sifat agung. Kata janur berasal dari kata ja datang lahir dan nur cahaya. Kupat dibuat dari dua janur, sebagai lambang dua cahaya, yaitu nur cahaya Allah Swt dan cahaya Rasul (nur Muhammad). Jamaknya tradisi kupatan sendiri pelaksanaannya dapat berbeda-beda tiap daerah. Ada kupatan yang dilakukan sesaat sesudah sholat Ied, atau kupatan dilakukan pula pada  7 hari sesudah salat Ied.

 

Simbolisasi ketupat oleh orang Jawa terasa tidak mengada-ngada. Ketupat sering diartikan ketelu papat, ketiga empat. Hal ini merujuk pada konsepsi rukun Islam bahwa  selama beribadah di  bulan ramadan konsentrasi pengamalan nyata pada rukun Islam ketiga dan keempat, yaitu puasa dan zakat (fitrah). Dimana pada kedua rukun Islam menyiratkan proses pembersihan kesalahan (dosa) batin. Biasanya akan dilanjutkan dengan halal bil halal antarsesama sebagai pembersihan kesalahan (dosa) lahir, mengingat dosa manusia ada dua, yakni dosa lahir dan batin. Maka jamaklah permohonanan maaf tidak saja lahir tapi juga batin  (mohon maaf lahir batin).  Tata cara makan ketupatpun menjadi unik dicermati, jikalau seseorang hendak makan ketupat sebisanya jangan sampai janurnya dilepasi, namun dibelah dengan pisau menjadi empat. Maksudnya (1) kita telah lebaran selesai dalam melawan hawa nafsu, insyaallah berhasil mengendalikan dan membakar 4 nafsu yang berada dalam diri sendiri (amarah, luamah, sufiah, mutmainah).  (2) Dosa-dosa kita telah terampuni dan dimaafkan, baik dosa kepada Allah Swt maupun sesama (hablum minallah dan hablum minannas). (3) Hati kita menjadi suci kembali, kembali ke fitrah, dan semoga tersedia jaminan masuk janah. (4) Hidup dan sikap kita harus semakin luwih (lebih), semakin baik dalam berbagai hal (la’alakum tattaqun), sehingga ibadah kita semakin meningkat. Mengingat setelah bulan Puasa/Ramadan adalah bulan Syawal, yang artinya bulan peningkatan ( lihat Imam Sutardjo, 2005).

 

Dua kearifan lokal yaitu mudik dan ketupat tersebut adalah suatu tradisi yang menyokong proses pemantapan keimanan, untuk bersungguh-sungguh pulang kembali kepada fitrah kita sebagai umat Islam. Oleh karenanya sepatutnyalah menjadi perenungan batin kita lebih mendalam. Mudik adalah memperlihatkan kepada kita semangat hidup manusia yang selalu mendedikasikan hidupnya untuk keluarga dan kerabat dengan penuh cinta. Ketupat mengambarkan kita semangat untuk saling memaafkan dan berlapang dada memberi maaf senyampang masih diberi umur panjang sebelum sekarat (dari berbagai sumber).

 

Semoga lebaran kali ini tak kalah ‘unik’ mesti tanpa mudik dan  terasa ‘nikmat’ meski tanpa ketupat. Akhirnya ‘kupat duduhe santen, kawula lepat nyuwun ngapunten’ — Kupat kuahnya santan, saya punya kesalahan mohon dimaafkan.

 

 Goettingen , 1 Syawal 1426 H/3 November 2005  (02:06 CET)

 

 

 


Memandang Beda Pandangan

 

Meskipun kita setuju bahwa perbedaan cara pandang tidak saja antar individu, namun lebih besar dapat dalam bentuk kelompok ataupun bangsa dalam memaknai sesuatu. Ini laksana sebuah  dinamika kebudayaan tidak pernah berjalan linier. Setiap perkembangan kebudayaan memiliki varian-varian yang kaya dan bernuansa. Karena itu, kebudayaan dalam bentuk dan isi bagaimanapun, telah dipahami sebagai “jaringan-jaringan makna” hidup yang dikembangkan dan mengisi batin kehidupan sosial umat manusia. Maka tak dapat dipungkiri perbedaan cara pandang atas suatu masalah dunia ataupun agama sekalipun tidak lepas dari budaya seseorang atau bangsa yang melatarbelakanginya. Meski mungkin tidak dalam esensinya tapi paling tidak muncul dalam penafsirannya.

 

Berangkat dari cara pandang ataupun cara menafsirkan inilah terkadang menyeruak pertikaian beda opini dalam komunitas Islam. Jika kita maknai lebih dalam maka sesungguhnya ialah lebih pada perbedaan dalam masalah interpretasi. Adalah bentuk pencarian dalam bingkai kontruksi proses yang mendekati bentuk pengamalan agama dengan kontek budaya dan sosial setempat adalah yang paling sering kita konsumsi dalam hidangan kehidupan sosial manusia. Contoh jamak adalah penilaian terhadap problem relasi politik dan agama yang dicantolkan dalam pergantian kepemimpinan, adalah persoalan keseharian manusia. Ia lebih bermakna sebagai proses interpretasi masalah dengan menggunakan agama dan simbol-simbolnya untuk kepentingan kehidupan manusia. Disini paling tidak kita bisa melihat peran dan makna agama akan beragam sesuai dengan keragaman masalah sosialnya. Posisi manusianyalah yang sangat penting disini. Dan manusia Islam sangat potensial sebagai kadar penentu suatu arah budaya.

 

Dalam pandangan Islam, manusia menempati posisi sentral yang juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusianya. Berbagai persoalan kehidupan yang dilakoni manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. Pergulatan hidup seseorang pada intinya adalah pergulatan keagamaannya. Berangkat dari itu kearifan akan hadir tatkala memandang kehidupan yang teratur tidak dalam hal fisik semata, ia lebih pada penghormatan terhadap perbedaaan sebagai hal yang luar biasa. Amuk massa yang sering terjadi di bumi pertiwi lebih dikarenakan tidak mampu untuk memahami betapa nikmatnya perbedaan itu. Singkatnya perbedaan mempunyai satu unsur yaitu keteraturan. Pandanglah perbedaan itu sebagai suatu kekayaan yang alami dalam kehidupan ini. Apabila perbedaan ini dapat dimanfaatkan dengan baik, maka kemajuanlah yang akan dicapai dalam kehidupan ini. Ibarat sebuah lukisan yang sedap dipandang mata karena sangat menawan, sebenarnya  merupakan kumpulan dari warna-warna yang berbeda dan membentuk suatu perpaduan dan kesatuan. Akhirnya  muncullah keharmonisan dalam sebuah lukisan. Seperti halnya kehidupan kita, perbedaan yang kita punyai merupakan kekuatan yang saling melengkapi, dan kekuatan inilah yang mendorong kita untuk bisa hidup saling mencintai, saling menghargai dan menghormati, saling tolong menolong,  menjaga kerukunan membentuk kehidupan yang harmonis. Terlebih ditengah, masalah yang sedang menimpa kita semua adalah bagian dari karunia Allah SWT. Dan sepanjang kita sikapi dengan cara yang benar– dapat membuat kita menjadi semakin maju, beradab, dan semakin kuat dalam menghadapi masa yang akan datang ditengah perbedaan yang tidak dapat kita elakkan. Terakhir semoga kita mampu memaknai lebih dalam sebagaimana  sabda Rasulullah saw.,”…Perbedaan merupakan sebuah rahmat.”     /Goettingen-April 2005/

 


 

Singapura dan Malaysia, dimana bedanya?

Sebuah catatan singkat

 

Semangat “ganyang Malaysia” kini sedang menggema kembali, sebagai cermin nasionalisme kebangsaan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa jujur saja ingatan akan seruan Sukarno puluhan tahun lalu relevan dengan kasus ‘penyrobotan’ Ambalat oleh Malaysia kali ini. Ingat pula Ligitan dan Simpadan. Muka kita sempat merah padam dibuatnya dan hasilnya langsung lesu karena kalah telak di meja diplomasi. Kasus Ambalat ini, sepertinya benar-benar menjadi puncak naiknya darah ke otak yang mengerakkan secara reflek syaraf-syaraf motorik kita. Terlebih sebelumnya telah digebukinya TKI kita disana yang dilansir media cetak dan elektronik. Inilah kasus kita dengan Malaysia. Bukan pertama kali, dan mungkin akan terulang kembali.

 

Namun, bagaimana dengan kasus dengan Singapura? Kembali kebelakang ingatlah kasus reklamasi pantai Singapure yang membawa ber-ton-ton pasir dari kepulauan Indonesia. Kasusnya lumayan ramai waktu itu, tapi selayang pandang  sayup-sayup hilang dari peredaran. Entah tidur nyenyak diranjang yang mana.

 

Jelas sepintas terlihat bahwa sikap lebih lunak terhadap Singapura dibanding Malaysia didalam kasus ‘pencurian’ kedaulautan negara ini. Yang jelas keduanya ada muatan ‘nilai harga diri’ yang kental dikandunganya. Paling tidak tatapan kita mengarah pada apa yang terjadi kini. Semua mengarah pada ‘nilai-nilai ekonomi’ yang ada. Konon trilyunan rupiah ada di Ambalat dari SDA minyak dan gas bumi yang tertanam jauh entah di dasar laut atau diam manis di bumi Ambalat. Nilai-nilai ekonomi inilah yang membawa kapal-kapal perang kita berlayar hingga kesana dan hilir mudik pesawat pengintai menembus angkasa lautan Sulawesi. Sangat  hiruk pikuk jika kita bandingkan urusan menyisir letak koruptor di rambut Singapura. Ataupun bergesernya daratan Singapura menantang pingiran batas Indonesia. Tak apalah dak ada harganya?…….Hitungan dagang memang akan mengarah pada pemikiran bahwa untuk apa mati-matian membela barang tak bernilai (ekonomi). Seperti mengurus reklamasi pantainya Singapura. Kalaupun ada ngak banyak kita kecurian. Malah habisin uang banyak, belum tentu menang di sidang Mahkamah Internasional. Toh ada banyak pejabat Indonesia yang malah makin ‘senang’ dibuatnya.  Dalam dunia dimana intensif ekonomi telah menjadi raja, maka hukum ekonomilah yang berlaku. Jelas tak apalah kita membawa puluhan armada perang ke sana. Persoalan insentif ekonomi  ini sedikit banyak mewarnai konflik-konflik batas kelautan di wilayah Asia Tenggara, seperti konflik di Laut China Selatan, termasuk Ambalat.

 

Minyak bumi…minyak bumi..itu adalah jawaban dari ketersinggungan harga diri kita. Dengan keterpurukan ekonomi yang tak kunjung berakhir, mengharap komoditas masa depan ini akan menjadi obat mujarab menyembuhkan kemiskinan, meski kita belum dapat mengolahnya sendiri. Masih minta bantuan dan ngak bisa menghargai barang kita sendiri. Semua harus ikut aturan internasional katanya.

 

Meski sebenarnya kalau kita pikir lebih jernih, Singapura tidak lebih arogan dibanding Malaysia. lihat saja bagaimana mereka  merusak kedaulatan dan kehormatan Indonesia melalui kasus Indosat, kasus pasir laut, illegal logging, persembunyian koruptor, tidak mau ekstradisi, judi gelap hingga beromzet milyaran…..dan entah apalagi. Ngak ada data akurat untuk urusan ini.

 

Nah, masih perlukah sikap elegan dan bermartabat menghadapi ini semua? Diplomasi atau perang. Perang atau diplomasi. dengan mengusung tinggi-tinggi slogan Ganyang Malaysia sebagai bentuk ketersinggungan harga diri bangsa? Silahkan kembali ke hati nurani masing-masing. Yang jelas Malaysia lebih rapi dan forward looking mengkoridori cita-cita rakyatnya. Indonesia, entah pusing aku mengagas ini!???

 

 

 


40th FEUniversitas Jember

Sebuah rekaman kegalauan
Tak terasa November ini (2004) fakultas kita menginjak usia ke 40 tahun. Usia yang harusnya dipenuhi dengan semarak kegirangan dan juga
mawas diri.

 

40 tahun sudah, beribu-ribu lembar kertas tertoreh tinta mesin tik, tinta printer bertulis segudang ide keilmuan yang tertulis manis kata
skripsi, pun tidak lupa tertulis lembar persembahan: ‘kupersembahkan untuk ayah-ibu atau my love’, juga dokumen tertulis nama-nama alumni tertulis kata penuh bangga ‘Ijasah’ dengan gelar keren drs/SE yang tidak mudah meraihnya.(?).

40 tahun sudah, tangis dan tawa beraduk di luar ruangan ujian. disertai maki-maki ketidakpuasan atas hasil yang dicapai, pun juga senyum puas atas prestasi teraih. Kering sudah keringat bercampur demam puluhan menit yang lalu.

 

40 tahun sudah, beribu-ribu remaja yang baru menanggalkan seragam sekolah menengahnya merasakan indahnya kampus penuh cita dan cinta
bak galih dan ratna, film roman remaja 80an. penuh warni gaun dan harus parfum.

 

40 tahun sudah, guru-guru kita yang mengantarkan menapaki cita itu telah usur, memutih rambutnya dan bahkan tertanam di tanah makam
tanpa ada kenangan yang berarti.

 

40 tahun sudah, staf fakultas yang pagi hari dengan setia mendahului membersihkan ruangan kuliah dan menyiapkan kapur, spidol atau OHP yang hingga kini tak kunjung jadi PNS golongan II atau I.

 

40 tahun sudah, Fakultas yang seharusnya marak dihiasi oleh pernik-pernik kegiatan mengolah rasa, emosi dan karya nyata pada level
lokal, nasional, regional dan internasional masih dipusingkan dengan ‘orientasi’ dapur rumah yang harus ngebul bagi civitas akademikanya.

40 tahun sudah, mahasiswa jengkel dengan kuliah yang sering ganti jadwal, pun dosen yang mengumpat atas coretan tanpa arti di lembar
jawaban ujian.

 

40 tahun sudah, cantiknya ruangan kuliah semakin terasa. kursi baru, lantai keramik, dan semakin lega dengan volume ruagan yang semakin
luas.
40 tahun sudah…suka itu beraduk dengan duka..antara tangis dan tawa dan antara masa lalu, kini dan masa depan yang tidak harus kita
lupakan begitu saja….

 

masihkah ada yang penuh Cinta dan Cita melihat ‘pasang surutnya’ fakultas kita? entahlah…dunia toh terus berputar..yang pusing silahkan cari obat sendiri, yang suka ngak usah ingat yang duka, yang
menangis silahkan menangis dengan keras…toh sekarang dunia sudah
berubah…yang berpesta puaskanlah sampai pagi hari…..bukan begitu?

Adhitya/FE-IESP 90-alumni 94

Goettingen, November 2004
Ibu

Tiap kali aku kayuhkan sepedaku untuk berangkat ‘kerja’ ke Institut pagi-pagi pasti melewati Kindergarten (taman kanak-kanak) yang terletak bersebelahan dengan taman dan sekalian kuburan kono, karena itu jarak terpendek untuk menuju ke Institut, dari pada memutar melewati Innenstad Goettingen (tengah kota). Kuburan plus taman itu namanya Albanifriedhof. Memang tampak bukan seperti kuburan di Indonesia layaknya. Entah dulu mana antara kuburan kuno dan taman itu. Tapi jelasnya taman kota dan kuburan menyatu. Berdampingan pula dengan taman mungil untuk anak-anak. Tidak ada rasa takut atau angker. Meski nisan besar itu mensyaratkan pesan bahwa suatu saat kita pasti kembali. Sekarang disebelahku sedang tumbuh berkembangnya kehidupan, namun jelas nan pasti terkubur suatu saat nanti. Begitu kira-kira isyarat nisan itu berdialog dengan celoteh anak balita bermain ayunan. Itulah rahasia Tuhan: lahir, tumbuh dan mati.

 

Dulu sulit aku bisa menerima ajaran surga ada ditapak kaki ibu. Pernah bahkan suatu hari aku angkat kaki ibuku untuk aku amati telapak kakinya. Kiasan itu sulit aku pahami waktu kecil dulu. Tumbuh dewasapun kadang masih sulit untuk bisa menerima kiasan itu. Di media massa aku baca seorang ibu yang mantan Ibu Negera seperti Imelda Marcos suka membalut telapak kakinya dengan fancy shoes yang jumlahnya konon ribuan pasang itu sementara diluar istananya banyak rakyat Filipina yang sulit makan. Mana mungkin surga ada ditelapak kakinya, apa tidak mungkin malah neraka yang diciptakannya. Aku coba kritisi kiasan itu lagi.

 

Lanjut pikir yang dimaksud surga adalah bukan ibu sebagai jabatan melainkan ibu sebagai peran, yaitu totalitas seorang wanita yang  tulus ikhlas dan welas asih mengayomi kehidupan sesama manusia dari mungil dan tak berdaya hingga dewasa. Sepertinya baru jelas makna kiasan itu. Memang surga menampakkan bentuknya. Minimal mudah teraba dan terlihat perbuatan-perbuatan surgawi, yakni suatu tindakan total unselfishness, senantiasa memberi tanpa mengharap kembali. Seringkali pula aku lihat ibu-ibu muda mendorong Kinderwagen (gerobak bayi) dengan tas dipunggung penuh belanjaan menuju Haltestelle menunggu Bus Kota. Dengan keikhlasan menerima ‘rewelan’ balitanya yang tidak puas dengan es creamnya. Melihat adegan itu, teringat betapa  kekagumanku pada ibuku, meski capai dengan segala rutinitas seharian baik di kantor dan di rumah, masih bersedia mengurai cerita dan diimbuhi dendang segala untuk mengantarkan tidurku, kenangku waktu kecil dulu.

 

Apa yang dicari oleh ibu yang susah payah berdendang kepada seorang balita yang papa dan tidak bisa apa-apa. Ibu juga senantiasa hanya menjadi keranjang sampah. Tapi ibu sejati tidak pernah mengeluh. Karena dia tidak dalam kapasitas ibu pejabat. Tapi ‘peran’ ibu sangat penuh makna, cinta dan cita. Bak sinetron tidak saja sebagai pemain bahkan sekaligus merangkap sebagai sutradara dan kameramen. Yang meneropong adegan panjang buah hatinya dari yang papa hingga mungkin telah dijuluki ‘Papa’.

 

Pamrih apa yang ibunda inginkan? Sudut pandang kaum sinis pasti akan menjawab, itu kan sudah biasa, lumrah. Mereka kan hanya berinvestasi. Ingin ‘asuransi’ dihari tua. Ingin memutar waktu, bahwa balitanya kelak yang akan melindunginya. Ini tidak benar. Das ist total falsch. Ingatku, mesti aku sudah sudah bekerja, melanglang ke negeri orang dan punya duit. Ibuku selalu bertanya, apakah kamu perlu uang, nak? Jelas aku malu. Tapi itulah ibu. Penampakan jelas ciri ibu adalah senantiasa ingin memberi tanpa mengharap kembali, tak perduli seberapapun yang beliau punya.

 

Misteri terdalam kehidupan paling tidak tercitrakan dari peran seorang ibu yang didalam setiap gerak dan langkahnya teraba dan tercium aspek-aspek surgawi yang sulit dikalkulasi dengan metodologi empiris duniawi. Bisa jadi para ibu adalah representasi dari malaikat yang diturunkan ke bumi hanya untuk ‘mampir ngombe’ dan setelah perannya selesai bergegas terbang kembali ke sorga. Bahkan ucapan ibu adalah doa yang mustajabah. Sungguh tak terkira peran seorang ibu. Entah apapun julukannya, mama, umi, muti, ibu, bunda, embok. Ibu tetap tidak peduli dengan pro kontra  tentang stereotipe perempuan yang terus didengung-dengungkan dan dilanggengkan dengan perayaan Hari Ibu. Dia pasti berjalan dengan ‘perannya’ yang tulus.

…kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagaikan surya menyinari dunia….

Kagem ‘Ibuku’ yang untuk kali pertama dan selamanya pada lebaran 2003 ini aku tidak bisa sungkem dan menciummu, karena kau telah kembali ke sang Khalik. Semoga dikau tenang dengan-Nya, bunda..!

Adhitya, Goettingen Desember 2003

 


Agama: Pesan Illahiah untuk Manusia?

 

Fenomena kekerasan dan pelanggaran HAM telah menjadi konsumsi hidup manusia abad modern ini. Betapa tidak kondisi dunia telah dipenuhi oleh gejolak-gejolak hitam kelam hati manusia yang terungkap dalam bentuk teror, perang dan bentuk-bentuk adu jotos serta permusuhan. Problemnya menjadi sangat begitu pelik, justru karena semua kekerasan berlatar belakang agama. Agama yang seharusnya menjadi wahyu Illahiah, yang mendamaikan, menyejukkan menjadi suatu hal yang sangat anomalis. Agama menjadi begitu ajaran yang penuh kekeraran, pemaksaan dan tanpa toleran. Ektrimisme menjadi kata yang tepat untuk mengejawahtahkan bentuk-bentuk diatas. Tidak dapat dipungkiri bahwa benih-benih ekstremisme ada dalam semua agama. Doktrin metafora spasial yang beroposisi biner, seperti mukmin-kafir dalam Islam atau extra exclessia nulla salum dalam tradisi Kristiani, merupakan potensi munculnya gejala ekstremisme agama. “Tumbuh kembangnya benih ekstremisme agama tersebut biasanya bergantung pada konteks historis politik (Saiful Mujani, Jawa Pos 2001).

Dengan menyikapi kondisi manusia, dunia dan kemanusian dalam rentang hubungan manusia dengan sang Khalik yang demikian pesat dengan produk-produknya seperti tersebut diatas, maka sepertinya sangat mendesak untuk mengedepankan kembali diskursus makna agama bagi manusia. Benarkah agama itu untuk manusia?. Tulisan ini sekedar mengetegahkan pertanyaan-pertayann sederhana atas realitas kehidupan manusia kekinian. Tanpa berpretensi untuk mengubah pandangan, tetapi justru menanyakan sejauh mana proses berketuhanan kita masing-masing. Dan yang jelas adalah sebagai keprihatinan atas carut marutnya wajah Islam  di dunia modern yang menjunjung tinggi kemanusian.

 

Tafsir Agama dan Kecenderungan Manusia

Sebagai suatu ajaran Illahiah, agama (dalam kontek tulisan saya ini adalah agama Islam) tumbuh dengan pasang surutnya. Manusia punya hak untuk menginterpreasikan wahyu Illahiah tersebut. Meskipun terkadang sangat berlebihan dan tendensius. Mengutip pendapat Abdul Munir Mulkhan (2001) bahwa kadang-kadang memang di satu sisi kepercayaan kepada Tuhan itu membuat manusia menjadi bebas, menjadi kreatif. Tetapi di sisi lain, sangat mudah sekali Tuhan yang maha segala maha itu kemudian dijadikan manusia untuk merasa dirinya paling hebat. Lebih lanjut Mulkhan mennyatakan bahwa, bukan karena cinta Tuhan itu lebih kejam, tetapi konsep tentang Tuhan itu yang menjadikan manusia mudah berlindung untuk bertindak kejam, sadis, dan brutal. Untuk itu sekali lagi perlu kritik terhadap konsep-konsep ketuhanan klasik tersebut. (Abdul Munir Mulkhan,2001)

 

Islam Kekinian: Islam Inklusif, Islam Liberal dan Islam Modern

Tidak dapat dipungikiri peradaban Islam menyimpan sejuta mesteri, telah melahirkan banyak pemikir-pemikir Islam dari yang moderat, libaral, modern hingga fundamentalis.

Apa yang disebut Islam Inklusif adalah wacana tentang Islam yang terbuka dan menerima segala macam pemikiran serta keyakinan. Wacana ini bersifat lintas agama dan ideologi. Islam Liberal adalah wacana yang mengarah kepada kebebasan berfikir. Berfikir apa saja, dari sumber mana saja, dengan metode bagaimana saja, tanpa ada pembatasan-pembatasan nilai. Sementara Islam Modern mengacu kepada upaya memunculkan gagasan kemajuan yang berkiblat ke Barat.

Adalah pendapat ahli sufi Islam terkemuka, Jalaluddin Rumi  menyatakan bahwa “meskipun ada bermacam-macam agama, tujuannya adalah satu. Apakah Anda tidak tahu bahwa ada banyak jalan menuju ka’bah? Oleh karena itu apabila yang Anda pertimbangkan adalah jalannya, maka sangat beraneka ragam dan sangat tidak terbatas jumlahnya; tetapi apabila yang Anda pertimbangkan adalah tujuannya, maka semuanya terarah hanya pada satu tujuan.”  Terlebih pandangan pemikir Islam yang tersebar dari berbagai aliran dan mashab, adalah tidak bijak jika kita menghakimi dan mengklaim, bahwa pendapatamu salah, pendapatku benar, aliranmu salah dan aliranku benar. Sitesa seperti yang diungkapkan oleh Jalaludin Rumi diatas demikian urgent  untuk direnungkan kembali maknanya.

 

“The song not the singer”

Akhirnya kita harus mengembangkan  suatu wacana bahwa konsep berpikirlah  yang mesti ditimbang benar salahnya, bukan orangnya. “The song not the singer” yang merdu indah itu. Begitupun bukan karena ia/dia/beliau/kita/kamu dan aku  beragama sehingga lebih unggul, tetapi karena mutu keberagamaannya itu yang menentukan. Lebih jauh adalah mendesak untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Berdiskusi agama tidak harus monoton dan sempit. Tapi luas serta dinamis. Agama adalah perjalanan kebatinan hidup manusia yang tidak hanya punya perasaaan tapi juga punya nalar untuk bisa berkembang dan dikembangkan. Untuk itu memahami cara berfikir metodologis tidak saja perlu dan tidak perlu menjadi ketakutan untuk keluar dari akidah dan syariat.  Namun sekedar manjadi cara untuk proses pengembaraan pencarian jati diri keagamaan seseorang. Meskipun mungkin harus mengambil cara pikir filsafat Barat yang mengandalkan rasionalitas, analitis, dan dialektis. Yang ujung-ujungnya adalah  pembuatan definisi, distingsi, dan kategori-kategori yang tegas, sehingga ada pembedaan yang ketat antara sesuatu yang oleh agama dilarang atau dihalalkan, wajib atau sunnah tidak sebatas dogma mati tapi bisa jadi diangkat menjadi penalaran yang konseptual secara tegas dan jelas. Sehingga carut marut wajah Islam dari kesinisan berangsur berkurang, misalnya  dibedakan  secara tegas “tesis” dengan “antitesis.’

Namun demikian adalah sesuatu yang mustahil untuk kembali ke kejayaan Islam hakiki yang menjunjung tinggi kemanusian, jika tidak dimulai dari kita ‘pemeluk’ Islam yang tidak hanya ‘bangga’ dan merasa ahli waris surga dengan kitab yang terjaga keasliannya, tetapi sejatinya kurang memahami dinamika Islam yang dinamis dan elegan.

Perbedaan pendapat adalah sebuah rahmat dan bekerja sama adalah suatu anugrah. Untuk itu menyikapi banyaknya perbedaan aliran Islam dengan menganut berbagai mashab tidak harus di terjemahkan dalam ruang berkelahi dalam bingkai kekerasan atau melakukan perang dingin. Namun justru sebaliknya menjadi suatu perpaduan utuh yang bisa disatukan. Kematangan jiwa pribadi-pribadi jelas menjadi asumsi utama untuk mewujudkan itu perpaduan indah itu.  Apabila kita mencoba membuat daftar berbagai kelompok Islam, lalu kita catat persamaan dan perbedaan diantara mereka dalam berbagai dimensi, maka kita akan menemukan bahwa ruang kesamaan itu akan jauh lebih luas dibanding ruang perbedaan. Tapi kenapa kita selalu menjadi sumpek dengan perbedaan itu?  Kematangan akhlak seperti itu akan menghilangkan berbagai macam sifat negatif dalam diri kita seperti dendam, iri hati, angkuh, sifat temperamental, senang dipuji untuk hal-hal kecil yang dilakukannya, dan lainnya. Pada waktu yang sama kita menumbuhkan berbagai sifat positif dalam diri kita seperti mendahulukan kerja atas bicara, mengalah untuk hal-hal yang tidak prinsip, lebih banyak bekerja sama dari pada berdebat, menahan diri untuk tidak selalu memenangkan perdebatan, dan lainnya. “Ittiba’ Allah, Ittiba’ Nabi” (Ikuti Allah, Ikuti Nabi). Semoga.

 

Adhitya Wardhono

Marburg, den 3 Syawal 1422 H

 


Pemimpin

 

Menjadi pemimpin pasti menjadi idaman setiap orang. Bahkan memimpin doa atau mengali lubang kuburpun bisa menjadi kebanggaan orang. Lebih lebih menjadi gubernur atau presiden. Tetapi bukan berarti mudah dan gampang mewujudkannya. Terlebih di tengah dunia yang terbuka dan masyarakat semakin cerdas. Maka tuntutan untuk profesional dari seorang pemimpin pasti ada. Pemimpin dan profesional kadang masih mengalamai trade off. Jelas bahwa dalam terminologi profesionalisme terkandung elemen progesifitas, keadilan, kejujuran, kemajuan dari kerja demi sesama karena Allah dan harusnya menjadi keyakinan dalam diri setiap pemimpin itu sendiri. Muslim yang sadar sebenarnya sudah berikrar untuk profesional minimal melalui sholat lima waktu dengan doanya = “bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, bahkan hidup dan matiku hanya untuk Allah semata”. Dengan begitu jadilah pemimpin diri Anda sendiri dengan profesional sebelum memimpin orang lain. Pemimpin adalah tanggung jawab, pemimpin adalah amanah. Maka jika kita menjadi pemimpin haruslah menumbuhkan berbagai sifat positif dalam diri kita; seperti mendahulukan kerja atas bicara, mengalah untuk hal-hal yang tidak prinsip, lebih banyak bekerja sama dari pada berdebat, menahan diri untuk tidak selalu memenangkan perdebatan, dan lainnya. “Ittiba’ Allah, Ittiba’ Nabi” (Ikuti Allah, Ikuti Nabi). Semoga. (Adhitya, Marburg, 26.11.2001).


 

Muslim Kaffah

 

Stereotipe Muslim dalam peradaban modern masih selalu terpojok- termarjinalisasi dalam pergaulan internasional. Muslim selalu diidentikkan dengan orang keras, cinta terorisme, penggekang hak asasi manusia dsb. Tentu saja itu argumentasi yang tidak dapat begitu saja dibenarkan dan tidak begitu saja disalahkan. Suatu paradoksal bahwa manusia muslim Indonesia (katakanlah) yang masih homo religi masih saja terjebak perilaku yang jauh dari Islam. Perlombaan negara dengan praktek korupsi tertinggi hampir kita yang menang. Sungguh suatu ironi. Muslim kaffah – muslim sejati, total dan utuh pasti jauh dari itu. Seorang muslim kaffah, setidaknya mengedepankan tiga elemen dasar, yaitu pola batin, pola pikir, dan pola perilaku. Semoga kita (muslim Indonesia terutama) mampu untuk sebagai khalifah fil’ard menjadi sesuai dengan amanah yang diembannya….(ya Allah peliharalah pola tingkah kita didalam jalanMu)

(adhit: – di tengah cantiknya bulan suci Ramadhan. 25.11.2001)

 


 

Agama dan Kesejahteran
Fenomena kekerasan dan pelanggaran HAM telah menjadi konsumsi hidup manusia abad modern ini. Betapa tidak kondisi dunia telah dipenuhi oleh gejolak-gejolak hitam kelam hati manusia yang terungkap dalam bentuk teror, perang dan bentuk-bentuk adu jotos serta permusuhan. Problemnya menjadi sangat begitu pelik, justru karena salah satu alasan kekerasan berlatar belakang agama. Agama yang seharusnya menjadi wahyu Illahiah, yang mendamaikan, menyejukkan menjadi suatu hal yang sangat anomalis. Agama menjadi begitu ajaran yang penuh kekerasan, pemaksaan dan tanpa toleran. Ektrimisme menjadi kata yang tepat untuk mengejawahtahkan bentuk-bentuk diatas. Tidak dapat dipungkiri bahwa benih-benih ekstremisme ada dalam semua agama. Doktrin metafora spasial yang beroposisi biner, seperti mukmin-kafir dalam Islam atau extra exclessia nulla salum dalam tradisi Kristiani, merupakan potensi munculnya gejala ekstremisme agama. “Tumbuh kembangnya benih ekstremisme agama tersebut biasanya bergantung pada konteks historis politik (Saiful Mujani, Jawa Pos 2001). Sehingga menyeruak sejuta tanya, dimana agama menjadi dogma yang menyejukkan?; kapan agama menjadi determinan kesejahteraan?

 

Jika  dalam ilmu ekonomi sudah jelas bahwa menciptakan welfare state adalah dambaan setiap bangsa. Bangsa yang ‘gemah ripah loh jinawi’. Semua serba tentram tiada kekurangan sandang, pangan dan papan. Namun tidak demikian dengan suatu agama. Agama yang diturunkan lewat nabi-nabi jelas membawa bait-bait Illahiah yang dogmatis yang fair untuk para konstestan, pengikut, partisipan. Untuk itu pemahaman agama secara subtantif, nalar, produktif harus menjadi kerja besar semua umat untuk mewujudkan peradaban. Agama harus mampu menyadarkan umatnya yang terlalu teosentris menjadi antroposentris. Tidak saja ukrawi tapi juga duniawi, tanpa meninggalkan pesan-pesan Illahi. Agama masa depan adalah agama yang mampu menampilkan sosok agama dunia, agama kemanusiaan yang membawa peradaban ke arah kesejahteraan umat manusia.

 

Agama Islam dipahami mempunyai watak omnipresent (hadir di mana-mana).  Islam hadir (dihadirkan?) di ruang publik yang  netral dan hampa dari kepentingan kelompok manapun. Sehingga religiusitas Islam haruslah rahmatan lilalamin. Rahmat bagi semesta alam. Bagi tumbuhan, binatang dan manusia. Agama Islam adalah welfare religius yang menyimpan segudang resep untuk hidup nikmat dan damai dipersada semesta. Persoalannya butuh artikulasi yang tajam dan akurat didalam pemahaman dan implementasinya.

(adhitya, marburg, 25.11.2001).

 


 

Lingkungan dan Agama
Sungguh gelisah anak manusia menanggung derita bencana yang tiada henti. Bencana alam hampir terjadi di pelosok Nusantara. Keputusasaan dan derita badan serta mental menjadi manusia resah gelisah memandang masa depan. Menghadapi semua ini biasanya Tuhan Allah  s.w.t yang menguasai seluruh alam menjadi tempat mampir untuk ditanyai. Rasa religi manusia terusik dan sayangnya melibatkan Tuhan ikut bertanggung jawab atas bencana alam yang terjadi. Pemahaman bahwa bencana adalah murka Tuhan menjadi wacana teologis konvensional yang seharusnya didekonstruksi. Mengapa? Kerusakan lingkungan alam lebih cenderung pada pemahaman yang keliru atas petunjuk Illahi. Bukan karena murka Tuhan Allah s.w.t. Citra bahwa perusak lingkungan tidak lebih dari kafir ekologis lebih tepat untuk itu. Bukankah dunia masa depan adalah dunia yang ramah lingkungan?

(adhit, 24 Nopember 2001)

 


 

Agama dan Politik
Tidak dapat dipungkiri ajaran agama dimaksudkan untuk membawa manusia mengenali batas-batas kemanusiaan dan mempunyai potensi menumbuhkan peradaban. Disatu sisi banyak sekali bermunculan partai politik yang mengatasnamakan agama. Problemnya menjadi komplek bahwa sering kali agama menjadi kendaraan politik belaka. Untuk itu sangatlah mendesak untuk memposisikan  agama yang diyakini sebagai ajaran Illahi haruslah kembali di tempatkan pada tempatnya yang menyejukkan dan membawa misi kemanusiaan dan dijadikan salah satu agenda pokok untuk segera diwujudkan. Keterlibatan agama dalam politik sebaiknya tidak lagi bersifat formalistis dan simbolis semata, melainkan lebih substantif. Satu kekhawatiran jika hal ini tidak segera di lakukan adalah hanya  akan menghasilkan kontes, adu jotos, perang, dan konflik dalam pemaknaan dan penguasaan simbol-simbol keagamaan di antara berbagai kelompok politik dan umat beragama.

Hubungan religius (baca: Islam) dan politik dipandang bukan saja bersifat organis atau tidak bisa dipisahkan, tapi juga secara struktural diikat oleh sistem religius Islam yang formal. Menguatnya revivalisme agama dalam kancah politik menepis sinyalemen Samuel Huntington tentang political decay –bahwa pembangunan politik itu biasanya ditandai dengan proses rasionalisasi kekuasaan. Gus Dur mengingatkan pada kita agama adalah inspirasi bukan aspirasi. Begitu pula politik yang mengatasnamakan agama hendaknya harus diyakini dulu oleh pada pekerja politik bahwa misi agama adalah kemanusiaan itu adalah nalar tertinggi dari rahim agama itu sendiri.

 

(adhit: 1/10/2001)

 


 

‘Gerakkan nurani kita’.

Apa yang harus kita lakukan menghadapi kemiskinan ditengah krisis ekonomi yang berkepanjangan, pula  tampak mata akan hilangnya generasi mendatang itu?
Haruskah diam seribu bahasa, menanti takdir Illahi tiba?
Haruskah bergaya pengemis dan menunggu ularan tangan tiba?
Salah siapa mereka hidup berimpit, sesak dan penggap?
Salah siapa mereka mengkais sampah-sampah kota?
Salah siapa mereka bahkan menjadi sampah itu?
Relakah masa depan kita kian hitam kelam?
Relakah kita menjadi pesakitan peradaban?
Relakan kita hidup tiada makna lagi pula tiada asa?
Masihkan kita harus menyalahkan generasi lalu yang lalai?
Masih perlukah kita berdebat cari selamat?
Masihkan perlukah kita serakah lagaknya orang penuh berkah?
Masih perlukah kita saling menyalahkan si Badu dan si Fulan?
Sementara mereka tumbang, gugur tergolek tak berdaya, sekarat, sakit, terhina dan ternista…

(adhit: 23/08/2001).

 


 

Floh Markt
Jika di Indonesia orang yang sering beli dipasar loak pasti kena stigma bahwa orang tersebut pasti orang miskin. Namun, lain halnya dengan di Jerman, Floh Markt atau pasar Loak, adalah tradisi unik masyarakat Eropa termasuk Jerman yang sering diselenggarakan tiap akhir minggu. Dalam bahasa Perancis lebih dikenal Marche aux puces atau  flea market dalam bahasa Inggris.  FM ini merupakan tempat favorit hampir masyarakat pelajar Indonesia untuk mendapat barang yang murah dalam kondisi masih bagus. Uniknya masih ada sistem pasar tradisional dengan tawar menawar.

 

Dengan mengunjungi flow markt banyak hal yang bisa kita dapati, tidak saja barang layak bekas pakai, kalau beruntung kita dapat mendapatkan barang antik yang masih punya harga untuk dapat menjadi pajangan. Floh markt juga menyisipkan banyak nilai-nilai unit ditengah maraknya deru kapitalisasi modern. Dalam sistem perdagangan yang serba modern bahkan bisnis online sudah menjamur, maka floh markt adalah sebuah anomali. Dia hadir tidak saja sebagai pasar tempat pembeli dan penjual bertemu, tempat transaksi barang terjadi, ia ada lebih dari sekedar makna pasar secara ekonomi.

 

Satu yang unik terlihat adalah setiap penyelenggaraan flohmarkt terlihat anak-anak dibawa oleh bapak ibunya untuk membantu berjualan. Tidak sedikit anak-anak diminta untuk menjual boneka atau mainannya yang sudah tidak disukai di Flohmarkt tersebut. Pada titik ini yang terbersit adalah mereka mendidik anaknya untuk mandiri, untuk berani, untuk mengenal orang, untuk menghormati orang, untuk tangkas berdagang, untuk mengenal uang. Artinya ada sisi positif yang kasat mata terlihat bahwasannya menjadi mandiri ditanamkan sejak dini.

 

Flohmarkt menyisakan banyak kenangan yang tidak terlupakan. Di Goettingen, Flohmarkt dihadirkan secara regular ada yang dilakukan oleh kumpulan orang per orang ataupun lembaga masyarakat tertentu. Yang menarik adalah ada salah satu lembaga masyarakat yang membuka Flohmarkt dengan buka waktu tertentu biasanya jam 08.00 hingga jam 17.00. Transaksi bisa dilakukan dengan pedagang pada waktu itu. Setelahnya kita cukup tercenggang dibuatnya, sebab semua barang dagangan akan dihancurkan. Dan terkadang kita bisa menyaksikan proses penghancuran tersebut. Memang yang diperdagangkan di Flohmarkt ini adalah barang lama barang second hand. Tapi sungguh sayang sekali, terkadang kita sangat menginginkan barang tersebut dan tidak berhasil dalam proses transaksi dengan serta merta kita melihat proses penghancuran.

 

Yah begitulah sekelumit Flohmarkt di belahan Jerman yang terkadang menyisakan kegundahan.  @Goettingen, 2005

 

 

 

Asyik juga.

(adhit: november 2000)